Minyak di Atas US$100, Industri Tertekan Dua Sisi: Beban Biaya dan Daya Beli - Nasional Katadata.co.id

Minyak di Atas US$100, Industri Tertekan Dua Sisi: Beban Biaya dan Daya Beli - Nasional Katadata.co.id

Kenaikan harga minyak dunia hingga di atas US$100 per barel berpotensi menambah beban biaya industri dalam negeri. Kenaikan harga minyak dapat membuat biaya energi, logistik, dan bahan baku ikut naik, sementara perusahaan belum tentu bisa menaikkan harga jual.

Peneliti Institute for Development of Economics and Finance (INDEF) Rizal Taufikurahman mengatakan kondisi tersebut menjadi cost shock atau tekanan biaya bagi industri.

"Harga minyak di atas US$100 per barel menjadi cost shock bagi industri domestik melalui kenaikan biaya energi, logistik, dan bahan baku. Ketika pricing power terbatas, kenaikan biaya langsung menggerus margin, produksi, dan ruang ekspansi," kata Rizal kepada Katadata.co.id Selasa (15/9).

Melansir CNBC (16/9), harga minyak mentah Brent berjangka yang kerap menjadi patokan global naik 2,9% menjadi US$108,75 per barel pada sesi perdagangan kemarin. Sementara harga minyak West Texas Intermediate (WTI) melonjak hingga 4,4% menjadi US105,83 per barel.

Menurut Rizal, sektor yang paling terdampak antara lain transportasi dan logistik, penerbangan, petrokimia, plastik, tekstil, semen, keramik, serta industri manufaktur yang banyak menggunakan energi.

Semakin besar ketergantungan industri terhadap energi dan bahan baku impor, semakin besar pula dampak kenaikan harga minyak terhadap biaya produksi.

Ekonom Center of Reform on Economics (CORE) Yusuf Rendy Manilet mengatakan kenaikan harga minyak mempengaruhi industri melalui tiga jalur utama.

Pertama, biaya produksi meningkat. Indonesia masih menjadi net importir minyak sehingga kenaikan harga minyak dunia dapat membuat harga BBM dan produk turunannya seperti solar industri, avtur, nafta, dan bahan kimia ikut meningkat.

Kedua, biaya logistik naik karena distribusi barang masih sangat bergantung pada bahan bakar. Yusuf mencontohkan kenaikan harga Dexlite dan Pertamina Dex sekitar Rp4.000 per liter pada awal September yang menambah biaya sektor transportasi dan distribusi.

Ketiga, kenaikan biaya tersebut dapat diteruskan ke harga barang. Namun, perusahaan harus memilih antara menaikkan harga jual atau menanggung penurunan margin keuntungan.

"Sektor yang paling rentan adalah industri yang membutuhkan banyak energi atau sangat bergantung pada transportasi. Transportasi dan logistik terkena dampak paling cepat karena biaya bahan bakarnya langsung meningkat," ujar Yusuf kepada Katadata.co.id Selasa (15/9).

Selain transportasi dan logistik, industri kimia dan petrokimia juga menghadapi kenaikan biaya bahan baku. Sementara itu, semen, keramik, kaca, pupuk, dan kertas membutuhkan energi dalam jumlah besar dalam proses produksinya.

Industri makanan dan minuman serta tekstil juga dapat terkena dampak karena harus menghadapi kenaikan biaya bahan baku, kemasan, energi, dan distribusi secara bersamaan.

Industri Tertekan dari Dua Sisi

Tekanan semakin berat karena kondisi industri belum sepenuhnya pulih saat harga minyak kembali naik. Data PMI manufaktur menunjukkan indeks turun dari 50,2 pada Juli menjadi 49,8 pada Agustus. Angka di bawah 50 menunjukkan aktivitas manufaktur mengalami kontraksi. Artinya, sebagian industri masih menghadapi tekanan pada produksi dan pesanan baru.

"Kalau perusahaan menaikkan harga terlalu tinggi, permintaan bisa semakin turun. Kalau harga tidak dinaikkan, margin perusahaan yang tergerus," kata Yusuf.

Dengan demikian, industri menghadapi tekanan dari dua sisi. Biaya produksi naik, sementara daya beli konsumen belum tentu cukup kuat untuk menerima kenaikan harga.

Risiko lainnya jika harga minyak bertahan di atas US$ 100 per barel dalam waktu lama, akan semakin memberi tekanan biaya produksi dan harga barang. Tekanan itu dapat berdampak pada margin perusahaan, kapasitas produksi, investasi, hingga penyerapan tenaga kerja.

Meski begitu, Yusuf mengatakan dampaknya tidak akan dirasakan secara merata oleh semua industri. Ekonomi Indonesia masih tumbuh 5,29% pada kuartal II 2026 dan konsumsi rumah tangga masih menjadi salah satu penopang pertumbuhan.

"Tekanan terjadi tidak merata. Industri yang padat energi, bergantung pada transportasi, dan bergantung pada daya beli masyarakat akan merasakan dampaknya lebih cepat," katanya.

Ke depan, yang perlu diperhatikan bukan hanya pergerakan harga minyak, tetapi juga respons perusahaan terhadap kenaikan biaya. Misalnya, apakah perusahaan mulai mengurangi produksi, menunda investasi, mengurangi tenaga kerja, atau menaikkan harga jual.