Maut di Perut Himalaya, Ledakan Terowongan PLTA India Tewaskan 12 Pekerja |Republika Online
REPUBLIKA.CO.ID, JAKARTA — Gas dan genangan air menghambat tim penyelamat menjangkau para pekerja yang terjebak di dalam terowongan proyek pembangkit listrik tenaga air Teesta Tahap VI di Negara Bagian Sikkim, wilayah Himalaya timur laut India.
Dalam pembaruan terakhirnya pada Rabu (22/7/2026), Associated Press melaporkan sedikitnya 12 orang telah ditemukan meninggal dunia, sedangkan 13 lainnya masih terjebak di dalam terowongan. Angka korban dapat berubah karena operasi pencarian dan evakuasi masih berlangsung.
Ledakan terjadi pada Senin (20/7/2026) di terowongan yang sedang dibangun untuk proyek pembangkit berkapasitas 500 megawatt tersebut. Lokasi kecelakaan berada di kawasan Samardung, Distrik Namchi, sekitar 40 kilometer di sebelah selatan Gangtok, ibu kota Sikkim.
Kepala Menteri Sikkim Prem Singh Tamang mengatakan ledakan diduga dipicu penumpukan gas metana. Namun, penyebab akhirnya belum ditetapkan dan masih harus dibuktikan melalui penyelidikan teknis.
Ledakan itu merusak bagian terowongan dan menghasilkan asap tebal. Petugas Pasukan Tanggap Bencana Nasional India atau NDRF kemudian mendeteksi metana, karbon monoksida, dan hidrogen sulfida di dalam terowongan.
Kondisinya sangat berbahaya. Meskipun menggunakan tabung oksigen, petugas penyelamat hanya dapat berada di zona kecelakaan selama sekitar 15 menit dalam setiap giliran. Tim juga harus menghadapi air yang terus menggenang di bagian dalam terowongan.
Pejabat administrasi setempat, Anupama Tamling, mengatakan tim penyelamat dilengkapi alat bantu pernapasan khusus dan perangkat penglihatan malam. Namun, kandungan gas dan genangan air membuat mereka kesulitan bergerak lebih jauh menuju titik korban.
Dua Pekerja Berhasil Keluar
Associated Press melaporkan 21 pekerja berada di dalam terowongan ketika ledakan terjadi. Dua orang berhasil menyelamatkan diri.
Enam pejabat perusahaan pembangkit kemudian memasuki terowongan untuk membantu penyelamatan, tetapi mereka juga terjebak. Dengan demikian, sebanyak 25 orang tertinggal di dalam setelah dua pekerja berhasil keluar.
Hingga pembaruan AP pada Rabu, 12 jenazah telah ditemukan dan 13 orang lainnya belum dapat dijangkau tim penyelamat.
Salah seorang pekerja yang selamat, Gandura Oraon, mengatakan ledakan terjadi ketika para pekerja sedang makan siang. Pria berusia 38 tahun tersebut mendengar suara keras sebelum material berjatuhan dan membuat para pekerja berlari menuju pintu keluar.
Oraon dan beberapa pekerja menemukan kendaraan yang sebelumnya digunakan untuk mengantar makanan. Mereka menaiki kendaraan itu dan menggunakannya untuk keluar dari terowongan.