Iran Tantang AS Akui Kekalahan, Selat Hormuz Tetap Diblokade Trump Ingatkan Warga Bersiap Harga BBM Melonjak

Iran Tantang AS Akui Kekalahan, Selat Hormuz Tetap Diblokade Trump Ingatkan Warga Bersiap Harga BBM Melonjak

Wakil Menteri Luar Negeri Iran Kazem Gharibabadi mengatakan pada Sabtu, 15 Agustus 2026, bahwa pembukaan dan penutupan Selat Hormuz sepenuhnya berada di bawah kendali Iran.

"Selat ini akan dibuka dan ditutup hanya berdasarkan perintah Iran. Selama Anda tidak menerima kenyataan kekalahan dan berhenti memanjakan diri dengan fantasi, Iran akan terus memberlakukan blokade," kata Gharibabadi melalui X.

Ia juga menegaskan bahwa kendali atas Selat Hormuz tidak bisa direbut hanya melalui pernyataan politik maupun pengerahan militer.

"Selat Hormuz tidak dapat direbut melalui sebuah cuitan atau kapal induk, dengan mengeluarkan perintah atau menyampaikan pidato kampanye," ujarnya.

Selat Hormuz Nyaris Lumpuh

Selat Hormuz menjadi salah satu titik paling krusial dalam konflik AS-Iran karena merupakan jalur utama perdagangan energi dunia.

Sebelum perang antara AS dan Israel dengan Iran dimulai pada 28 Februari, sekitar seperlima ekspor minyak dunia melewati selat tersebut.

Namun, aktivitas pelayaran kini turun drastis.

Data perusahaan pelacakan kapal Kpler menunjukkan hanya dua kapal yang melewati Selat Hormuz pada Jumat. Salah satunya kapal pengangkut biji-bijian yang memasuki perairan Iran, sementara kapal curah kosong bergerak ke arah sebaliknya.

Satu kapal pengangkut produk gas minyak cair (LPG) yang kosong juga terlihat memasuki kawasan Teluk melalui selat tersebut. Tidak ada pengiriman minyak mentah yang terpantau.

Angka tersebut sangat jauh dibandingkan kondisi sebelum perang ketika lebih dari 130 kapal melintasi Selat Hormuz setiap hari.

Sebagian kapal mungkin tetap melintas dengan mematikan transponder sehingga tidak terdeteksi. Namun, skala lalu lintas saat ini tetap menunjukkan gangguan besar terhadap jalur perdagangan energi dunia.

Kapal yang Melintas Hadapi Risiko Serangan

Kapal yang berani melintasi Selat Hormuz tanpa izin Iran menghadapi risiko serangan rudal maupun drone.

Abu Dhabi National Oil Company (ADNOC) milik Uni Emirat Arab mengatakan dua kapalnya diserang ketika melintasi selat tersebut pada Kamis malam.

Sehari kemudian, kantor berita pemerintah Uni Emirat Arab, WAM, melaporkan kapal lain kembali menjadi sasaran serangan.

Iran menyebut pengendalian lalu lintas kapal tersebut sebagai blokade. Amerika Serikat juga menggunakan istilah serupa untuk menggambarkan ancamannya terhadap kapal-kapal Iran yang mencoba meninggalkan pelabuhan.

Kondisi ini membuat Selat Hormuz berubah menjadi salah satu titik paling berisiko bagi perdagangan energi global.

Trump Minta Warga AS Terima Harga BBM Lebih Mahal

Di tengah gangguan tersebut, Trump meminta masyarakat Amerika menerima kenaikan harga bensin selama perang dengan Iran berlangsung.

Dalam sebuah rapat politik di Garden City, New York, Jumat, Trump mengatakan warga AS harus bersedia membayar sedikit lebih mahal untuk bahan bakar demi mencegah Iran memiliki senjata nuklir.

Menurut Trump, membayar "sedikit lebih mahal untuk bensin" merupakan harga yang layak demi memastikan negara yang disebutnya "sangat jahat" tidak memiliki senjata nuklir.

Namun, kenaikan harga bahan bakar berpotensi menjadi masalah politik bagi Trump karena sebelumnya ia berjanji menekan biaya energi bagi masyarakat Amerika.

Data American Automobile Association (AAA) menunjukkan harga rata-rata bensin di AS mencapai sekitar US$4,08 per galon pada Jumat. Angka tersebut naik sekitar 29 persen dibandingkan US$3,16 pada periode yang sama tahun sebelumnya.

Harga Minyak Dunia Kembali Naik

Gangguan di Selat Hormuz juga mulai memberikan tekanan langsung terhadap pasar minyak dunia.

Harga kontrak minyak mentah naik sekitar US$1 per barel pada Jumat. Minyak Brent diproyeksikan mencatat kenaikan mingguan sekitar 6 persen, sedangkan West Texas Intermediate (WTI) naik sekitar 5,4 persen dalam sepekan.

Jika gangguan berlangsung lebih lama, pasar menghadapi risiko tekanan harga yang semakin besar karena Selat Hormuz merupakan jalur vital bagi pasokan energi global.

Dampaknya dapat merembet ke harga bensin, transportasi, logistik, hingga biaya produksi berbagai negara yang bergantung pada impor minyak dan gas.

Perundingan Damai AS-Iran Belum Dilanjutkan

Situasi semakin rumit setelah kesepakatan sementara pada Juni untuk mengakhiri perang dilaporkan gagal.

Belum ada tanda-tanda Washington maupun Teheran akan segera kembali ke meja perundingan.

Menteri Luar Negeri Iran Abbas Araqchi mengatakan belum ada keputusan mengenai dimulainya kembali negosiasi dengan Amerika Serikat.

Mediator Qatar dan Pakistan disebut masih berkomunikasi dengan Iran dan bertukar pesan. Namun, komunikasi tersebut belum dapat dianggap sebagai perundingan resmi.

Dengan demikian, peluang penyelesaian konflik dalam waktu dekat masih belum jelas.

Iran Akui Ada Tekanan Ekonomi

Di balik sikap keras pemerintah Iran, dampak ekonomi perang mulai terasa di dalam negeri.

Presiden Iran Masoud Pezeshkian menyalahkan tingginya inflasi terhadap blokade AS terhadap pelabuhan Iran dan sanksi terhadap ekspor minyak negara tersebut.

Sementara itu, Trump dan Menteri Keuangan AS Scott Bessent berjanji akan meningkatkan tekanan ekonomi terhadap Teheran.

Bessent mengatakan bahwa Washington akan mengumumkan langkah-langkah baru terhadap Iran pada pekan berikutnya.

Konflik Berpotensi Meluas ke Laut Merah

Ketegangan juga kembali meningkat di kawasan Laut Merah setelah kelompok Houthi yang didukung Iran melakukan serangkaian serangan terbaru.

Pemerintah Yaman yang diakui secara internasional mengatakan Houthi menembakkan enam rudal balistik ke pelabuhan Mocha di Laut Merah pada Jumat. Serangan tersebut dilaporkan menewaskan empat warga sipil.

Secara terpisah, kantor berita Saba yang dikelola Houthi mengutip sumber militer yang mengatakan kelompok tersebut menyerang fasilitas Aramco di kota Najran, Arab Saudi, menggunakan drone.

Rangkaian serangan tersebut meningkatkan kekhawatiran bahwa perang AS-Iran dapat berkembang menjadi konflik regional yang lebih luas.

Sumber: Reuters