IPR: Masyarakat jangan terjebak soal isu kerusuhan di Jakarta

IPR: Masyarakat jangan terjebak soal isu kerusuhan di Jakarta

Jakarta (ANTARA) - Direktur Eksekutif Indonesia Political Review (IPR) Iwan Setiawan meminta masyarakat tidak panik menyikapi isu potensi kerusuhan di Jakarta yang belakangan kembali ramai dengan narasi "Rusuh Agustus Jilid II".

Menurut dia, isu tersebut memang perlu diwaspadai, tetapi tidak boleh direspons dengan ketakutan. Sebab, sejauh ini narasi mengenai potensi kerusuhan jauh lebih masif beredar di ruang media sosial dibandingkan dengan indikator nyata di lapangan.

"Jangan takut, tetapi tetap waspada. Kita harus bisa membedakan antara ancaman keamanan yang nyata dengan perang narasi di media sosial," ujar Iwan dalam keterangan di Jakarta, Senin.

Ia menilai terdapat pola yang patut diperhatikan dalam penyebaran isu tersebut. Narasi mengenai kerusuhan tidak hanya muncul sekali, tetapi diproduksi berulang, diperkuat melalui berbagai akun, kemudian diarahkan untuk membangun persepsi dan emosi publik.

"Kalau kita melihat polanya, ada indikasi upaya mengonsolidasikan emosi publik melalui media sosial. Narasi tertentu terus diulang, diperbesar, kemudian didorong oleh jaringan akun dan buzzer. Ini yang harus diwaspadai," ujarnya.

Baca juga: PW GPA DKI serukan jaga persatuan dan tolak provokasi unjuk rasa

Dalam perspektif keamanan-sosial-politik, menurutnya, media sosial saat ini dapat menjadi ruang mobilisasi opini sekaligus mobilisasi emosi. Untuk itu, aparat penegak hukum dan intelijen perlu melakukan pemetaan terhadap pola penyebaran konten provokatif.

"Secara akademis, pola penyebaran informasi, momentum, tema yang digunakan hingga jaringan akun yang menyebarkannya dapat menjadi indikator untuk membaca kemungkinan adanya aktor atau kepentingan tertentu. Tetapi jangan kemudian kita melakukan tuduhan tanpa bukti. Kalau ada dugaan pelanggaran hukum, tentu harus dibuktikan melalui proses hukum," ucapnya.

Iwan mengingatkan bahwa bahaya terbesar saat ini justru ketika masyarakat terjebak dalam kepanikan akibat informasi yang belum terbukti.

"Jangan sampai karena terlalu sering diberi narasi tentang kerusuhan, masyarakat kemudian percaya bahwa kerusuhan pasti terjadi. Ini berbahaya. Kepanikan publik justru bisa menjadi bahan bakar yang menciptakan situasi yang sebelumnya belum tentu terjadi," katanya.

Oleh karena itu, Iwan meminta masyarakat tidak ikut menyebarluaskan konten yang belum terverifikasi, terutama informasi yang berisi ajakan melakukan kekerasan, provokasi atau klaim mengenai kerusuhan yang tidak memiliki sumber jelas.

"Pesan saya sederhana agar masyarakat tidak perlu takut. Tetap beraktivitas secara normal, tetapi jangan mudah percaya dan jangan ikut menyebarkan provokasi. Verifikasi informasi sebelum membagikannya," ujarnya.

Baca juga: Pelajar Islam Indonesia tolak aksi demonstrasi timbulkan provokasi

Di sisi lain, ia meminta pemerintah dan aparat keamanan tidak boleh lengah. Pemantauan terhadap ruang digital harus dilakukan secara profesional dengan tetap menghormati kebebasan berekspresi dan ketentuan hukum.

"Negara harus waspada terhadap kemungkinan adanya pihak yang sengaja memproduksi dan memperbesar keresahan, tetapi masyarakat juga harus tenang dan tidak terprovokasi," katanya.

Iwan mengatakan kondisi keamanan Jakarta harus dijaga bersama. "Jangan sampai ruang digital justru menjadi tempat membangun ketakutan yang kemudian berdampak pada kondisi sosial di dunia nyata," ujarnya.

Baca juga: Aliansi Masyarakat Jakarta ajak warga tolak provokasi dan tetap damai

Baca juga: JMP kecam hoaks kerusuhan di Jakarta, ingatkan bahaya provokasi

Pewarta: Benardy Ferdiansyah
Editor: La Ode Masrafi
Copyright © ANTARA 2026

Dilarang keras mengambil konten, melakukan crawling atau pengindeksan otomatis untuk AI di situs web ini tanpa izin tertulis dari Kantor Berita ANTARA.