Menyepelekan yang Penting dan Mementingkan yang Sepele

Menyepelekan yang Penting dan Mementingkan yang Sepele

Catatan: Artikel ini merupakan opini pribadi penulis dan tidak mencerminkan pandangan Redaksi CNBCIndonesia.com

Saat penulis mengetik prompt di GoogleAI, juga CopilotAI: "Bagaimana terjadinya kasus: "Egg vs Kylie Jenner" di Instagram 2019?", diperoleh uraian yang serupa. Disebutkan, pada 4 Januari 2019 sebuah akun bernama @world_record_egg mengunggah foto sebutir telur cokelat berlatar belakang putih.

Lalu diadakan tantangan terbuka, dengan kalimat, "Ayo kita buat rekor dunia bersama-sama dan dapatkan unggahan yang paling disukai di Instagram. Kalahkan rekor dunia saat ini yang dipegang oleh Kylie Jenner, sebanyak 18 juta! Kita pasti bisa."

Tersirat, konteks tantangan itu adalah dicapainya rekor oleh Kylie Jenner. Pesohor yang pada Februari 2018 menggungah foto tangan bayi perempuannya, Stormi Webster. Dan dalam waktu 11 bulan berikutnya, diperoleh likes tak kurang dari 18 juta.

Tantangan di atas untuk melampuinya, dan khalayak menyambut. Unggahan telur World Record Egg menjadi viral. Khalayak dari seluruh dunia beramai-ramai membagikan dan menekan tombol like. Kurang dari 10 hari --pada 14 Januari 2019-- rekor terpecahkan.

Sebanyak 18 juta likes pada foto yang diunggah Kylie Jenner, terlampaui. Bahkan antusismenya berlanjut, hingga mencapai lebih dari 50 juta likes. Melihat itu, Kylie Jenner menanggapainya dengan santai. Diperlihatkan lewat videonya di Instagram, dirinya memecahkan telur ayam di atas jalanan yang panas.

Banyak analisis yang kemudian muncul. Salah satunya, The Guardian pada 14 Januari 2019, lewat "How an Egg Beat Kylie Jenner at Her Own Instagram Game". Pangkal dilampauinya rekor menurut media ini, lantaran terjadinya disruption of hierarchy.

Terjadi saat ketersohoran ikon pop culture dunia itu, diruntuhkan oleh sebutir telur. Bukan unggahan hebat, bahkan gambarnya bersumber dari penyedia foto gratis. 'Gangguan kasta' --itupun ketika tak disebut sebagai keruntuhan- terjadi saat yang semula dianggap penting, digulingkan oleh yang sepele. Khalayak yang menyebut diri sebagai #EggSoldiers, memilih gambar yang sangat biasa demi menggulingkan Kylie Jenner. Lantaran muak oleh kehadirannya di mana-mana.

Sedangkan Orit Gat, 2019, lewat "How the Instagram Egg Broke the Internet and Became a Study in Exhaustion", menyebutkan telah terjadinya kelelahan pada budaya di media sosial. Disebutkannya, hanya sedikit kesamaan di dalam populasi orang yang memberikan notasi like pada unggahan telur itu.

Berupa rasa mudah, dan risiko yang rendah saat memberi notasi like. Ini mengindikasikan pencarian jeda oleh khayalak, setelah menghabiskan banyak waktu di depan layar. Telah banyak pernyataan yang menyebut, media sosial --maupun ruang digital berbasis internet lainnya-- menjadi ruang yang bising. Di dalamnya terjadi hipersirkulasi kekacauan, lelucon, cuplikan suara, yang menyebabkan kelelahan. Maka apa sulit dan risiko, saat memberi like pada yang sepele?

Hal sepele yang menggulingkan sesuatu yang semula dianggap penting, juga kerap dikaitkan dengan fenomena bike-shedding effect. Fenomena ini juga disebut Parkinson's Law of Triviality, Hukum Trivialitas Parkinson. Uraian bekerjanya hukum yang digagas Cyril Northcote Parkinson --sejarawan yang juga penulis-- pada tahun 1950-an ini, di antaranya disajikan blog Farnam Street, 2020. Judulnya, "Why We Focus on Trivial Things: The Bikeshed Effect".

Disebutkannya, terdapat fenomena ganjil yang menjangkiti manusia. Ini berupa dihabiskannya waktu berlebihan pada hal-hal sepele, namun sering mengabaikan hal-hal yang penting. Hukum Parkinson mendalilkan: jumlah waktu yang dihabiskan banyak orang untuk membahas suatu masalah dalam organisasi, berbanding terbalik dengan pentingnya masalah.

Pada masalah yang besar dan memerlukan pemikiran, justru mendapat pembahasan yang paling sedikit. Sedangkan pada masalah yang sederhana dan kecil, mendapat pembahasan yang banyak. Untuk mengilustrasikannya, Parkinson mengumpamakan adanya rapat komite keuangan yang membahas tiga usulan.

Usulan-usulannya adalah: (1). Pembangunan pembangkit listrik tenaga nuklir senilai £10 juta, (2). Pembangunan gudang sepeda seharga £350 dan (3). Anggaran kopi tahunan sebesar £21. Mana yang memperoleh pembahasan paling banyak?

Didapati, peserta rapat membahas usulan pembangkit listrik tenaga nuklir dalam waktu yang singkat. Tak terlalu banyak pendapat yang dilontarkan, alih-alih persilangan pendapat di dalamnya. Pembahasan segera beralih ke usulan pembangunan gudang sepeda. Keadaannya berbeda dari topik sebelumnya.

Jumlah pendapat yang dilontarkan meningkat, dan keterlibatan peserta lebih banyak. Dan terakhir, seperti dugaan semula: pembahasan memuncak pada usulan anggaran kopi. Perdebatannya sengit, dengan hampir seluruh peserta rapat mengemukakan pendapatnya.

Terhadap fenomena di atas, dijelaskan Parkinson: usulan yang pertama, persoalannya terlalu rumit. Alih-alih memahami detailnya, pemahaman yang paling mendasar pun dimiliki peserta rapat sangat terbatas. Juga minatnya yang hampir nihil. Kalaupun ada peserta yang mampu menjelaskannya, sulit memahamkan soal pembangkit listrik tenaga nuklir pada orang yang tak minat.

Persoalannya penting, tapi rumit. Adapun soal gudang sepeda, peserta rapat lebih paham. Pemahaman yang mendorong kenyamanan untuk berpendapat. Banyak yang paham soal standar, bentuk maupun faktor keamanan gudang sepeda. Bahkan ketika harus memperdebatkannya, dilakukan dengan detil. Karenanya, pembahasan soal gudang sepeda jauh lebih lama daripada pembangkit listrik.

Dan ketika pembahasan beralih pada usulan anggaran kopi, dijumpai realitas: semua adalah ahlinya. Bahkan saat menyangkut hal yang teknis --kualitas maupun anggaran untuk kopi-- masing-masing peserta mampu mendemonstrasikan keahliannya.

Besarnya minat, terindikasi dari panjangnya waktu yang digunakan untuk membahasnya. Padahal jumlah anggarannya terpaut jauh, dibanding pembangunan gudang sepeda alih-alih pembangkit listrik tenaga nuklir. Tampak, hierarki tertinggi -ditandai oleh besarnya anggaran- digulingkan oleh hal yang sepele.

Namun ketika rapat komite berakhir, semua peserta meninggalkan ruangan dengan gembira. Ini lantaran, usulan soal anggaran kopi memberi kesempatan seluruh peserta mendemonstrasikan keahliannya di hadapan peserta lain.

Bukankah fenomena semacam itu, sering terjadi di media sosial hari ini? Semua orang tiba-tiba menjadi ahli dan mendemonstrasikannya di hadapan yang lain. Sebagai analis, pengajar atau pakar yang meyakinkan. Adanya unggahan kemelesetan sikap atau pernyataan yang bertentangan dengan selera khalayak misalnya, bisa memunculkan tanggapan sengit yang bertubi-tubi. Juga komentar dengan berbagai sudut pandang yang kompleks.

Dan seluruhnya, senada dengan laporan Hootsuite Social Media Trends 2026. Isinya dapat diringkas kurang lebih: emosi sehari-hari, nostalgia, humor absurd, pencarian ketenangan, dan perdebatan teknologi -yang seluruhnya tak mengandung isu penting- mampu menciptakan keterlibatan yang besar. Algoritma media sosial memperbesar kehadiran tema ini, karena memicu interaksi lintas generasi yang tinggi.

Realitas di atas ketika dirunut dalam relasi sirkularnya: unggahan dengan keterlibatan tinggi memperoleh insentif algoritmik. Ia akan ditampilkan lebih kerap dalam durasi lebih panjang. Sering dan lamanya unggahan hadir, menghasilkan peluang interaksi khalayak yang lebih tinggi. Insentif algoritma memicu unggahan untuk memperoleh interaksi, dan interaksi memancing algoritma untuk terus-menerus menampilkan unggahan.

Apa keburukannya? Hidup dijalani khalayak dalam bias algoritmik. Khalayak media sosial berilusi, telah terlibat pada isu yang penting. Dan seperti rapat komite yang diilustrasikan Parkinson, seluruh pesertanya keluar ruangan dengan perasaan gembira.

Lantaran merasa puas, telah terlibat pada isu yang dibicarakan banyak orang di waktu yang lama. Perdebatan yang sengit, menyimbolkan kompleksnya persoalan. Dan berlarut-larutnya mencapai kesepakatan, menyimbolkan gentingya keadaan. Namun ketika isunya diukur dengan pencapaian yang hendak dijangkau, dijumpai realitas yang berbeda: yang dibicarakan dengan sengit, tak lebih penting dari yang dilewatkan dengan cepat.

Adanya algoritma makin membiaskan realitas. Lantaran unggahan tak benar-benar dikehendaki khalayak, melainkan dikurasi algoritma. Dan ketika dipertajam dengan penggunaan artificial intelligen (AI), dipilihkan unggahan yang lebih mampu memanen tanggapan yang banyak sekaligus lama. Karenanya, sementara banyak yang terlibat membincangkan adanya laki-laki yang menendang perempuan di sebuah kafe.

Juga berlimpahnya analisis canggih soal tone deaf-nya seorang pesohor --yang mengusulkan detoks dari berita buruk media sosial-- terlewatkan pembahasan soal minimnya persediaan air, akibat kemarau. Terlewat pula pembahasan soal buangan data center AI, sebagai air beracun ketika selesai digunakan. Lalu masuk ke badan air. detik.com, 21 September 2026, lewat "Data Center AI Meta Diduga Bocorkan Bakteri Mematikan ke Air untuk Irigasi Kota", menuliskan perihal itu.

Maka pantas ditanyakan: haruskah hidup dikacaukan unggahan sepele --yang jadi penting-- lantaran terkurasi algoritma? Memang menghasilkan kepuasan, tapi jangkauan jangka panjangnya yang tak mengantar khalayak ke mana-mana. Tetap terbuai?

(miq/miq)