Negara Muslim Ini Diam-Diam Bocorkan Rahasia Pemimpin Arab ke Israel
Jakarta, CNBC Indonesia - Di saat para pemimpin negara Arab berkumpul untuk membahas strategi menghadapi Israel, sebuah operasi rahasia justru berlangsung dari dalam ruang pertemuan mereka. Intelijen negara Muslim Maroko diam-diam merekam pembicaraan para pemimpin Arab dan kemudian menyerahkan hasilnya kepada Israel.
Peristiwa tersebut terjadi pada 1965 ketika para pemimpin negara-negara Arab, komandan militer, dan kepala intelijen tiba di Casablanca, Maroko, untuk menghadiri Konferensi Tingkat Tinggi Liga Arab. Para tamu tersebut merupakan perwakilan Mesir, Suriah, Yordania, dan negara-negara Arab lainnya.
Konferensi itu digelar untuk membahas kesiapan militer menghadapi Israel. Dalam pertemuan tersebut, mereka membeberkan kekuatan pasukan, persenjataan, hingga strategi menghadapi kemungkinan perang. Bahkan, Raja Yordania dan Presiden Mesir dikabarkan berdebat mengenai strategi untuk mengalahkan Israel.
Namun, tanpa diketahui para peserta, Raja Hassan II dari Maroko ternyata mengizinkan badan intelijen Israel, Mossad, untuk memantau konferensi tersebut secara ketat.
Pilihan Redaksi
- Kapal Tenggelam Gegara Pintu Tak Sengaja Copot, 852 Orang Tewas
- Ini Mesin Penggerak Ekonomi Tertua di Dunia, Terbukti Buat Negara Kaya
- Inflasi Minggir, Fenomena Baru Muncul Bernama "Funflation"
- Tok! MK Tolak Gugatan soal Pemilu, Semua Sah-Pemerintahan Lanjut
"Sebuah tim gabungan yang dipimpin oleh Peter Zvi Malkin dan Rafi Eitan dari dinas keamanan internal Israel dan Mossad tiba di Casablanca, dan pihak Maroko menutup seluruh lantai hotel untuk mereka," ungkap mantan kepala Intelijen Militer, Mayor Jenderal Shlomo Gazit, kepada situs berita Israel, Ynet.
Akan tetapi, di tengah pertemuan, Raja Hassan II meminta Mossad menghentikan aksi tersebut karena khawatir keberadaan mereka diketahui. Sebagai gantinya, intelijen Maroko akan diam-diam merekam dan melaporkan seluruh pembicaraan para pemimpin negara Arab tersebut kepada Israel.
Dua tahun kemudian, ketika pecah pertempuran antara Israel dan negara-negara Arab, rekaman tersebut disebut menjadi salah satu informasi penting bagi Israel. Sejarah mencatat, dalam perang yang dikenal sebagai Perang Enam Hari, Israel berhasil mengalahkan negara-negara Arab yang terlibat dalam konflik tersebut karena mengetahui strategi perang.
Atas dasar inilah, mengutip laporan situs berita Israel, Ynet, Perdana Menteri Levi Eshkol menggambarkan operasi pada 1965 tersebut sebagai "salah satu keberhasilan terbesar intelijen Israel".
Operasi itu menjadi salah satu fragmen kerja sama rahasia antara Maroko dan Israel yang telah terjalin sejak 1963. Dalam riset berjudul "Israel and Morocco: From Clandestine Partnership to the Abraham Accords", kerja sama awal kedua negara terjadi ketika Raja Hassan II berkuasa.
Hassan II memilih menjalin hubungan dengan blok Barat yang dipimpin Amerika Serikat, alih-alih berpihak pada negara-negara Muslim dan blok Timur. Salah satu kebijakannya ialah memfasilitasi emigrasi sekitar 100 ribu orang Yahudi Maroko ke Israel-Palestina, Amerika Serikat, Kanada, dan Prancis.
Saat itu, Maroko memiliki komunitas Yahudi terbesar di dunia Arab, dengan sekitar 270.000 orang Yahudi Maroko yang tinggal di kerajaan tersebut.
Sebagai gantinya, Maroko menerima pembayaran dari Israel. Namun, memasuki dekade 1980-an, hubungan Maroko dan Israel mulai terbuka ke publik. Kedua negara mulai saling bertemu dan menjalin hubungan melalui pendirian kantor penghubung.
Hubungan tersebut kemudian semakin berkembang. Mengutip Al Jazeera, Israel dan Maroko telah sepakat untuk meningkatkan hubungan diplomatik mereka, termasuk jual-beli senjata hingga menaikkan status perwakilan masing-masing menjadi kedutaan besar serta menunjuk duta besar untuk kedua negara pada 2026.
(mfa/sef)