OJK Kediri: Literasi keuangan syariah perlu diperkuat - ANTARA News Jawa Timur
Kediri (ANTARA) - Otoritas Jasa Keuangan (OJK) Kediri, Jawa Timur, menilai literasi dan inklusi keuangan syariah di Indonesia perlu diperkuat karena capaian indeksnya masih tertinggal dibandingkan indeks keuangan secara umum.
Kepala OJK Kediri sekaligus Pembina Forum Komunikasi Industri Jasa Keuangan (FKIJK) Komisariat Kediri dan Madiun Ismirani Saputri menekankan perlunya edukasi tentang penguatan literasi keuangan syariah.
"Data hasil SNLIK dan sebaran kantor LJK memperlihatkan bahwa porsi lembaga keuangan syariah memang masih lebih kecil dibandingkan konvensional/non-syariah. Namun, kondisi tersebut sekaligus menjadi peluang untuk memperluas akses, meningkatkan literasi, dan memperkuat ekosistem keuangan syariah," katanya di sela kegiatan Financial Journalist Class Sesi 2 di BSI KCP Kediri Bandar, Kota Kediri, Kamis.
Berdasarkan hasil Survei Nasional Literasi dan Inklusi Keuangan (SNLIK) 2026, indeks literasi keuangan syariah nasional tercatat 43,07 persen dan indeks inklusi keuangan syariah sebesar 13,24 persen. Angka tersebut masih di bawah indeks literasi keuangan nasional sebesar 69,57 persen dan inklusi keuangan nasional sebesar 93,61 persen.
Di Jawa Timur, indeks literasi keuangan syariah tercatat 43,41 persen, sedangkan indeks literasi keuangan komposit mencapai 72,07 persen. Adapun indeks inklusi keuangan syariah sebesar 12,64 persen, sementara indeks inklusi keuangan komposit mencapai 91,86 persen.
Ismirani mengatakan kondisi tersebut menunjukkan masih besarnya ruang untuk meningkatkan pemahaman dan pemanfaatan layanan keuangan syariah di masyarakat.
Menurut dia, pengembangan keuangan syariah membutuhkan sinergi antara OJK, pemerintah daerah, pelaku usaha jasa keuangan, media, komunitas, dan pemangku kepentingan lainnya agar masyarakat semakin mengenal dan memahami produk keuangan syariah.
Ia berharap melalui kegiatan ini sinergi antara industri jasa keuangan dan insan pers semakin kuat sehingga informasi mengenai perkembangan, produk, dan layanan keuangan syariah dapat disampaikan secara edukatif, akurat, dan bermanfaat bagi masyarakat.
Dalam kegiatan yang diikuti jurnalis dari wilayah Kediri dan Madiun Raya tersebut, sejumlah pelaku industri jasa keuangan juga memaparkan perkembangan layanan syariah.
BSI Area Kediri antara lain menyampaikan perkembangan layanan haji dan Bank Bullion, termasuk Tabungan Emas dan Cicil Emas.
Hingga Juli 2026, BSI wilayah Kediri dan sekitarnya mencatat pertumbuhan jumlah rekening baru sebesar 15,03 persen secara tahunan, dana haji 16,73 persen, serta pertumbuhan jumlah rekening Tabungan Emas 1.175,30 persen dan gramasi 152,37 persen secara tahunan.
Sementara itu, Adira Finance menyampaikan bahwa penyaluran pembiayaan baru berbasis syariah mencapai Rp9,8 triliun sepanjang 2025 atau sekitar 23 persen dari total pembiayaan baru perusahaan.
Direktur Utama PT BPRS Tunas Artha Jaya Abadi Triyas Nurzain mengatakan pihaknya turut mendorong pemberdayaan pelaku usaha mikro melalui pembiayaan dengan akad murabahah dan musyarakah.
"Hingga Juni 2026, outstanding pembiayaan BPRS tersebut mencapai Rp56 miliar, dengan Rp27 miliar di antaranya merupakan pembiayaan modal kerja," kata Triyas.
Pewarta: Asmaul Chusna
Editor : Vicki Febrianto
COPYRIGHT © ANTARA 2026
Dilarang keras mengambil konten, melakukan crawling atau pengindeksan otomatis untuk AI di situs web ini tanpa izin tertulis dari Kantor Berita ANTARA.