Review Film: Heart of the Beast

Review Film: Heart of the Beast

Jakarta, CNN Indonesia --

Hal pertama yang bisa langsung dinikmati dari Heart of the Beast adalah sajian lanskap bentang alam yang sangat memanjakan mata. Sutradara David Ayer jelas paham bagaimana memandu penonton untuk langsung nyaman menikmati film amat minim percakapan ini.

Ayer membiarkan keheningan dan suara alam lokasi syuting di Selandia Baru yang tak terjamah manusia itu membuat penonton seolah ikut healing sejenak dan tetap mindful.

ADVERTISEMENT

SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT

Mauro Fiore yang memandu kamera juga paham betul keinginan Ayer itu. Seolah-olah sudah akrab dengan lokasi dan kenal mana spot dengan lanskap terbaik, gambar yang disajikan Fiore serasa sureal.

Perkembangan teknologi seperti sinematografi drone jelas sangat berfungsi optimal dalam mewujudkan gagasan visual seperti pada Heart of the Beast, tanpa harus terasa belagak direkam dengan kamera terbang.

Namun visual memanjakan mata itu nyatanya juga didukung dengan naskah Cameron Alexander yang seperti sungai di sana, kadang terasa jernih dan menenangkan, tapi kadang dalam, menghanyutkan, bahkan berarus jeram.

Alexander menulis naskahnya bukan dari sudut pandang 'maha tahu' yang mendiktekan kisah ke penonton. Ia membiarkan penonton memahami sendiri apa yang terjadi pada kehidupan James Belmont (Brad Pitt) dan Odin si anjing (Uber).

Hal itu jelas menjadi cara terbaik dalam menarasikan 101 menit perjalanan James dan Odin dan mengingat film ini 90 persen hanya menampilkan aksi Brad Pitt dan Uber.

Namun Alexander juga tidak menempatkan James dan Odin pada posisi seperti pembawa podcast yang terus bicara sendiri. Sering kali, percakapan hanyalah geraman, siulan, self-talk, atau percakapan selayaknya pemilik ke peliharaannya.

Heart of the Beast resmi tayang di bioskop Indonesia pada 23 September 2026. Film thriller survival ini dibintangi oleh Brad Pitt.Review Heart of the Beast: Ayer dan Alexander menjadikan perjalanan James dan Odin menelusuri hutan belantara hampir 100 kilometer sebagai proses memulihkan mental mereka. Foto: (dok. Paramount Pictures via IMDb)

Perbincangan sesama manusia seperti yang dilakukan James dengan Watkins (JK Simmons) juga sebenarnya tidak terbilang spesial. Memang ada juga line dalam rangkaian adegan itu yang bermakna dalam, seolah sebagai gambaran perjalanan James dan Odin.

Pilihan Redaksi

  • Review Film: Obsession
  • Review Film: Deep Water (2026)
  • Review Film: Hope (2026)
  • Review Film: Agensi Rumah Tangga
  • Review Film: Resident Evil (2026)

Akan tetapi aksi nyata jauh terasa lebih bermakna dibanding sekadar bicara. Hal itu terlihat dari bagaimana Ayer dan Alexander menjadikan perjalanan James dan Odin menelusuri hutan belantara hampir 100 kilometer sebagai proses memulihkan mental mereka.

Sutradara dan penulis membuat keputusan yang sangat bijak dalam menunjukkan memulihkan trauma tersebut dengan komunikasi non-verbal sepanjang perjalanan.

Brad Pitt dan Uber pun secara sempurna membawakan tugas itu. Pitt bukan hanya berperan sebagai pensiunan militer dengan trauma mendalam, tetapi juga sebagai pemilik dan teman yang mencintai juga bertanggung jawab atas peliharaannya.

Ada momen-momen yang hanya bisa dirasakan atau dialami oleh para pemilik hewan peliharaan dan digambarkan dengan sangat tepat oleh Pitt dalam film ini. Seolah, Pitt dan Uber tidak sedang memainkan peran di depan kamera.

Uber juga menampilkan akting yang luar biasa. Meski hanya menggonggong, sorotan mata Uber sebagai Odin adalah kunci utama komunikasinya kepada Pitt sebagai James. Bersyukurnya, Ayer menangkap itu semua.

Keputusan David Ayer membuat set senatural mungkin juga patut mendapatkan apresiasi. Memang ada beberapa bagian cerita yang terkesan amat didramatisir dan agak menguji nalar, tetapi untuk sebuah film drama penyintasan, semuanya masih dimaklumi.

Tim desain produksi, tata rias dan kostum, penyuntingan, dan efek patut mendapatkan kredit besar atas film ini mengingat visual Heart of the Beast yang apik dan terasa nyata tanpa berlebihan di layar lebar.

Sementara itu, meski musik yang dibawakan Jared Michael Fry memang mendukung cerita, konsistensinya masih menjadi catatan. Ada beberapa bagian yang terasa musik seolah berusaha mengambil alih fokus dari cerita dan gambarnya.

Namun semua terbayar dengan akhir perjalanan yang ditulis Cameron Alexander. Ditambah, David Ayer pun memutuskan tidak terlalu memberikan dramatisasi berlebihan pada bagian tersebut, dan memang seharusnya seperti itu.

Adegan sakral yang sangat terbantu dengan kelihaian tim tata rias dan kostum itu menggenapi perjalanan James dan Odin, walau dengan cara di luar prediksi penonton. Meski begitu, cerita itu adalah yang paling logis di antara semua pilihan.

Pada saat itulah, Heart of the Beast sebenarnya menyentuh kekhawatiran di relung terdalam hati setiap pet owner: apakah anabul kita akan baik-baik saja ketika kita sudah tidak ada?

Namun pertanyaan paling sulit tersebut dijawab sempurna oleh Cameron Alexander lewat James Belmont, bahwa akan ada waktunya kita akan bertemu dan bersama lagi dengan mereka di kehidupan yang lain.

[Gambas:Youtube]

(end)