Menakar Sentimen PFII di Bali terhadap Prospek Saham BUVA, MINA, hingga GOLF - Bursa Katadata.co.id
Sejumlah emiten punya konglomerat memiliki aset utama di Bali. Wilayah ini menarik perhatian karena di sana akan dibangun Pusat Finansial Internasional Indonesia (PFII).
PFII adalah kawasan keuangan khusus berstandar global yang dirancang untuk menarik modal asing, mengelola kekayaan global dan nasional, termasuk family office, serta memperkuat daya saing ekonomi Indonesia di kancah internasional.
Berdasarkan penelusuran Katadata.co.id, sejumlah perusahaan milik konglomerat memiliki aset properti, perhotelan, hingga lapangan golf di Pulau Dewata. Di antaranya adalah perusahaan milik suami Ketua DPR RI Puan Maharani Happy Hapsoro yakni PT Bukit Uluwatu Villa Tbk (BUVA) dan PT Sanurhasta Mitra Tbk (MINA).
MINA memiliki aset resor dan lahan di Bali. Perseroan mengelola The Santai, resor butik mewah di kawasan Umalas, Denpasar Selatan, Bali melalui anak usahanya PT Minna Padi Resorts.
Selain itu, MINA memiliki land bank seluas sekitar 4 hektare di kawasan Sanur, Bali. Lahan tersebut direncanakan untuk pengembangan resor mewah, hunian dan area komersial.
Hapsoro tercatat memiliki 1,94 miliar saham MINA atau setara 19,68% dari total saham perseroan yang beredar.
Sementara itu, BUVA memiliki sejumlah aset perhotelan di Bali, antara lain Alila Villas Uluwatu di Pecatu, Badung; Alila Ubud di Desa Melinggih Kelod, Payangan, Ubud, Gianyar serta Alila Manggis di Karangasem.
Perseroan juga melakukan ekspansi lahan di kawasan Pecatu dan sekitar Uluwatu melalui anak usahanya. Hapsoro mengendalikan BUVA melalui perusahaan miliknya, PT Nusantara Utama Investama (NUI). NUI tercatat memiliki 15,03 miliar saham BUVA atau setara 61,07% dari total saham perseroan yang beredar.
Selain Hapsoro, perusahaan milik keluarga Cendana juga memiliki aset di Bali. PT Intra Golflink Resorts Tbk (GOLF) dikelola oleh Darma Mangkuluhur Hutomo, putra Hutomo Mandala Putra alias Tommy Soeharto. GOLF memiliki aset berupa lapangan golf di kawasan Pecatu Indah Resort, Bali.
Branch Manager Panin Sekuritas Pondok Indah, Elandry Pratama, menilai rencana pembentukan PFII di Jakarta dan Bali menjadi sentimen positif bagi emiten yang memiliki eksposur aset dan bisnis di Bali.
Namun, menurut dia, dampak PFII terhadap fundamental emiten masih bersifat jangka menengah hingga panjang. Pasalnya, lokasi PFII masih dalam tahap persiapan dan pemerintah menyebut pengembangannya membutuhkan waktu sekitar dua hingga tiga tahun.
“Namun, dampaknya ke fundamental masih bersifat jangka menengah-panjang karena lokasi PFII sendiri masih dalam tahap persiapan dan pemerintah juga menyebut pengembangannya membutuhkan waktu sekitar 2–3 tahun,” kata Elandry kepada Katadata.co.id, Kamis (20/8).
Menurut dia, BUVA menjadi emiten yang paling berpotensi mendapatkan manfaat langsung dari PFII, terutama dari sisi bisnis perhotelan dan properti premium di Bali.
MINA juga berpotensi mendapatkan sentimen positif karena memiliki eksposur terhadap kawasan Sanur. Namun, investor perlu mencermati volume perdagangan dan arus modal karena pergerakan saham MINA cukup volatil.
Sementara itu, GOLF lebih banyak bergantung pada cerita pengembangan kawasan, bisnis golf dan perhotelan. Elandry belum melihat alasan untuk memberikan target terlalu agresif sebelum terdapat katalis fundamental yang lebih konkret.
“Jadi secara keseluruhan, saya melihat PFII positif sebagai additional catalyst, terutama untuk BUVA, MINA dan GOLF. Tapi investor tetap perlu melihat realisasi PFII, perkembangan investasi dan kinerja masing-masing emiten,” ujarnya.
Menurut Elandry, investor juga perlu mewaspadai apabila sentimen terhadap PFII bergerak jauh lebih cepat dibandingkan dengan fundamental emiten.
Untuk target harga, Elandry memperkirakan BUVA berada di kisaran Rp 800–850 per saham, MINA Rp 290–310 per saham, dan GOLF Rp 175–185 per saham.
“Saya lebih nyaman dengan target bertahap seperti ini mengingat PFII masih dalam tahap awal,” ujar dia.
Danantara Masih Cari Modal PFII
Sementara itu, Badan Pengelola Investasi Daya Anagata Nusantara (Danantara) tengah mencari potensi modal dari berbagai negara untuk mendukung pembangunan PFII. CEO Danantara, Rosan Roeslani mengatakan, potensi modal terbesar diproyeksikan berasal dari family office. Salah satu sumber potensial berasal dari Dubai, Uni Emirat Arab (UEA).
Dia mengaku telah mendapatkan banyak masukan dari The Dubai International Financial Centre (DIFC) atau Pusat Keuangan Internasional Dubai. Menurut dia, Dubai memiliki fondasi finansial yang kuat.
Selain Dubai, Danantara juga aktif mencari investor baru dan telah bertemu dengan sejumlah family office dari Asia. Rosan menjelaskan, PFII pada tahap awal akan berlokasi di Jakarta sesuai dengan arahan Presiden Prabowo Subianto. Setelah itu, PFII juga direncanakan hadir di Bali.
Namun, pembangunan PFII di Bali membutuhkan waktu lebih panjang karena perlu menyiapkan infrastruktur, gedung, serta berbagai fasilitas pendukung.
Menurut Rosan, calon investor justru tertarik dengan rencana PFII di Bali karena konsep pusat finansial internasional di kawasan tersebut memiliki daya tarik tersendiri.
“Tapi ini kalau di Bali mereka bilang ini ada plus-nya, jadi begitu kerja mereka juga bisa meningkatkan pariwisata di Bali, karena mereka punya spending power yang cukup besar kan rata-rata gitu,” ujar Rosan.