Kontribusi Umat Buddha Jaga Keharmonisan Malinau Diapresiasi
Kontribusi Umat Buddha Jaga Keharmonisan Malinau Diapresiasi
Minggu, 12 Juli 2026 15:30 WIB
Bupati Malinau, Wempi W. Mawa (batik warna oranye) bersama Sanghanayaka Sangha Theravada Indonesia, YM. Sri Subhapanno Mahathera, dalam peresmian Gedung Sekolah Minggu Buddha Samadhina di Kompleks Vihara Bodhi Sasana Jaya Malinau, Provinsi Kalimantan Utara, Sabtu (11/7/2026). (ANTARA/HO-Prokompim Malinau)
Malinau (ANTARA) - Bupati Malinau, Wempi W. Mawa menyampaikan apresiasi kepada seluruh umat Buddha karena telah berkontribusi secara bersama-sama menjaga keharmonisan Bumi Intimung, Kabupaten Malinau.
“Pemerintah Kabupaten (Pemkab) mengapresiasi umat Buddha yang selama ini aktif berkontribusi menjaga keharmonisan sosial melalui berbagai kegiatan keagamaan maupun kegiatan sosial kemasyarakatan di Kabupaten Malinau,” ujarnya di Kabupaten Malinau, Provinsi Kalimantan Utara (Kaltara), Minggu.
Apresiasi ini disampaikan Bupati Malinau setelah selesainya beberapa rangkaian kegiatan sosial dan keagamaan yang dilaksanakan umat Buddha di Kabupaten Malinau.
Kegiatan pertama dilaksanakan Sabtu pagi (11/7), yaitu peresmian Gedung Sekolah Minggu Buddha (SMB) Samadhina di kompleks Vihara Bodhi Sasana Jaya Malinau.
“Kehadiran gedung baru SMB Samadhina sejalan dengan salah satu dari lima program prioritas daerah, yakni Wajib Belajar Malinau Maju, yang menempatkan peningkatan kualitas sumber daya manusia sebagai fokus utama, baik melalui pendidikan formal maupun nonformal,” katanya.
Menurutnya tentu gedung tersebut tidak hanya berfungsi sebagai pusat pembelajaran keagamaan, tetapi juga memiliki nilai yang lebih luas sebagai tempat pembentukan karakter, pengembangan ilmu pengetahuan, sekaligus ruang yang mengajarkan kepedulian terhadap lingkungan.
“Ini bukan hanya tentang membangun manusia, tetapi juga menjaga alam sebagai bagian dari kehidupan. Nilai-nilai seperti ini sangat sejalan dengan semangat Kabupaten Malinau yang menjunjung tinggi kebinekaan dan toleransi,” ujar Wempi.
Kemudian kegiatan kedua yang dilaksanakan umat Buddha di hari yang sama pada malam hari bertempat di Ruang Tebengang, Kantor Bupati Malinau, yaitu perayaan Sannipata Tri Suci Waisak 2570 Buddhis Era (BE).
Terkait perayaan tersebut, Bupati Wempi menegaskan modal utama membangun daerah yang damai dan sejahtera adalah dengan terus merawat kerukunan dan toleransi antarumat beragama.
“Waisak tidak hanya dimaknai sebagai kegiatan ritual keagamaan, tetapi juga menjadi momentum memperkuat persaudaraan, meningkatkan kepedulian sosial, serta membangun kehidupan yang harmonis di tengah keberagaman,” katanya.
Wempi menyebutkan, di Kabupaten Malinau terdapat 11 suku asli dan lebih dari 15 paguyuban yang hidup berdampingan secara harmonis bersama berbagai pemeluk agama dan itu merupakan sebuah kekayaan dalam keberagaman.
Pemerintah daerah (pemda), kata Wempi, bersama Forum Kerukunan Umat Beragama (FKUB), lembaga adat, dan berbagai paguyuban terus berkomitmen menjaga kebersamaan yang selama ini telah terbangun.
“Yang paling penting bukan hanya menciptakan kerukunan, tetapi bagaimana kita terus merawatnya. Merawat kerukunan itu jauh lebih sulit, sehingga harus dilakukan bersama-sama,” tuturnya.
Sanghanayaka Sangha Theravada Indonesia, YM. Sri Subhapanno Mahathera, mengapresiasi dukungan Pemkab Malinau dalam berbagai aktivitas dan kegiatan yang dilaksanakan oleh umat Buddha Malinau.
Salah satunya, kata dia, perayaan Waisak. Menurutnya, ini menjadi salah satu perayaan Waisak yang paling berkesan karena mendapat dukungan penuh dari pemda, Forum Koordinasi Pimpinan Daerah (Forkopimda), serta seluruh elemen masyarakat.
“Kondisi seperti ini masih sangat jarang ditemui di berbagai daerah lain. Biasanya umat Buddha menyelenggarakan Waisak secara mandiri. Namun di Malinau, pemerintah memberikan perhatian dan dukungan penuh sehingga perayaan dapat berlangsung dengan baik dan sukses,” ujarnya.
Perayaan Waisak 2570 BE dengan tema “Menapaki Jalan Mulia, Bersumbangsih bagi Negeri”, katanya, merupakan momentum mengenang tiga peristiwa suci dalam kehidupan Buddha Gotama, yakni kelahiran, pencapaian penerangan sempurna, dan parinibbana.
Untuk itu, ia mengajak umat Buddha untuk menyeimbangkan pengamalan ajaran Dhamma dengan kepedulian sosial sebagai bentuk kontribusi nyata bagi bangsa.
“Ada tiga bentuk sumbangsih yang dapat dilakukan umat Buddha. Pertama, menjaga kerukunan, baik di internal umat Buddha maupun dengan pemeluk agama lain, sehingga kehidupan bermasyarakat tetap damai dan harmonis,” katanya.
Kedua, lanjutnya, membangun sarana pendukung praktik Dhamma, sekaligus membangun kualitas batin melalui pengembangan moral, meditasi atau pengendalian batin, serta kebijaksanaan.
“Contohnya peresmian Gedung SMB Samadhina di Malinau sebagai langkah positif dalam membentuk karakter generasi muda Buddhis,” ujarnya.
Kemudian yang ketiga, lanjutnya, mengendalikan diri melalui pikiran, ucapan, dan perbuatan yang baik. Dengan mampu menjaga diri sendiri, kata dia, seseorang akan lebih mudah hidup berdampingan, bersinergi, dan memberikan manfaat bagi lingkungan sekitarnya.
“Saya mengajak seluruh umat Buddha untuk menjadikan momentum Waisak sebagai kesempatan memperkuat nilai-nilai moral, memurnikan diri, serta meningkatkan kepedulian terhadap sesama demi mewujudkan Indonesia yang damai, rukun, dan sejahtera,” katanya.
Baca juga: Bupati Malinau: Pendidikan Tak Hanya Fokus Pada Peningkatan Akademik
Baca juga: Bandara Malinau Bidik Rute Baru Penerbangan ke Samarinda
Pewarta : Agus Salam
Editor:
Susylo Asmalyah
COPYRIGHT © ANTARA 2026
Dilarang keras mengambil konten, melakukan crawling atau pengindeksan otomatis untuk AI di situs web ini tanpa izin tertulis dari Kantor Berita ANTARA.