"Memburu Pemangsa" bawa isu kekerasan anak lewat investigasi jurnalis

"Memburu Pemangsa" bawa isu kekerasan anak lewat investigasi jurnalis
Film ini menyuarakan pentingnya kepekaan kolektif, menuntut orang dewasa untuk tidak lagi menutup mata atau menganggap tabu perbincangan mengenai keselamatan anak.

Jakarta (ANTARA) -

Belakangan ini, layar lebar Indonesia seperti tak pernah benar-benar keluar dari kegelapan. Dari lorong-lorong rumah tua, ruang-ruang sunyi, hingga mitos yang hidup dari mulut ke mulut, horor kembali menemukan tempatnya.

​Riuh gelombang film horor tersebut banyak bertumpu pada teror mistis dan legenda urban, sebuah formula yang seolah-olah telah menjadi bahasa akrab bagi penonton.

​Namun, tidak semua kegelapan datang dari dunia yang tak kasatmata. Lewat Memburu Pemangsa, sutradara Umay Shahab bersama rumah produksi Sinemaku Pictures mencoba menempuh jalur berbeda.

​Film ini meramu horor psikologis, investigasi kriminal, dan laga fisik dalam satu rangkaian cerita. Di balik ketegangan yang dibangun, film ini mengusung isu yang jauh lebih nyata dan getir: kekerasan seksual terhadap anak.

​Cerita berpusat pada empat jurnalis di sebuah ruang redaksi yang terseret ke dalam teka-teki hilangnya sejumlah anak secara beruntun. Apa yang semula tampak sebagai kasus penculikan biasa perlahan membuka lapisan persoalan yang lebih kelam, mulai dari praktik pemujaan sesat hingga jejak predator berdarah dingin yang menggerogoti batas-batas kemanusiaan.

Daya tarik utama film ini bertumpu pada penulisan karakter perempuan yang kokoh dan berdaya. Naskah garapan Rezi Junio dan Umay Shahab menepis kecenderungan menempatkan perempuan sekadar pemanis layar atau korban tak berdaya. Keempat jurnalis ini memikul beban emosional masing-masing yang menjadi mesin penggerak investigasi.

​Agnes (Laura Basuki) dibayangi duka berkepanjangan seusai kehilangan buah hatinya, tetapi diberkahi intuisi tajam dan kepekaan indra keenam. Di sisinya, Cia (Prilly Latuconsina) memancarkan kegelisahan seorang bibi yang protektif menjaga keponakannya, Pandu (Jordan Omar), di tengah lingkungan sosial yang kian berbahaya bagi anak-anak.

​Sementara itu, Brina (Taskya Namya) tampil meledak-ledak, vokal, dan tak segan menempuh konfrontasi fisik di lapangan, didampingi sang kakak, Petra (Andri Mashadi), seorang polisi yang memilih bergerak senyap demi menjaganya. Adapun Anya (Yasamin Jasem) hadir sebagai otak riset yang metodis. Ketertarikan Anya pada literatur demonologi dan okultisme menjadi jembatan penting untuk membedah simbol-simbol pemujaan iblis yang membungkus kejahatan sang buronan.

Dinamika persaudaraan dan relasi kerja keempat perempuan ini mengalir organik di layar, memperlihatkan kekompakan yang lahir dari rasa empati serta tekad bersama untuk memutus rantai kekerasan.

​Film ini patut diacungi jempol dalam menangkap dinamika kerja jurnalistik. Rutinitas redaksi turut menggerakkan alur cerita, terutama ketika para jurnalis mengumpulkan dan memverifikasi informasi.

​Penonton diajak menyelami ketegangan saat awak redaksi memeriksa rekam jejak narasumber, hingga menelan pil pahit ketika Cia melakukan kelalaian verifikasi yang berbuntut ancaman hukum. Ketelitian dalam menampilkan prinsip keberimbangan berita (cover both sides) mempertegas komitmen pembuat film untuk memotret integritas pers secara jujur.

​Kolaborasi antara riset meja redaksi dan penelusuran lapangan menjadi sekuens yang memikat sekaligus edukatif bagi penonton awam mengenai beratnya tanggung jawab profesi pewarta.

Baca juga: "Memburu Pemangsa" gandeng psikolog dampingi Teuku Rifnu Wikana

Baca juga: Umay Shahab angkat isu kekerasan anak lewat film "Memburu Pemangsa"

Editor: Dadan Ramdani
Copyright © ANTARA 2026

Dilarang keras mengambil konten, melakukan crawling atau pengindeksan otomatis untuk AI di situs web ini tanpa izin tertulis dari Kantor Berita ANTARA.