Mengenal sesar pemicu gempa besar di NTT pada 15 Agustus 2026
Mataram, NTB (ANTARA) - Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG) melaporkan gempa besar berkekuatan 7,7 magnitudo pada 15 Agustus 2026 yang berpusat di sebelah utara Mbay, Kabupaten Nagekeo, Nusa Tenggara Timur (NTT) bersumber dari Sesar Naik Busur Belakang Flores.
Patahan yang populer dikenal dengan nama Flores Back-Arc Thrust tersebut merupakan zona sesar naik aktif yang membentang di sisi utara busur Kepulauan Sunda Kecil melingkupi wilayah Bali, Nusa Tenggara Barat (NTB), hingga Nusa Tenggara Timur.
Secara geologi, kawasan Kepulauan Sunda Kecil merupakan tempat pertemuan dan interaksi Lempeng Indo-Australia dengan Lempeng Eurasia atau Busur Sunda. Di selatan, Lempeng Indo-Australia bergerak menuju dan menunjam ke bawah Busur Sunda.
Kawasan itu bukanlah sistem tektonik sederhana. Lempeng Australia juga bergerak mendekati dan bertumbukan dengan Busur Banda. Tekanan tersebut kemudian diteruskan ke dalam busur kepulauan.
Akibat tekanan kompresi itu membuat batuan di belakang busur mengalami pemendekan dan terlipat. Sebagian kerak kemudian terdorong naik melalui bidang sesar hingga terbentuklah sistem back-arc thrust.
Sejarah mencatat keberadaan Sesar Naik Belakang Flores telah menyebabkan gempa-gempa dangkal berkekuatan besar di Kepulauan Sunda Kecil, yakni gempa Bali tahun 1815 berkekuatan 7,6 magnitudo, gempa Bali berkekuatan 6,5 magnitudo pada 1976
Kemudian gempa Flores berkekuatan 7,8 magnitudo pada 1992, gempa Alor berkekuatan 7,5 magnitudo pada 2004, gempa Lombok berkekuatan 7 magnitudo pada Agustus 2018, dan terakhir gempa Flores berkekuatan 7,7 magnitudo pada Agustus 2026.
Tulisan Geolog Belanda Van Bemmelen tahun 1949 menyatakan wilayah Nusa Tenggara termasuk dalam sabuk tektonik aktif yang dicirikan oleh aktivitas subduksi, vulkanisme, dan deformasi kerak yang intens, sehingga memiliki tingkat bahaya gempa bumi yang tinggi.
Pewarta : Tim Antara NTB
Editor:
Sugiharto Purnama
COPYRIGHT © ANTARA 2026