Pindah ke Motor Listrik Bisa Bikin Hidup Naik Kelas?
Jumat, 14 Agustus 2026 - 17:14 WIB
Jakarta, VIVA – Peralihan dari motor berbahan bakar bensin ke motor listrik mulai membawa perubahan pada biaya operasional kendaraan. Selain tidak menggunakan bensin, kendaraan listrik juga menawarkan biaya energi yang lebih rendah dalam sejumlah penggunaan, sehingga pengeluaran untuk mobilitas dapat berkurang.
Baca Juga
Salah satu gambaran datang dari Pos Indonesia yang menggunakan kendaraan listrik untuk mendukung operasional kurir sejak 2023. Courier Operation Vice President Pos Indonesia Fernanda Windy Rahmanto mengatakan biaya energi satu kurir sebelumnya mencapai sekitar Rp750 ribu per bulan saat menggunakan kendaraan berbahan bakar fosil.
ADVERTISEMENT
GULIR UNTUK LANJUT BACA
“Kalau dari sisi kelebihannya, memang lebih hemat ya. Kalau kami menggunakan bahan fosil itu, kalau dirupiahkan dalam satu bulan kami menghabiskan sekitar Rp750.000 per bulan. Tetapi dengan EV ini, satu kurir satu bulan itu hanya habis sekitar Rp250.000,” ujarnya, dikutip VIVA Otomotif dari Sekretariat Presiden, Jumat 14 Agustus 2026.
Baca Juga
Berdasarkan angka tersebut, biaya energi berkurang sekitar Rp500 ribu per bulan atau sekitar 66,7 persen. Jika dihitung selama satu tahun, selisih pengeluaran mencapai sekitar Rp6 juta.
Angka tersebut merupakan pengalaman operasional Pos Indonesia dan tidak otomatis berlaku untuk seluruh pengguna motor listrik. Besarnya penghematan dipengaruhi jarak tempuh, pola penggunaan, konsumsi listrik, tarif listrik, serta kondisi kendaraan.
Baca Juga
Meski demikian, pengurangan biaya energi dapat mengubah porsi pengeluaran rumah tangga. Uang yang sebelumnya digunakan untuk membeli bensin dapat dialihkan untuk kebutuhan lain, seperti makanan, pendidikan, kesehatan, cicilan maupun tabungan.
Badan Pusat Statistik melalui Survei Sosial Ekonomi Nasional (Susenas) secara rutin mencatat pengeluaran konsumsi rumah tangga. Data tersebut menggambarkan bagaimana pendapatan masyarakat dialokasikan untuk berbagai kebutuhan dan menjadi salah satu sumber informasi dalam penyusunan kebijakan sosial dan ekonomi.
ADVERTISEMENT
GULIR UNTUK LANJUT BACA
Biaya energi juga menjadi bagian dari persoalan daya beli ketika terjadi kenaikan harga. Dalam kajiannya mengenai dampak kenaikan harga pada 2022, Bank Dunia mencatat kenaikan harga pangan, BBM, listrik dan transportasi dapat memberikan tekanan terhadap daya beli rumah tangga, terutama kelompok berpendapatan lebih rendah.
Temuan tersebut menunjukkan bahwa perubahan biaya energi dapat memengaruhi kondisi keuangan rumah tangga. Ketika pengeluaran energi meningkat, bagian pendapatan yang tersedia untuk kebutuhan lain dapat berkurang.
Halaman Selanjutnya
Sebaliknya, apabila biaya energi kendaraan dapat ditekan, terdapat ruang pengeluaran yang dapat digunakan untuk kebutuhan lain. Namun, besarnya manfaat yang diterima setiap rumah tangga tetap bergantung pada jumlah penggunaan kendaraan dan besarnya biaya yang dapat dihemat.