Kebakaran Hutan Masih Jadi Masalah, Puluhan Ribu Hektare Ludes Terbakar
Jakarta -
Fenomena alam El Nino serta musim kemarau membuat kebakaran hutan dan lahan masih jadi masalah serius di pulau Sumatera. Puluhan ribu hektare hutan terbakar.
Balai Pengendalian Kebakaran Hutan Wilayah Sumatera Kementerian Kehutanan mencatat akumulasi luas kebakaran hutan dan lahan di Provinsi Riau sepanjang semester pertama tahun ini mencapai 15.477,9 hektare.
Kepala Balai Pengendalian Kebakaran Hutan (Dalkarhut) Wilayah Sumatera, Ferdian Krisnanto mengatakan angka ini berdasarkan hasil perhitungan dan analisis citra satelit secara kolaboratif oleh Kemenhut, Badan Riset dan Inovasi Nasional (BRIN), dan Kementerian Lingkungan Hidup (KemenLH) untuk periode 1 Januari hingga 30 Juni 2026.
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
"Berdasarkan karakteristik tanahnya, kebakaran masih didominasi oleh wilayah lahan gambut dengan rincian luas mencapai 14.227,3 hektare dan tanah mineral seluas 1.250,7 hektare," katanya seperti dikutip dari Antara, Jumat (17/7/2026).
Kabupaten Bengkalis menjadi wilayah terdampak paling parah dengan luasan mencapai 8.239,5 hektare, disusul Kabupaten Pelalawan di posisi kedua dengan total area terbakar seluas 4.582,0 hektare.
Sementara itu, wilayah lain juga mencatatkan dampak kebakaran yang cukup besar, seperti Kabupaten Indragiri Hilir seluas 956,6 hektare, Kota Dumai seluas 607,1 hektare, Kabupaten Rokan Hilir seluas 289,6 hektare, dan Kabupaten Siak dengan luasan mencapai 281,1 hektare.
Beberapa wilayah luasan kebakarannya tercatat di bawah 200 hektare. Kabupaten Kepulauan Meranti mencatatkan total area terbakar seluas 199,3 hektare, Kabupaten Kuantan Singingi seluas 103,1 hektare, Kabupaten Kampar seluas 90,1hektare, dan Kabupaten Indragiri Hulu dengan luas kebakaran mencapai 80,7 hektare.
Menteri Kehutanan Raja Juli Antoni pun menargetkan penurunan angka kebakaran hutan dan lahan (karhutla) melalui penguatan pencegahan dan pembenahan tata kelola penanganan di lapangan.
Langkah tersebut dilakukan seiring proyeksi musim kemarau yang datang lebih cepat dan berlangsung lebih lama dibandingkan biasanya. Berbagai upaya konkret perlu dipersiapkan sejak dini agar karhutla dapat dikendalikan dengan lebih baik.
Menurut dia, target utama bukan hanya merespons kebakaran, tetapi menekan jumlah kejadian semaksimal mungkin melalui langkah-langkah pencegahan.
"Apa yang kita lakukan secara konkret agar kebakaran hutan dan lahan pada tahun ini dan tahun depan bisa kita kendalikan dengan lebih baik, angkanya lebih turun. Idealnya kalau bisa zero karhutla mungkin itu sangat ideal, tapi paling tidak angkanya bisa kita tekan semaksimum mungkin," kata Menhut Raja Antoni dikutip dari Antara.
Selain memperkuat pencegahan, Kementerian Kehutanan akan mengevaluasi berbagai instrumen pengendalian, mulai dari kebutuhan Operasi Modifikasi Cuaca (OMC), pemantauan tinggi muka air tanah (TMAT) di wilayah rawan, hingga kesiapan personel dan peralatan di lapangan.
Seluruh langkah tersebut akan dihitung berdasarkan kebutuhan riil agar penanganan karhutla berjalan lebih efektif. Pembenahan juga tidak hanya berfokus pada penanganan kasus kebakaran, tetapi juga mencakup penyempurnaan regulasi dan tata kelola agar pengendalian karhutla dapat berjalan lebih efektif dalam jangka panjang.
"Yang saya inginkan adalah perbaikan struktural, jadi bukan hanya kasus. Ada regulasi apa yang perlu diperbaiki, harus apa yang kita lakukan sehingga sifatnya berubah struktural dan long term, sehingga ada sesuatu yang lebih ajeg untuk teman-teman bergerak memperbaiki," tutup dia.
(wsw/wsw)