Rupiah Ditaksir Fluktiatif di Kisaran Rp17.986 hingga Rp18.030
Diketahui, terjadi pelemahan indeks dolar AS dipicu oleh data inflasi Amerika Serikat yang kembali menunjukkan perlambatan. Kemudian data harga produsen (Producer Price Index/PPI) AS tercatat turun 0,3% pada Juni 2026.
Baca Juga: Kurs Dolar ke Rupiah Hari Ini 17 Juli 2026 Menguat Tipis, Cek Nilai Tukar USD IDR Terbaru
Menurut Ibrahim, data tersebut memperkuat keyakinan pasar bahwa tekanan inflasi di Negeri Paman Sam mulai mereda sehingga ekspektasi kenaikan suku bunga Federal Reserve dalam waktu dekat ikut menurun.
Namun demikian, sentimen tersebut belum mampu menghilangkan kekhawatiran investor terhadap meningkatnya tensi geopolitik di Timur Tengah.
Konflik yang kembali memanas telah mendorong harga minyak mentah naik selama empat hari berturut-turut sehingga memunculkan risiko inflasi baru dari sisi energi.
Meskipun dolar AS tertekan oleh data inflasi yang lebih rendah, pasar masih dibayangi eskalasi konflik di Timur Tengah yang mendorong kenaikan harga minyak.
"Kondisi ini membuat penguatan rupiah masih rentan berbalik arah karena investor cenderung kembali mencari aset yang lebih aman," kata Ibrahim dalam keterangannya, dikutip Jumat (17/7/2026).
Di sisi lain, sejumlah pejabat Federal Reserve masih memberikan sinyal bahwa bank sentral AS tetap berhati-hati dalam menentukan arah suku bunga.
Ketua The Fed Kevin Warsh menegaskan komitmen bank sentral untuk membawa inflasi kembali menuju target 2% serta siap menyesuaikan kebijakan apabila tekanan harga kembali meningkat.
Sementara itu, Gubernur The Fed Lisa Cook menyatakan dirinya mendukung langkah kebijakan lanjutan apabila inflasi tetap tinggi.
Presiden Federal Reserve Bank of New York John Williams juga menilai tingkat suku bunga saat ini masih berada pada posisi yang tepat untuk mengembalikan inflasi menuju sasaran.
Dari dalam negeri, pemerintah terus menyiapkan berbagai langkah untuk menjaga stabilitas inflasi, terutama pada komoditas pangan bergejolak (volatile food) dan biaya produksi industri.
Upaya tersebut dilakukan guna menekan risiko kenaikan harga barang yang dapat mengganggu daya beli masyarakat.
Sentimen positif lainnya datang dari Bank Indonesia. Lembaga pemeringkat S&P Global Ratings kembali menegaskan kepercayaan terhadap independensi BI dalam menjalankan kebijakan moneter.
Penilaian tersebut dinilai menjadi modal penting bagi bank sentral untuk menjaga stabilitas nilai tukar serta inflasi di tengah tingginya ketidakpastian global.
"Untuk perdagangan hari ini, rupiah diperkirakan bergerak fluktuatif namun berpotensi ditutup melemah pada kisaran Rp17.986 hingga Rp18.030 per USD," ujar Ibrahim.
"Pelaku pasar masih akan mencermati perkembangan konflik Timur Tengah serta pergerakan harga minyak dunia yang dapat kembali memengaruhi sentimen terhadap dolar AS," lanjut Ibrahim.
Menurutnya, selama ketidakpastian geopolitik masih tinggi, ruang penguatan rupiah cenderung terbatas meskipun fundamental domestik relatif terjaga dan tekanan inflasi global mulai menunjukkan tanda-tanda mereda.
Sementara itu, hingga pukul 13.35 WIB, Jumat (17/7/2026), rupiah terpantau menguat 62 poin (0,34%) ke level Rp19.924.