'Perang' Nike dan adidas di Piala Dunia 2026, Siapa Pemenangnya?

'Perang' Nike dan adidas di Piala Dunia 2026, Siapa Pemenangnya?

New York City - Persaingan Nike dan adidas di ajang Piala Dunia tak hanya terjadi di lapangan melalui tim-tim yang mereka sponsori, tetapi juga di pasar perlengkapan olahraga. Memasuki fase akhir turnamen...

New York City -

Persaingan Nike dan adidas di ajang Piala Dunia tak hanya terjadi di lapangan melalui tim-tim yang mereka sponsori, tetapi juga di pasar perlengkapan olahraga. Memasuki fase akhir turnamen, Nike dinilai lebih dominan dari sisi pemasaran, sementara adidas unggul dalam penjualan produk, terutama jersey tim nasional.

Berdasarkan riset M Science, ada tiga merek olahraga dunia yang sama-sama memperoleh dampak positif dari euforia Piala Dunia 2026. Mereka adalah adidas, Nike, dan Puma. Namun, pertumbuhan penjualan adidas tercatat melampaui dua pesaingnya.

ADVERTISEMENT

SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT

Soccer Football - FIFA World Cup 2026 - Quarter Final - Norway v England - Miami Stadium, Miami Gardens, Florida, U.S. - July 11, 2026 England's Jude Bellingham celebrates scoring their second goal REUTERS/Mike Segar     TPX IMAGES OF THE DAYJude Bellingham, dengan jersey buatan Nike, merayakan kemenangan Inggris atas Swiss di semifinal Piala Dunia 2026. (Foto: REUTERS/Mike Segar)

Analis M Science, Drake MacFarlane, mengatakan pihaknya memantau tren penjualan melalui data transaksi kartu kredit, kartu debit, hingga rekening bank yang telah dianonimkan. Data tersebut mencakup penjualan langsung ke konsumen (direct-to-consumer) maupun melalui jaringan ritel.

Menurut MacFarlane, lonjakan penjualan adidas dalam beberapa pekan terakhir terutama didorong oleh kategori apparel, khususnya jersey sepak bola. Sementara itu, upaya Nike memperkuat eksistensi di sepak bola global memang berdampak positif terhadap penjualan pakaian olahraga, tetapi belum cukup untuk memperbaiki performa kategori alas kaki.

"Pertumbuhan apparel adidas jauh lebih kuat selama periode Piala Dunia. Setelah turnamen berakhir, kategori sepatu kemungkinan akan kembali menjadi fokus utama," ujar MacFarlane kepada Footwear Network.

Di sisi lain, Nike yang memiliki lini apparel lebih besar dibanding adidas mencatat tren positif pada awal Juni, terutama di pasar Amerika Serikat, salah satu negara tuan rumah Piala Dunia 2026.

Pertumbuhan penjualan pakaian berhasil mengimbangi performa yang masih beragam di kategori sepatu. Meski demikian, MacFarlane menilai dampak Piala Dunia terhadap penjualan Nike masih lebih terkonsentrasi di pasar AS.

adidas Kuasai Pasar Jersey Tim Nasional

Data M Science menunjukkan adidas mendominasi penjualan jersey tim nasional selama tiga pekan pertama Juni. Pangsa pasarnya mencapai sekitar 58 persen, jauh di atas Nike yang menguasai 36 persen dan Puma sebesar 6 persen.

Selain di Amerika Serikat, adidas juga mencatat pertumbuhan penjualan di pasar Eropa berdasarkan data transaksi digital yang dipantau M Science.
Sementara itu, Puma juga memperoleh manfaat dari Piala Dunia, meski skalanya lebih kecil. Seperti Nike, peningkatan penjualan Puma lebih banyak terjadi di pasar AS, sedangkan dampaknya di Eropa tidak terlalu signifikan.

Temuan serupa juga diungkap Telsey Advisory Group (TAG) melalui pemantauan langsung di sejumlah gerai ritel. Menurut analis TAG, Cristina Fernández, adidas yang bulan lalu membuka toko terbesarnya di Indonesia menawarkan koleksi Piala Dunia yang lebih lengkap, mulai dari bola, sepatu, aksesori, hingga jersey.

"Secara keseluruhan, adidas menjadi merek yang paling berhasil memanfaatkan penjualan merchandise Piala Dunia hingga saat ini. Namun, produk Nike juga menunjukkan penjualan yang kuat," kata Fernández.

Ia menambahkan, Nike telah menjual kit tim nasional sekitar 2,5 kali lebih banyak dibanding periode yang sama pada Piala Dunia 2022. Pertumbuhan tersebut turut didukung performa tim-tim yang menggunakan perlengkapan Nike dan masih bertahan dalam kompetisi.

Soccer Football - FIFA World Cup 2026 - Group I - Norway v France - Fans gather in New York - Brooklyn, New York, New York, U.S. - June 26, 2026 An Adidas advert featuring Spain's Lamine Yamal is towed along on the East River past the Brooklyn Bridge REUTERS/Jordan Tovin     TPX IMAGES OF THE DAYIklan adidas yang menampilkan figur raksasa pemain Spanyol Lamine Yamal melintas di sungai East River, New York City, AS. (Foto: REUTERS/JORDAN TOVIN)

Di gerai flagship adidas di Fifth Avenue, New York, area Piala Dunia menjadi pusat perhatian dengan koleksi jersey tim nasional, sepatu sepak bola, sandal, bola, hingga aksesori untuk pria, wanita, dan anak-anak. Sebagian besar produk dijual dengan harga normal tanpa potongan.

Sementara itu, toko Nike di lokasi yang sama juga menampilkan jersey Piala Dunia di area depan. Menurut Fernández, layanan kustomisasi jersey menjadi salah satu area dengan pengunjung paling ramai.

Secara umum, TAG menemukan promosi di gerai adidas dan Nike relatif terbatas. Diskon yang lebih besar justru terlihat di jaringan peritel seperti Dick's Sporting Goods dan Foot Locker.

Tren Setelah Piala Dunia

MacFarlane menilai strategi Nike memperbarui lini sepatu sepak bola Mercurial, Tiempo, dan Phantom dalam kurun satu tahun belum tentu memberikan dampak signifikan terhadap bisnis secara keseluruhan.

Menurutnya, sebagian besar konsumen Nike membeli produk bergaya kasual atau lifestyle sehingga penjualan sepatu sepak bola tidak akan banyak mengubah kinerja perusahaan.

Sebaliknya, adidas dinilai berhasil menjaga momentum tren alas kaki dalam beberapa tahun terakhir. Produk sneakers seperti Samba, Gazelle, dan Spezial sempat menjadi motor utama penjualan sepatu.

Meski popularitas lini tersebut sempat melambat, MacFarlane melihat permintaan, terutama untuk adidas Samba, mulai kembali meningkat. "Yang mengesankan dari adidas adalah kemampuan mereka tetap berada di garis depan tren sepatu. Setelah sukses dengan Samba, mereka sudah mulai mengembangkan tren berikutnya," ujarnya.

(dtg/dtg)