Koster minta penyalur pembiayaan pinjaman daring banyak sasar sektor produktif - ANTARA News Bali
Denpasar (ANTARA) - Gubernur Bali Wayan Koster meminta penyalur pembiayaan pinjaman daring (Pindar) atau fintech lending di Provinsi Bali lebih banyak diarahkan ke sektor produktif, khususnya bagi petani organik hingga pelaku ekonomi kreatif berbasis budaya lokal.
“Khusus di Bali, kami mendorong agar pembiayaan pindar lebih banyak diarahkan ke sektor produktif, antara lain petani organik, pelaku ekonomi kreatif berbasis budaya Bali, UMKM, serta pengusaha muda yang sedang membangun dan mengembangkan usaha,” kata Koster dalam keterangan di Denpasar, Sabtu.
Ia berharap industri pindar benar-benar memahami dan masuk ke ekosistem usaha lokal Bali, bukan hanya melihat Bali sebagai pasar, melainkan sebagai mitra yang karakteristiknya perlu dipahami.
Pemprov Bali sendiri mendukung pengembangan teknologi finansial karena memberikan kemudahan akses layanan keuangan bagi masyarakat.
Namun, kemudahan tersebut dinilai harus diimbangi dengan penguatan literasi keuangan agar masyarakat tidak terjebak dalam keputusan berutang yang impulsif dan konsumtif.
Koster menyoroti data nasional yang menunjukkan sekitar dua pertiga dari total pembiayaan pindar di Indonesia masih didominasi kebutuhan konsumtif, sementara sektor produktif baru menyerap sepertiga bagian.
Kondisi ini menjadi tantangan bersama karena Otoritas Jasa Keuangan (OJK) sendiri menargetkan penyaluran dana ke sektor produktif dapat mencapai 40 hingga 50 persen.
Ia menegaskan bahwa kemudahan pinjaman tanpa literasi yang memadai mengenai hak, kewajiban, dan risiko pinjaman dapat menjadi bumerang bagi masyarakat.
Oleh karena itu, pelaku industri dipesan agar tidak sekadar berfokus pada pertumbuhan penyaluran dana, melainkan juga menjaga transparansi produk, ketepatan penyaluran, serta perlindungan konsumen demi terciptanya ekosistem pembiayaan yang sehat.
Guna mendukung hal tersebut, Pemprov Bali menyatakan kesiapan untuk berkolaborasi dengan regulator dan pelaku industri dalam mengedukasi masyarakat terutama pengusaha lokal hingga ke tingkat akar rumput.
Jaringan pemda yang mencakup 1.500 desa adat serta program literasi digital di seluruh SMA dan SMK se-Bali dapat dimanfaatkan sebagai saluran edukasi keuangan yang efektif.
Koster turut mengapresiasi penyelenggaraan Fintech Lending Days (FLD) 2026, ia berharap forum strategis tersebut melahirkan langkah konkret yang berdampak langsung bagi kemajuan UMKM serta masyarakat Bali.
Dewan Pengawas Asosiasi Fintech Pendanaan Bersama Indonesia (AFPI) Bernadino Vega menambahkan, ia menilai Bali memiliki posisi strategis dengan potensi sekitar 440 ribu UMKM yang membutuhkan akses pembiayaan.
Menurutnya, tantangan utama industri saat ini bukan sekadar menyediakan dana, melainkan mendorong pelaku usaha terhubung ke ekosistem keuangan dengan tata kelola dan penagihan yang bertanggung jawab.
Pewarta: Ni Putu Putri Muliantari
Editor : Ardi Irawan
COPYRIGHT © ANTARA 2026
Dilarang keras mengambil konten, melakukan crawling atau pengindeksan otomatis untuk AI di situs web ini tanpa izin tertulis dari Kantor Berita ANTARA.