Ini Hitung-hitungan Dagang di Balik Keputusan RI Gabung WICO

Ini Hitung-hitungan Dagang di Balik Keputusan RI Gabung WICO

Di acara peresmian WICO, Pemerintah juga menajajaki peluang investasi dengan sejumlah perusahaan besar, di antaranya ByteDance, Huawei, Deep Robotics, Unitree Robotics, dan FiberHome

AKURAT.CO Keputusan Indonesia bergabung sebagai salah satu negara pendiri World Artificial Intelligence Cooperation Organization (WICO) tidak hanya didorong oleh perkembangan teknologi kecerdasan buatan (Artificial Intelligence/AI).Β 

PemerintahΒ juga melihat organisasi tersebut sebagai peluang untuk memperkuat hubungan ekonomi dengan China, mitra dagang sekaligus salah satu investor terbesar Indonesia.

Menteri Koordinator Bidang Perekonomian, Airlangga Hartarto mengatakan, kerja sama AI tidak dapat dipisahkan dari hubungan perdagangan, investasi, dan pengembangan industri yang selama ini telah terjalin erat antara Indonesia dan China.

"Indonesia dengan China memiliki nilai perdagangan sekitar USD160 miliar pada tahun lalu. Itu merupakan hubungan perdagangan terbesar yang dimiliki Indonesia. Sementara investasi langsung dari China mencapai sekitar USD7 miliar, ditambah sekitar USD10 miliar yang masuk melalui Hong Kong," kata Airlangga dalam konferensi pers usai menghadiri World Artificial Intelligence Conference (WAIC) 2026 di Shanghai secara daring, Jumat malam (17/7/2026).

Baca Juga: RI Pilih Gabung WICO, Jalan Tengah AI China-AS

Menurut Airlangga, besarnya hubungan ekonomi tersebut menjadi modal penting untuk memperluas kolaborasi di sektor teknologi, termasuk pengembangan AI yang kini menjadi salah satu fokus baru kerja sama kedua negara.

Airlangga menjelaskan, hubungan Indonesia dan China selama ini didominasi sektor perdagangan, investasi manufaktur, hilirisasi mineral, hingga pembangunan infrastruktur. Kini, kerja sama mulai bergeser ke bidang ekonomi digital dan teknologi tinggi.

Keikutsertaan Indonesia dalam WICO dinilai membuka peluang bagi kedua negara untuk memperluas kolaborasi pada pengembangan AI, pusat data, robotika, komputasi awan (cloud computing), hingga infrastruktur digital.

"China merupakan mitra strategis Indonesia. Karena itu, penguatan kerja sama digital menjadi bagian penting dari hubungan ekonomi kedua negara," ujarnya.

Selama berada di Shanghai, delegasi Indonesia tidak hanya mengikuti forum internasional, tetapi juga menggelar serangkaian pertemuan dengan perusahaan-perusahaan teknologi China.

Airlangga mengungkapkan delegasi pemerintah bertemu dengan sejumlah perusahaan besar, di antaranya ByteDance, Huawei, Deep Robotics, Unitree Robotics, dan FiberHome.

Pertemuan tersebut dimanfaatkan untuk menjajaki peluang investasi, transfer teknologi, serta kerja sama pengembangan AI yang dapat mendukung transformasi digital Indonesia.

Selain itu, Airlangga juga melakukan pertemuan bilateral dengan Menteri Perdagangan China Wang Wentao untuk mengevaluasi implementasi berbagai nota kesepahaman (Memorandum of Understanding/MoU) yang telah disepakati kedua negara.

Dalam pertemuan bilateral tersebut, pemerintah juga membahas perkembangan sejumlah proyek investasi yang telah berjalan.

Salah satunya adalah implementasi kerja sama industri melalui skema Two Countries Twin Parks, termasuk pengembangan kawasan industri di Batang, Jawa Tengah.

Airlangga mengatakan kedua pihak juga mengevaluasi realisasi MoU investasi dengan nilai sekitar USD2,5 miliar yang telah ditandatangani sebelumnya.

"Kami membahas evaluasi kerja sama industri dan perdagangan, termasuk implementasi beberapa MoU yang sudah berjalan serta berbagai tantangan investasi di lapangan," ujarnya.

Menurutnya, pemerintah juga menyampaikan aspirasi perusahaan-perusahaan China yang beroperasi di luar kawasan ekonomi khusus agar memperoleh fasilitas yang lebih kompetitif.

Bagi pemerintah, WICO bukan hanya forum untuk membahas perkembangan AI, tetapi juga menjadi pintu masuk memperkuat hubungan ekonomi yang telah terjalin.

Airlangga menilai AI akan menjadi salah satu sektor yang menentukan arah investasi global dalam beberapa tahun mendatang. Oleh karena itu, Indonesia perlu hadir sejak awal agar dapat menarik lebih banyak investasi berbasis teknologi sekaligus memperluas peluang kolaborasi riset dan inovasi.

"Dengan mengoptimalkan WICO, kita bisa memperluas transfer of technology dan membuka kesempatan yang lebih besar bagi Indonesia dalam pengembangan ekonomi digital," kata Airlangga.

Pemerintah memperkirakan nilai ekonomi digital Indonesia mencapai sekitar USD130 miliar pada 2026 dan berpotensi meningkat menjadi USD366 miliar pada 2030.

Target tersebut dinilai hanya dapat dicapai jika Indonesia mampu memperkuat ekosistem teknologi, menarik investasi, dan meningkatkan kapasitas sumber daya manusia.

Dalam konteks itu, kerja sama AI dengan China dipandang sebagai salah satu instrumen untuk mempercepat transformasi ekonomi nasional.

Airlangga menegaskan Indonesia tidak ingin hanya menjadi pasar bagi teknologi asing. Pemerintah ingin memanfaatkan hubungan dagang dan investasi yang telah kuat dengan China untuk mendorong transfer teknologi, memperluas inovasi, meningkatkan daya saing industri nasional.