KB Bank Garap Rantai Pasok Lokal Lewat Korporasi Korea |Republika Online
REPUBLIKA.CO.ID, JAKARTA -- PT Bank KB Indonesia Tbk (KB Bank) memperluas pembiayaan ke rantai pasok lokal melalui ekosistem korporasi asal Korea Selatan (Korsel) yang beroperasi di Indonesia. Strategi tersebut menyasar rantai bisnis yang lebih luas, mulai dari perusahaan utama, pemasok, distributor hingga karyawan, di tengah hubungan bisnis Indonesia dan Korsel yang berkembang di sektor manufaktur, perdagangan, otomotif, dan bahan bangunan.
Direktur Wholesale Banking KB Bank Widodo Suryadi mengatakan, hubungan bisnis dengan korporasi asal Korsel menjadi pintu masuk untuk mengembangkan pembiayaan ke ekosistem bisnis di sekitarnya.
“Hubungan yang telah terbangun melalui segmen wholesale menjadi pintu masuk menghadirkan berbagai solusi ritel, mulai dari payroll, mortgage, wealth management, hingga consumer lending,” kata Widodo di Jakarta, Kamis (24/9/2026).
Strategi tersebut merupakan bagian dari pendekatan ecosystem-based yang diterapkan KB Bank. Melalui pendekatan ini, bank membidik rantai nilai secara lebih luas, mulai dari perusahaan utama (anchor company), pemasok, distributor hingga karyawan.
Korsel menjadi salah satu sumber investasi asing bagi Indonesia. Data Kementerian Investasi dan Hilirisasi yang dipaparkan dalam acara tersebut menunjukkan realisasi investasi Penanaman Modal Asing (PMA) Korsel di Indonesia pada 2025 mencapai 1,98 miliar dolar AS.
Widodo mengatakan, posisi KB Bank sebagai bagian dari KB Financial Group memberikan kedekatan dengan korporasi asal Korsel yang beroperasi di Indonesia. Koneksi tersebut dimanfaatkan untuk mempertemukan kebutuhan perusahaan Korea dengan ekosistem bisnis domestik.
“Kami melayani secara khusus korporasi asal Korea Selatan di Indonesia, seperti produsen manufaktur dan trading house, serta menghubungkan mereka dengan ekosistem rantai pasok lokal,” ujarnya.
Strategi tersebut juga dikembangkan melalui Korea-Indonesia Link. Selain menggarap korporasi Korea dan memanfaatkan jaringan global KB Financial Group, KB Bank memperkuat transaksi menggunakan mata uang lokal atau Local Currency Transaction (LCT).
Melalui skema tersebut, transaksi perdagangan bilateral dapat dilakukan secara langsung menggunakan rupiah dan won. KB Bank menyebut fasilitas tersebut ditujukan untuk meningkatkan efisiensi transaksi sekaligus menekan risiko nilai tukar.
Di tengah strategi pengembangan ekosistem tersebut, KB Bank mencatat penyaluran kredit Rp44,97 triliun pada semester I 2026, tumbuh 4,38 persen secara tahunan. Total aset mencapai Rp86,11 triliun atau tumbuh 12,71 persen secara tahunan.
Pertumbuhan kredit dilakukan secara selektif dengan mempertimbangkan kualitas portofolio dan profil risiko. Pada saat yang sama, Dana Pihak Ketiga (DPK) tumbuh 12,44 persen menjadi Rp45,57 triliun, sedangkan dana murah atau CASA meningkat 15,25 persen menjadi Rp14,71 triliun.
Dari sisi profitabilitas, pendapatan bunga bersih atau net interest income (NII) KB Bank melonjak 54,44 persen secara tahunan menjadi Rp695 miliar. Margin bunga bersih atau net interest margin (NIM) juga membaik dari 1,33 persen pada semester I 2025 menjadi 1,96 persen pada semester I 2026.
Widodo mengatakan, KB Bank masih akan memperluas bisnis wholesale secara terukur. Hingga akhir 2026, perseroan menargetkan pertumbuhan kredit sekitar 8-10 persen.