Paten Baru Yamaha Ungkap Skuter Hybrid dengan Dua Motor Listrik
Bagikan:
JAKARTA - Yamaha kembali membuka jalan lama yang sempat tertunda. Pabrikan Jepang itu sedang mengembangkan skuter hybrid dengan dua motor listrik, satu mesin pembakaran, transmisi CVT, dan kopling otomatis.
Cycle World dikutip Jumat, 10 Juli, melaporkan, teknologi itu terlihat dalam permohonan paten terbaru Yamaha. Dokumen tersebut memperlihatkan cara kerja sistem penggerak Proto HEV dan bagaimana teknologi itu bisa dipasang pada skuter maxi dengan bentuk yang tetap konvensional.
Langkah ini menarik karena Yamaha sebenarnya sudah lama bermain dengan gagasan motor hybrid. Namun, hingga 2026, pabrikan itu belum memiliki sepeda motor hybrid dalam jajaran produk massalnya.
Jejak Yamaha di teknologi ini sudah dimulai sejak 2005 lewat konsep Gen-Ryu. Motor bergaya cruiser-tourer art deco itu memadukan motor listrik dengan mesin empat silinder segaris 599 cc milik YZF-R6.
Sistemnya memakai transmisi planetary ala Toyota Prius untuk menyeimbangkan tenaga mesin dan motor listrik. Gagasan itu berlanjut pada 2007 dan 2008 lewat konsep HV-X.
BACA JUGA:
HV-X memakai mesin dua silinder paralel dari skuter TMax 500. Yamaha kembali menggunakan transmisi planetary untuk menggabungkan tenaga mesin pembakaran dan motor listrik.
Yamaha dan Toyota memang lama bekerja sama dalam berbagai proyek. Ketika Toyota Prius kuat di pasar global, teknologi hybrid mulai dilirik untuk sepeda motor.
Namun, HV-X tidak pernah masuk produksi. Setelah krisis ekonomi global 2008, banyak pabrikan memangkas anggaran riset dan menarik diri dari proyek baru yang dianggap berisiko, termasuk teknologi hybrid.
Kini, arah itu kembali dibuka. Tahun lalu, Yamaha memperkenalkan dua prototipe hybrid, yakni Proto PHEV dan Proto HEV.
Proto PHEV adalah motor naked tiga silinder berbasis MT-09 dengan sistem plug-in hybrid untuk meningkatkan performa dan menekan emisi. Sementara Proto HEV memakai mesin satu silinder, dua motor listrik, dan transmisi CVT sabuk bergaya twist-and-go.
CVT atau Continuously Variable Transmission adalah transmisi otomatis yang menyalurkan tenaga secara halus tanpa perpindahan gigi tetap. Pada skuter, pengendara cukup memutar gas tanpa perlu memindahkan gigi.
Dalam paten Yamaha, Proto HEV digambarkan sebagai hybrid seri-paralel. Artinya, skuter bisa berjalan dengan tenaga listrik saja, mesin pembakaran saja, atau gabungan keduanya.
Kuncinya ada pada dua unit motor-generator listrik. Motor pertama ditempatkan di belakang unit swingarm sekaligus transmisi skuter dan bekerja langsung ke roda belakang.
Motor ini mendapat daya dari paket baterai besar di antara kaki pengendara. Dalam mode listrik penuh, mesin pembakaran mati dan diputus dari CVT melalui kopling elektromagnetik.
Motor belakang juga bisa membantu mengisi ulang baterai saat skuter melambat. Proses ini disebut regenerasi daya, yakni mengubah energi saat kendaraan melambat menjadi listrik untuk baterai.
Motor kedua terpasang pada poros engkol mesin. Fungsinya ganda, sebagai motor dan generator. Saat baterai melemah sampai batas tertentu, mesin pembakaran bisa menyala otomatis.
Ketika kopling elektromagnetik terlepas dari CVT, mesin dapat bekerja pada putaran konstan yang lebih efisien untuk menggerakkan generator dan mengisi ulang baterai. Dengan cara ini, mesin berperan sebagai penambah jarak tempuh, sementara skuter tetap berjalan dalam mode listrik.
Jika pengendara membutuhkan tenaga lebih besar, kopling otomatis akan aktif. Mesin pembakaran tersambung ke transmisi CVT untuk menggerakkan roda belakang seperti skuter matik biasa.
Pada saat bersamaan, motor-generator depan tetap mengisi ulang baterai. Motor belakang juga dapat membantu mesin dalam mode hybrid paralel.
Yamaha juga menyiapkan mode dorongan untuk performa. Dalam mode ini, motor listrik depan dan belakang ikut membantu mesin pembakaran agar torsi dan tenaga di roda belakang lebih besar.
Cycle World menyebut paten Yamaha berfokus pada dua hal. Pertama, cara sistem berpindah antarmode secara otomatis tanpa campur tangan pengendara. Komputer penggerak harus mengatur kerja dua motor listrik, regenerasi daya, bukaan gas mesin, serta aktif dan nonaktif kopling.
Perpindahan itu harus halus. Pengendara tidak perlu pusing memikirkan apakah tenaga sedang datang dari baterai, mesin, atau gabungan keduanya.
Fokus kedua adalah penempatan sistem hybrid tersebut pada skuter yang bentuknya tetap praktis. Ilustrasi paten menunjukkan komponen dapat dikemas ke bodi skuter dengan dek kaki dan panel depan seperti skuter maxi pada umumnya.
Peluang skuter seperti Proto HEV bisa terbuka lebih besar seiring banyak kota di dunia menerapkan zona nol emisi. Skuter ini bisa melaju dengan mode listrik penuh di area tertentu, tetapi tetap punya jarak tempuh dan kemudahan isi bahan bakar dari mesin pembakaran.
Add VOI as a Preferred Source
Follow VOI news updates across Google.
+