Norwegia kontra Inggris: Rumusnya masih sama, Haaland lumpuh Anda menang

Norwegia kontra Inggris: Rumusnya masih sama, Haaland lumpuh Anda menang

Setiap tim yang akan menghadapi Norwegia selalu menyiapkan strategi bagaimana menjinakkan atau bahkan melumpuhkan striker mereka, Erling Haaland. Itu pula yang ada dalam ANTARA News kalteng 7 ...

Norwegia kontra Inggris: Rumusnya masih sama, Haaland lumpuh Anda menang

Sabtu, 11 Juli 2026 09:17 WIB

Image Print

Pesepak bola Norwegia Erling Haaland berselebrasi usai mencetak gol ke gawang Brazil dalam laga 16 besar Piala Dunia 2026 di New York New Jersey Stadium, Amerika Serikat, Senin (6/7/2026). Dua gol dari Haaland berhasil membawa Norwegia mengalahkan Brazil dengan skor 2-1. ANTARA FOTO/Xinhua/Xu Zijian

Jakarta (ANTARA) - Setiap tim yang akan menghadapi Norwegia selalu menyiapkan strategi bagaimana menjinakkan atau bahkan melumpuhkan striker mereka, Erling Haaland.

Itu pula yang ada dalam pikiran pelatih Inggris Thomas Tuchel ketika Three Lions bertemu Norwegia dalam perempatfinal Piala Dunia 2026 di Miami Stadium, Florida, Amerika Serikat, pada Minggu (12/7) pukul 04.00 WIB.

Norwegia memang bukan hanya Haaland karena mereka masih punya pemain-pemain hebat seperti Martin Odegaard, Sander Berge, Orjan Nyland atau lainnya, tapi Haaland adalah faktor gol utama Norwegia yang membunuh permainan lawan.

58 persen dari total 12 gol Norwegia dan 33 persen dari total peluang gol yang dibuat tim asuhan Stale Solbakken itu selama Piala Dunia 2026 tercipta dari kaki dan kepala Haaland.

Lain dari itu, sejak kalah 1-2 dari Austria dalam UEFA Nations League pada 4 September 2020, Norwegia tak pernah kalah ketika Haaland turun bermain bersama mereka.

Sebaliknya, seperti saat digebuk Prancis 1-4 dalam fase grup, Norwegia bisa kalah jika Haaland tak bermain.

Haaland sungguh striker murni paling klinis di dunia, yang memiliki kemampuan fantastis dalam memadukan penyelesaian akhir yang mematikan. Kecepatannya dalam berlari serta bacaan tajamnya terhadap kecenderungan pertandingan, dengan kesadarannya yang tinggi dalam menciptakan ruang tembak, begitu brilian.

Dengan tinggi badan 1,95 meter dan berat 94 kg, Haaland terlalu sulit dijaga oleh pemain mana pun. Dia juga bisa berlari dalam kecepatan mematikan yang sulit dikejar lawan.

Haaland juga sangat efisien. Alih-alih terlibat membangun serangan, dia akan mengatur gerakan dan energi dengan cermat, hanya untuk momen-momen menentukan yang sering gagal dibaca pemain-pemain yang menjaganya.

Otaknya bekerja sama keras dan sama cepat dengan kecepatannya dalam berlari dan mengambil keputusan. Dia tak akan lama-lama mengolah atau menyentuh bola.

Kebanyakan peluang dan gol yang dia ciptakan terjadi dari satu sentuhan ketika lawan belum menyadari bagaimana dia memperlakukan bola. Uniknya, dari peluang sekecil apa pun dia kerap mengubahnya menjadi gol penentu nasib timnya.

Bayangkan, 17 dari total 18 peluang gol yang dia buat selama Piala Dunia 2026 sejauh ini hanya dari satu sentuhan langsung.

Dia sungguh produktif, bahkan dalam pertandingan ketika dia jarang menguasai bola, penyelesaian akhirnya tetaplah sangat tajam.

Kedua golnya ke gawang Brasil dalam babak 16 besar, terutama yang pertama, tercipta dari keadaan itu, ketika dengan jeli dia meloloskan diri dari penjagaan para bek Brasil, tanpa mengeluarkan energi berlebihan.


Tiga bek tengah

Kepada The Athletic belum lama ini, profesor sepak bola Norwegia, Geir Jordet, menilai Haaland sangat menyadari lawan dan situasi yang mengitarinya dan hal ini membantunya dalam menentukan di mana seharusnya dia berada untuk mencetak gol atau menciptakan peluang.

Kesadarannya dalam menyadari "positioning" dirinya lebih cepat dari rata-rata striker top. Jika striker biasa perlu berpikir 2,5 sampai 3 kali dalam 10 detik sebelum menerima bola, maka Haaland bisa empat sampai lima kali berpikir, sepuluh detik sebelum menerima bola.

Akibatnya, menjaga Haaland adalah juga membaca pikirannya. Sayang, sangat sedikit pemain, kalau bukan tidak ada, yang bisa membaca pikiran Haaland.

Dengan kemampuan fisik dan pikirannya untuk bekerja seirama itu, menjaga Haaland selama 90 menit adalah tugas yang melelahkan secara fisik dan mental, apalagi jika hanya mengandalkan dua penjaga.

Jika melihat bagaimana Irak, Senegal, Pantai Gading, dan Brasil, dalam membarikade pertahanannya dari invasi Haaland, mengerahkan dua bek tengah tidaklah cukup.

Dalam konteks ini, Inggris perlu mengerahkan tiga bek tengah, yang salah satunya ditugaskan menempel ketat Haaland.

Tuchel mungkin tergoda memasang tiga bek tengah, yang tak pernah dia gunakan selama bersama timnas Inggris, tapi sering dia pakai ketika menjadi manajer Chelsea.

Manakala harus mengadopsi pola ini, Tuchel mesti rela memangkas jumlah gelandangnya menjadi empat.

Dua gelandang tengah akan ditempatkan sejajar dengan dua bek sayap, dan dua gelandang serang menyokong ujung tombak tunggal, Harry Kane, dalam pola 3-4-2-1.

Masalahnya, dari lima pertandingan terdahulu, Inggris kerap memanfaatkan lebar lapangan, terutama sayap kanan, di mana Bukayo Saka beroperasi.

Memasang formasi kesukaan Tuchel di Chelsea bisa mengorbankan pemain-pemain seperti Saka, yang aktif membongkar pertahanan lawan dari sayap.

Pertanyaan lainnya adalah jika Senegal, Pantai Gading dan Brasil saja gagal mematikan Haaland, mengapa Inggris akan berhasil?

Bisa berhasil jika Inggris berkaca pada pengalaman tim yang berhasil melumpuhkan Haaland, dan tahun ini ada dua tim yang sukses membungkam Haaland, yakni Maroko dan Swiss, yang memaksa Norwegia seri dalam dua laga persahabatan menjelang Piala Dunia 2026.

Maroko dan Swiss sendiri menerapkan dua cara berbeda dalam mematikan Haaland.


Dari kiper pun jadi

Maroko sampai mengorbankan diri menjadi sasaran hujan umpan silang Norwegia, karena pemain-pemain mereka fokus mengerumuni Haaland dan Alexander Sorloth.

Ini membuat kedua sayap Norwegia menjadi bebas bergerak, tapi keadaan ini masih lebih baik ketimbang membiarkan Haaland bebas berkeliaran.

Maroko juga menugaskan bek tengah tinggi besar Issa Diop untuk menempel ketat Haaland.

Hasilnya, hanya lima dari 24 umpan silang Norwegia yang sampai kepada Haaland.

Swiss lain lagi. Memasang formasi tiga bek tengah, mereka menugaskan Manuel Akanji dan Nico Elvedi untuk mematikan Haaland. Hasilnya, tim asuhan Solbakken hanya bisa menuntaskan delapan umpan silang.

Model bermain Maroko dan Swiss itu bisa diadopsi Tuchel untuk mematikan Haaland.

Inggris memang sudah tujuh kali mengalahkan Norwegia dalam 12 pertemuan dalam kurun 1937-2014, ketika Norwegia hanya menang dua kali.

Tapi hasil baik di masa lalu tak bisa menjadi patokan untuk mengukur performa saat ini, mengingat skuad Norwegia saat ini diperkuat oleh striker paling berbahaya di dunia saat ini, Erling Haaland, yang debut bersama timnas Norwegia pada 2019.

Faktor Haaland di Norwegia mirip faktor Lionel Messi di Argentina sekarang dan faktor Maradona di Argentina masa lalu.

Mematikan ketiga pemain itu, dan merusak suplai bola kepada mereka, adalah cara terbaik untuk mengalahkan mereka.

Masalahnya, baik Messi, Maradona maupun Haaland, tak bisa dijinakkan secara fisik semata atau oleh satu formula saja, terutama karena otak mereka tak henti berpikir mencari jalan keluar, bukan hanya untuk melepaskan diri dari kawalan lawan, tapi juga untuk memanfaatkan peluang sekecil apa pun menjadi gol.

Dalam konteks Norwegia, andai pun lini-lini lain tak bisa mengimbangi Inggris, Solbakken bisa menugaskan kiper Orjan Nylan untuk aktif merancang serangan lewat umpan-umpan jauhnya yang terukur yang kerap mengagetkan lawan dan sekaligus mengaktifkan syaraf teror dalam sistem serangan Norwegia yang berintikan Haaland.

Solbakken mungkin tak peduli seberapa sering Harry Kane, Jude Bellingham, Saka, Anthony Gordon dan lainnya mengancam gawang Norwegia, atau apakah duet Declan Rice dan Elliot Anderson kembali mendominasi lini tengah.

Sepanjang semua itu tak mengurangi ancaman Haaland di depan gawang Inggris, Norwegia akan baik-baik saja.

Sebaliknya, jika Inggris bisa mendiamkan Haaland, maka Norwegia berada dalam masalah besar, karena sepertiga kekuatannya hilang mengingat Haaland mengambil porsi 33 persen dari peluang yang dibuat The Lions.

Pewarta : Jafar M Sidik
Uploader: Admin 1
COPYRIGHT © ANTARA 2026

Dilarang keras mengambil konten, melakukan crawling atau pengindeksan otomatis untuk AI di situs web ini tanpa izin tertulis dari Kantor Berita ANTARA.