Kanada Balas Dendam ke Trump, Semua Produk AS Kena Tarif 15-50%

Kanada Balas Dendam ke Trump, Semua Produk AS Kena Tarif 15-50%

Jakarta, CNBC Indonesia - Perang dagang masih terjadi di dunia. Setidaknya ini terlihat dari eskalasi Kanada dan Amerika Serikat (AS).

Selasa (8/9/2026), Kanada menerapkan tarif balasan terhadap berbagai produk AS. Perundingan perdagangan kedua negara gagal bulan lalu dan hubungan Washington dan Ottawa semakin buruk.

Mengutip CNBC International, besaran tarif berkisar antara 15% hingga 50% untuk ratusan produk AS dengan nilai total US$27,6 miliar (sekitar Rp487,22 triliun). Produk-produk itu termasuk susu, peralatan pertanian, kertas, peralatan rumah tangga, dan elektronik.

Tarif Kanada atas produk baja, aluminium, dan besi AS naik dua kali lipat menjadi 50%. Furnitur, sepeda motor, pakaian, dan sejumlah produk kecantikan juga termasuk di antara barang yang dikenakan tarif tertinggi.

Pilihan Redaksi

  • "Kiamat" Baru Ancam Israel, Masa Depan Warga Terancam
  • Gardu Induk Terbakar, Polisi Buru Dalang Sabotase Berantai
  • Potret "Jembatan Cinta" Putin & Kim Jong Un Selesai & Diresmikan
  • Anak Krakatau Kembali Erupsi, Penerbangan Singapore Airlines Delay
  • Mantan Ketua DPR & Sepupu Presiden Ditangkap, Korupsi Rp 2,1 T

Kanada menyebut langkah ini sebagai respons setara (dollar-for-dollar) terhadap pungutan AS atas produk-produk negeri itu sebelumnya. AS menerapkan tarif ke barang Kanada sesuai dengan Section 301, Pasal dalam Trade Act of 1974 yang memberi kewenangan kepada pemerintah AS, melalui U.S. Trade Representative (USTR), untuk menyelidiki dan mengambil tindakan terhadap praktik perdagangan negara lain yang dianggap tidak adil, diskriminatif, atau merugikan perdagangan AS.

Lebih rinci, Departemen Keuangan Kanada menyatakan langkah ini bertujuan melindungi pekerja, produsen, dan manufaktur Kanada dengan memungkinkan mereka bersaing lebih baik melawan produk AS yang dijual di pasar domestik. Tarif balasan Kanada yang sudah ada terhadap AS, termasuk tarif 25% pada sektor otomotif yang sensitif secara politis, tetap diberlakukan.

Sebelumnya, perundingan perdagangan antara kedua sekutu lama ini kandas pada akhir Agustus. Pejabat dari kedua belah pihak saling menyalahkan atas kegagalan mencapai kesepakatan dan secara terbuka berselisih mengenai bidang-bidang yang tidak menemukan titik temu.

Senin, Presiden AS Donald Trump menyerukan boikot terhadap produsen pesawat Kanada, Bombardier. Di laman media sosialnya Truth Social, Trump mengatakan "Tidak Ada Lagi Penjualan Bombardie di Amerika Serikat".

AS sendiri mengekspor barang senilai US$333,6 miliar (Rp5.889 triliun) ke Kanada dan mengimpor barang senilai US$381,9 miliar (Rp6.741 triliun) dari negara tetangga di utara tersebut. Kedua negara terlibat dalam perdagangan di banyak sektor yang sama, termasuk energi, kendaraan, alat berat, pesawat terbang, farmasi, batu permata dan perhiasan, furnitur, pakaian, serta berbagai jenis makanan dan minuman.

Para ekonom menyatakan bahwa meskipun barang-barang yang terdampak hanya mencakup sebagian kecil dari total perdagangan, usaha kecil dan menengah serta pelaku usaha di sektor yang paling terdampak akan mengalami pukulan berat.

Di sisi lain, Ottawa mengumumkan paket dukungan senilai US$7,5 miliar (Rp 132, 4 triulun) bagi dunia usaha dan pekerja bulan lalu, sebagai tambahan atas dana sebesar US$25 miliar (Rp440,5 triliun) yang sebelumnya telah disediakan untuk merespons langkah ofensif tarif global AS yang dimulai pada April 2025.

(sef/sef) [Gambas:Video CNBC]