Presiden LaLiga Kecam FIFA, Serukan Gianni Infantino untuk Mengundurkan Diri
Bagikan:
JAKARTA - Presiden LaLiga, Javier Tebas, memperingatkan bahwa perluasan Piala Dunia menjadi 64 tim akan mewakili kehancuran berkelanjutan industri sepak bola di bawah Presiden FIFA, Gianni Infantino.
Tebas secara teratur mengkritik Infantino dan melancarkan serangan lain terhadapnya saat situasi menjelang Piala Dunia 2026.
Selepas Spanyol menjadi juara Piala Dunia 2026, Tebas semakin keras mendesak Infantino untuk mengundurkan diri dari jabatannya. Apalagi, Infantino secara terang-terangan mengutarakan keinginan menambah tim untuk Piala Dunia 2030.
Masalahnya, pada edisi 2030, Spanyol akan menjadi tuan rumah bersama Portugal dan Maroko, yang direncanakan akan diikuti 64 tim.
BACA JUGA:
"Meningkatkan jumlah tim nasional tidak masuk akal. Industri sepak bola bukan hanya Piala Dunia, yang merupakan acara terpenting."
"Namun, tidak semuanya dapat berputar di sekitar Piala Dunia. Kompetisi nasional yang mendukung olahraga ini. Mereka menghancurkan industri sepak bola, industri yang menghasilkan puluhan ribu lapangan kerja, demi sebuah acara yang berlangsung selama 40 hari dan hanya diikuti oleh sebagian kecil pemain."
"Kita membutuhkan lebih sedikit tim nasional dan lebih banyak perlindungan untuk sepak bola nasional, di semua tingkatan. Mereka tidak menyadarinya. Mereka mengambil keputusan secara tidak bertanggung jawab," kata Tebas di La Gazzetta dello Sport.
Piala Dunia 2026 di Amerika Serikat, Kanada, dan Meksiko ialah pertama kali menampilkan 48 tim, dengan turnamen sebelumnya hanya diikuti oleh 32 tim nasional sejak perluasan dari 24 tim untuk edisi 1998.
Ada juga kritik terhadap FIFA dan Infantino selama enam minggu terakhir atas beberapa masalah terkait Piala Dunia 2026.
Ada keluhan tentang istirahat minum yang dipaksakan, masalah visa bagi orang-orang yang tiba di Amerika Serikat untuk turnamen, dan kehebohan seputar pemain Amerika Serikat, Folarin Balogun yang skorsingnya dibatalkan karena campur tangan Presiden Amerika Serikat, Donald Trump.
Terlepas dari semua itu, Infantino diperkirakan akan terpilih kembali untuk masa jabatan keempatnya pada Kongres FIFA pada Maret 2027. Namun, kemungkinan itu jelas tak disukai Tebas.
"Menurut pendapat saya, ya, (dia harus mengundurkan diri). Saya pikir (dia) sudah habis masa jabatannya. Namun, dia mendapat dukungan dari sistem, dari federasi, tidak banyak lagi yang perlu ditambahkan, 'kan?"
"Tidak ada kandidat oposisi, tidak ada yang ingin mencalonkan diri untuk kalah. Inilah sistemnya dan sistem ini sakit dari akarnya."
"Akhir-akhir ini di Amerika Serikat, saya mendengar banyak orang menentang Infantino, yang tidak setuju dengan apa yang dia lakukan. Mereka mengatakannya, tetapi kemudian mereka tidak melakukan apa pun."
"Saya tidak tahu apakah diam atau bersekongkol lebih buruk. Soalnya, mereka yang diam sangat menyadari kerusakan yang diderita sepak bola."
"Pembatalan skorsing pemain Amerika Serikat (Balogun) ialah sesuatu yang sangat serius. Mereka beruntung karena Belgia menyingkirkan Amerika Serikat (di babak 16 besar). Jika tidak, kasus itu bisa membuat Infantino kehilangan pekerjaannya."
"Karena Belgia menang, mereka berhasil mengubur masalah ini. Namun, hal-hal ini hanyalah puncak gunung es. FIFA mengatur segala sesuatunya sesuai keinginannya, untuk kepentingannya sendiri, tentu bukan untuk sepak bola."
"Jadi, jika mereka membutuhkan waktu istirahat 27 menit, mereka melakukannya. Istirahat untuk minum itu bohong. Kami punya istirahat seperti itu di LaLiga, tapi hanya saat cuaca sangat panas."
"Di sini, stadion-stadion di Dallas, Los Angeles, dan Atlanta memiliki pendingin udara. Saya harus memakai sweter di tribun. Itu bohong, istirahat untuk iklan," tutur Tebas.
Add VOI as a Preferred Source
Follow VOI news updates across Google.
+