Menjaga Way Kambas untuk generasi mendatang

Menjaga Way Kambas untuk generasi mendatang

Pemerintah mulai mengubah pendekatan dalam pengelolaan Taman Nasional Way Kambas (TNWK), Lampung. Tak lagi semata berorientasi pada perlindungan kawasan, pengelolaan taman ANTARA News lampung 6 ...

Menjaga Way Kambas untuk generasi mendatang

Minggu, 26 Juli 2026 17:14 WIB

Image Print

Deputi Bidang Dukungan Program Strategis Presiden Sekretariat Presiden Kementerian Sekretariat Negara RI, Marsekal Muda TNI Dedi Saprudin Samsudin, ke Taman Nasional Way Kambas. (ANTARA/HO-Dokumen Pribadi)

Bandarlampung (ANTARA) - Pemerintah mulai mengubah pendekatan dalam pengelolaan Taman Nasional Way Kambas (TNWK), Lampung. Tak lagi semata berorientasi pada perlindungan kawasan, pengelolaan taman nasional kini diarahkan menjadi gerakan bersama yang melibatkan masyarakat, pemerintah, aparat keamanan, hingga kalangan akademisi. Semangat itu dirangkum dalam satu slogan: "TNWK Adalah Kita".

Paradigma baru tersebut mengemuka dalam kunjungan kerja Deputi Bidang Dukungan Program Strategis Presiden Sekretariat Presiden Kementerian Sekretariat Negara RI, Marsekal Muda TNI Dedi Saprudin Samsudin, ke Taman Nasional Way Kambas.

Dalam kunjungan itu, ia didampingi Ketua Tim Gabungan Mitigasi dan Penanganan Interaksi Negatif Gajah Sumatra Brigadir Jenderal TNI Sriyanto serta Kepala Balai TNWK MHD. Zaidi.

Rangkaian kegiatan diawali dengan diskusi strategis di Aula Balai TNWK. Pertemuan tersebut membahas langkah-langkah memperkuat mitigasi interaksi negatif antara Gajah Sumatra dan masyarakat yang selama ini masih menjadi tantangan di sekitar kawasan konservasi.

Bagi Dedi, slogan "TNWK Adalah Kita" bukan sekadar jargon. Kalimat itu mencerminkan perubahan cara pandang dalam mengelola kawasan konservasi. Masyarakat yang tinggal di sekitar Way Kambas tidak lagi diposisikan sebagai pihak di luar kawasan, melainkan bagian yang tak terpisahkan dari ekosistem yang harus dijaga bersama.

Menurut dia, keberhasilan konservasi tidak mungkin dicapai hanya oleh Balai Taman Nasional Way Kambas. Dibutuhkan kolaborasi lintas sektor yang melibatkan TNI, Polri, pemerintah daerah, tokoh masyarakat, perguruan tinggi, hingga komunitas lokal.

Pendekatan kolaboratif tersebut juga diarahkan untuk membangun koeksistensi yang harmonis antara manusia dan Gajah Sumatra. Berbagai upaya mitigasi konflik satwa liar akan terus diperkuat agar aktivitas masyarakat tetap berjalan tanpa mengancam kelestarian habitat gajah.

Dedi menegaskan bahwa tanggung jawab menjaga Way Kambas merupakan komitmen lintas generasi. Menurut dia, seluruh pihak memiliki peran untuk memastikan kawasan konservasi itu tetap lestari sehingga anak cucu kelak masih dapat menyaksikan Gajah Sumatra hidup di habitat alaminya, bukan hanya melalui buku atau dokumentasi.

Selain membahas penguatan konservasi, Dedi juga menyoroti pentingnya tata kelola pembangunan di kawasan TNWK. Ia meminta setiap pekerjaan dilaksanakan sesuai spesifikasi yang telah ditetapkan agar menghasilkan keluaran sesuai dengan perencanaan.

"Komitmen harus menjaga kualitas pekerjaan sesuai dengan spesifikasi yang sudah disampaikan sehingga menghasilkan output yang memang sesuai dengan yang direncanakan," kata Dedi.

Ia juga menekankan fungsi pengawasan harus berjalan secara optimal dengan melibatkan pemerintah daerah, Kementerian Kehutanan, dan seluruh pemangku kepentingan agar setiap program terlaksana sesuai target.

Menurut Dedi, besarnya anggaran yang dikelola harus diimbangi dengan tata kelola yang transparan dan akuntabel. Ia mengingatkan agar proses pengadaan barang dan jasa memiliki landasan hukum yang kuat sehingga seluruh pihak dapat bekerja dengan kepastian dan terhindar dari persoalan administratif.

Melalui semangat "TNWK Adalah Kita", pemerintah berharap Taman Nasional Way Kambas tidak hanya menjadi benteng terakhir pelestarian Gajah Sumatra, tetapi juga menjadi simbol kolaborasi seluruh elemen bangsa dalam menjaga warisan alam Indonesia bagi generasi yang akan datang.

Wajah baru TNWK mengusung konsep yang lebih terbuka dan menyatu dengan masyarakat sekitar.
Program revitalisasi ini tidak hanya menyasar aspek fisik, tetapi juga membangun kedekatan emosional antara kawasan konservasi dengan warga Provinsi Lampung, khususnya Lampung Timur.

Kolaborasi lintas sektoral antara Komite Gabungan, Pemerintah Daerah, TNI, dan Polri menjadi kunci keberhasilan transformasi ini.

"Judul New Look Taman Nasional Way Kambas kami pilih untuk menandai sebuah perubahan, sebab sejak awal TNWK dan masyarakat seakan-akan terpisah," ujar Brigjen TNI Sriyanto.

Ia menegaskan pentingnya rasa memiliki warga terhadap kawasan tersebut. "Tagline-nya adalah 'TNWK Adalah Kita'. Kata 'kita' di sini merangkul seluruh masyarakat Lampung, sebab taman nasional ini merupakan salah satu kebanggaan masyarakat Provinsi Lampung," tambah dia.

Kepala Balai TNWK, MHD. Zaidi, mengamini visi tersebut dengan menekankan pada kebahagiaan bersama dalam pengelolaan taman.

"Konsep yang kami bangun di taman nasional ini adalah 'bahagia bersama'. Semua orang diharapkan bisa merasa senang dan merasakan langsung manfaat keberadaannya," ungkap Zaidi.

Mitigasi konflik melalui pertahanan berlapis

Keamanan masyarakat dan kelestarian satwa kunci di TNWK menjadi prioritas utama melalui pembangunan sistem mitigasi yang modern.

Komite Gabungan Mitigasi dan Penanganan Interaksi Negatif Gajah Sumatra di TNWK membangun pembatas sepanjang 138 kilometer dengan berbagai metode konstruksi yang disesuaikan dengan kondisi tanah di lapangan.

Penggunaan teknologi seperti pagar listrik dan matras beton menjadi bagian dari strategi perlindungan dari konflik satwa dan manusia.

Brigjen TNI Sriyanto menjelaskan bahwa kehadiran manusia di garis batas tetap menjadi elemen vital selain pembangunan fisik.

"Gajah itu hewan yang sangat cerdas. Selain pembatas fisik, kami menerapkan beberapa bentuk pengamanan lain yang kami sebut multi-layer defense," jelas Sriyanto.

Ia merinci pembangunan tanggul matras beton sepanjang 57,3 kilometer dan pagar listrik sepanjang 23,3 kilometer. Langkah ini dilakukan untuk mencegah gajah masuk ke permukiman warga di desa penyangga TNWK.

Salah satu fasilitas yang paling menonjol adalah pembangunan menara pandang setinggi 53 meter, yang diproyeksikan menjadi ikon baru di TNWK Lampung Timur.

Fasilitas ini dirancang secara inklusif agar dapat dinikmati oleh semua kalangan, termasuk lansia dan penyandang disabilitas.

"Tinggi menara tetap kita bangun 53 meter. Di sana nantinya seluruh informasi terkait taman nasional akan tersaji lengkap, seperti yang tadi kami laporkan," jelas Brigjen Sriyanto mengenai menara pandang tersebut.

Selain menara, Komite Gabungan juga membangun 46 kandang gajah baru, jembatan, embung, hingga skywalk demi memberikan kenyamanan maksimal bagi pengunjung maupun pengelola.

Menjaga warisan untuk anak cucu

Marsda TNI Dedi Saprudin Samsudin menegaskan bahwa seluruh pekerjaan di TNWK merupakan misi mulia demi masa depan generasi mendatang.

Ia menekankan peran Sekretariat Presiden sebagai jembatan untuk memastikan program strategis ini berjalan sesuai rencana dan mendapat dukungan penuh dari pemerintah pusat.

"Jangan sampai anak cucu kita tidak pernah bisa melihat gajah secara langsung, lalu hanya membayangkannya lewat persepsi masing-masing, seperti kita membayangkan dinosaurus karena tidak pernah melihatnya," tegas Marsda Dedi Saprudin.

Ia juga mengingatkan Komite Gabungan agar terus menjaga kualitas pekerjaan serta menerapkan tata kelola anggaran yang transparan.

"Komite Gabungan adalah pelaksana tugas yang suci dan mulia ini, sedangkan kami hadir sebagai jembatan untuk menjalankan arahan Bapak Presiden," lanjutnya.

Meski menunjukkan perkembangan positif, proyek ini tetap tak lepas dari tantangan alam. Cuaca ekstrem dan banjir di wilayah utara, misalnya, kerap menghambat jalannya pekerjaan.

Selain itu, Komite Gabungan tengah mempersiapkan pengiriman 11 pawang dan dokter hewan ke Thailand untuk mempelajari teknik penanganan gajah tanpa rantai. Transformasi pengelolaan ini diharapkan mampu menarik hingga satu juta wisatawan per tahun ke TNWK.

Mengakhiri arahannya, Marsda Dedi Saprudin meminta adanya laporan berkala. Langkah ini bertujuan agar setiap kendala, mulai dari persoalan lahan hingga pengadaan barang, dapat segera dicarikan solusinya di tingkat pusat.

Melalui upaya bersama ini, TNWK diharapkan tak sekadar menjadi kawasan konservasi, melainkan ruang hidup yang harmonis bagi manusia dan gajah Sumatra.

Seluruh rangkaian proyek strategis arahan Presiden Prabowo Subianto ini ditargetkan rampung sepenuhnya pada akhir tahun ini.

Dengan selesainya pembangunan tersebut, TNWK siap hadir dengan wajah baru yang tidak hanya memperkuat fungsi konservasi gajah, tetapi juga membawa dampak positif bagi masyarakat sekitar.

Pewarta : Muklasin/Agus Wira Sukarta
Editor: Agus Wira Sukarta
COPYRIGHT © ANTARA 2026

Dilarang keras mengambil konten, melakukan crawling atau pengindeksan otomatis untuk AI di situs web ini tanpa izin tertulis dari Kantor Berita ANTARA.