RI Bakal Gaet Perusahaan AS untuk Garap Hidrogen
Jakarta, CNBC Indonesia - Kementerian Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM) berencana menjajaki kerja sama dengan sejumlah perusahaan asal Amerika Serikat (AS) untuk mengembangkan potensi hidrogen di Indonesia. Hal tersebut mengingat Indonesia memiliki potensi hidrogen yang besar namun belum tergarap maksimal.
Wakil Menteri ESDM Yuliot Tanjung mengungkapkan bahwa AS merupakan salah satu negara yang telah maju dalam mengembangkan hidrogen sebagai sumber energi baru dan terbarukan. Berbekal teknologi dari negara tersebut, pemerintah berupaya mengakselerasi pemanfaatan potensi hidrogen di dalam negeri.
"Kemudian juga dari energi baru terbarukan yang lain, ini ada negara seperti di Amerika, mereka kan mengembangkan hidrogen untuk sumber energi. Ini kita kan memiliki indikasinya, cadangan hidrogen yang bisa ditambang kan cukup besar, tapi kita belum mengusahakan. Jadi ya kita akan kerja sama juga dengan beberapa perusahaan dari Amerika," ungkap Yuliot saat ditemui di Kantor Kementerian ESDM, Jakarta, Jumat (2/10/2026).
Yuliot menjelaskan bahwa rencana kerja sama pengembangan hidrogen tersebut juga sebagai bagian dari rangkaian agenda diplomasi dan Forum G20 untuk memperkuat ketahanan energi global.
Selain Amerika Serikat, Indonesia juga menjajaki kerja sama pertukaran teknologi energi baru terbarukan dengan beberapa negara maju lainnya seperti Norwegia, Jepang, dan Prancis.
"Dan pada saat pertemuan ini misalnya dengan beberapa negara kita ada kesepakatan ini kerja sama teknologi," imbuhnya.
Selain fokus pada potensi hidrogen bersama Amerika Serikat, Indonesia juga ingin mengadopsi pengalaman Norwegia dalam memanfaatkan potensi sungai besar untuk Pembangkit Listrik Tenaga Air (PLTA).
"Seperti Norwegia, mereka ini ketersediaan listriknya 90% itu berasal dari PLTA. Ya sementara kan kita memiliki cukup banyak juga ini potensi sungai-sungai besar tapi belum bisa kita manfaatkan secara maksimal," paparnya.
Bahlil Mau Gencarkan Hidrogen
Menteri ESDM Bahlil Lahadalia menegaskan Indonesia bisa membangun ekosistem hidrogen karena ketersediaan bahan bakunya sangat melimpah di dalam negeri. Menurutnya, hilirisasi energi tersebut sebagai solusi untuk menghadapi ketidakpastian geopolitik global yang sering mengganggu pasokan energi fosil.
"Apa yang saya mau sampaikan Bapak Ibu semua bahan baku daripada hidrogen yang ada pada bangsa kita itu tidak perlu diragukan dan ini adalah bagian yang harus terus didorong," ungkap Bahlil dalam acara Global Hydrogen Ecosystem Summit and Exhibition (GHES) 2026 di Jakarta, Selasa (21/7/2026).
Bahlil merinci bahwa hidrogen dapat diproduksi melalui berbagai instrumen sumber daya yang dimiliki Indonesia, mulai dari pemanfaatan air, gas alam, hingga pengolahan batu bara kalori rendah.
Dia mengatakan, ketersediaannya terdapat di berbagai daerah dan bisa menjadi modal agar industri hidrogen dapat berkembang secara mandiri tanpa ketergantungan impor.
"Karena hidrogen ini menghasilkan dari air, dari gas, dari batu bara low kalori. Jadi kita bisa merubah fosil kita yang dari batu bara low kalori itu bisa menjadi hidrogen dengan teknologi. Air kita punya," imbuhnya.
Potensi cadangan air untuk menunjang industri hidrogen juga tercatat sangat besar, seperti yang terdapat di Mamberamo, Papua, dengan kapasitas 21 Giga Watt (GW) serta Sungai Kayan yang mencapai 14 GW. Selain itu, pasokan gas nasional diprediksi akan melonjak menyusul penemuan cadangan baru di Kalimantan Timur serta pengembangan Blok Masela.
"Di sisi yang lain kita mempunyai kemampuan dan punya cadangan air di Mamberamo itu 21 GW sebenarnya kalau di Mamberamo itu di Papua. Di sungai Kayan kita itu 13 GW sampai 14 GW," tambahnya.
Melalui pemanfaatan sumber daya domestik tersebut, pemerintah menargetkan terciptanya swasembada energi agar Indonesia tidak lagi bergantung pada kekuatan asing. Penggunaan teknologi yang lebih efisien menjadi fokus utama pemerintah agar harga hidrogen di masa depan dapat jauh lebih kompetitif dibandingkan bahan bakar minyak fosil.
"Bagi saya adalah keberpihakan negara akan ditentukan dari yang pertama adalah tetap kita pakai energi bersih yang kedua adalah energi yang efisien dan yang ketiga adalah energi itu bisa dihasilkan dari Negara Kesatuan Republik Indonesia," tandasnya.
Direktur Jenderal Energi Baru, Terbarukan, dan Konservasi Energi (EBTKE) Kementerian ESDM Eniya Listiani Dewi mengatakan, saat ini terdapat 93 inisiatif pengembangan ekosistem hidrogen yang tersebar di berbagai wilayah Indonesia.
Dia mengatakan, potensi investasi dari pengembangan bahan bakar hijau ini diperkirakan mencapai sekitar Rp 32 triliun.
"Kami saat ini punya 93 inisiatif pengembangan ekosistem hidrogen yang projek-projeknya sudah tertera ini tersebar di seluruh Indonesia. Jadi project-project ini melahirkan Rp 32 triliun investasi yang akan kita kawal," ungkap Eniya dalam acara yang sama.
Menurut dia, pihaknya akan mengawal seluruh proyek tersebut agar dapat terealisasi sesuai arahan Menteri ESDM. Salah satu fokusnya adalah menghadirkan proyek hidrogen yang mendukung program dedieselisasi, yakni pengurangan penggunaan pembangkit listrik berbahan bakar diesel di daerah terpencil.
Ia lantas mencontohkan proyek di Sumba yang ditargetkan mulai beroperasi secara komersial (COD) pada 2028. Selain itu, proyek yang sama juga tengah dikembangkan di Pulau Rengit bekerja sama dengan PT PLN (Persero).
Eniya membeberkan, penerapan sistem tersebut berpotensi memangkas biaya pembangkitan listrik secara signifikan. Setidaknya, biaya listrik berbasis diesel yang saat ini mencapai sekitar Rp20.000 per kWh atau sekitar US$1 per kWh, dapat ditekan menjadi sekitar US$ 25 sen per kWh.
"Jadi ini salah satu upaya kita membuktikan konsep pemakaian pembangkit listrik tenaga surya untuk digunakan di wilayah remote area dan menghasilkan menggunakan hidrogen sebagai energy storage-nya atau penyimpanan energinya," katanya.
(wia)
[Gambas:Video CNBC]