Ini 20 Pemilik Terbesar Surat Utang Amerika, Kuasai Rp 165.000 Triliun
Elvan Widyatama, CNBC Indonesia
29 August 2026 10:00
Jakarta, CNBC Indonesia - Utang pemerintah Amerika Serikat (AS) terus membengkak hingga menembus level tertinggi sepanjang sejarah sebesar US$40 triliun atau setara Rp710 kuadriliun (asumsi kurs Rp17.750/US$1).
Besarnya kebutuhan pembiayaan itu membuat pemerintah AS harus semakin banyak menerbitkan surat utang untuk menutup defisit dan membayar utang yang jatuh tempo.
Namun demikian, surat utang tersebut tidak hanya dibeli oleh investor domestik. Bank sentral, pemerintah, bank, perusahaan investasi, hedge fund, hingga investor swasta dari berbagai negara turut menempatkan dananya di pasar obligasi AS.
Lalu, negara mana yang tercatat sebagai pemegang surat utang AS terbesar?
Melansir data terbaru dari Treasury International Capital (TIC) milik departemen keuangan AS, menunjukkan total kepemilikan investor asing di surat utang pemerintah AS mencapai US$9,29 triliun atau setara Rp 164.897 triliun pada akhir Juni lalu.
Jumlah tersebut turun US$72,1 miliar atau 0,77% dibandingkan US$9,371 triliun pada Mei. Namun, jika dibandingkan Juni 2025, kepemilikan asing masih meningkat US$205,4 miliar atau naik 2,3%.
Arus pembelian juga melambat. Secara transaksi, surat utang AS hanya mencatat aliran dana masuk US$6,8 miliar pada Juni, jauh lebih kecil dibandingkan US$56,6 miliar pada Mei.
Jepang Masih Menjadi Pemegang Terbesar
Jepang masih menempati posisi pertama dengan kepemilikan US$1,117 triliun. Jumlah tersebut setara dengan sekitar 12% dari seluruh surat utang AS yang berada di tangan investor asing.
Namun, kepemilikan Jepang turun US$26,4 miliar dalam sebulan dan berkurang US$38,1 miliar dibandingkan Juni 2025.
Inggris berada di urutan kedua dengan kepemilikan US$939,9 miliar. Meski turun secara bulanan, nilainya masih meningkat US$84,3 miliar atau 9,9% dalam setahun.
China menempati posisi ketiga dengan US$633,4 miliar. Kepemilikannya turun US$25,9 miliar dalam sebulan dan berkurang US$98 miliar atau 13,4% dibandingkan Juni 2025.
Sebagai catatan, kepemilikan surat utang dicatat berdasarkan negara tempat aset tersebut disimpan melalui kustodian, bukan berdasarkan kewarganegaraan atau negara asal pemilik akhirnya.
Kepemilikan China Terendah Sejak 2008
Salah satu yang cukup menarik adalah adanya penurunan yang cukup besar pada kepemilikan China di surat utang AS. Dalam setahun Kepemilikan Negeri Tirai Bambu tersebut tercatat berkurang hampir seratus miliar dolar AS dari US$731,4 miliar menjadi US$633,4 miliar.
Bahkan, melansir dari Reuters, posisi terakhir ini bahkan menjadi yang terendah sejak September 2008, ketika kepemilikan China tercatat sebesar US$618,2 miliar.
Penurunan tidak selalu menunjukkan China meninggalkan seluruh aset berdenominasi dolar. Dana tersebut bisa saja dialihkan ke surat utang lembaga pemerintah AS, emas, aset dalam mata uang lain, atau disimpan melalui kustodian di negara lain.
China sendiri masih memiliki cadangan devisa sebesar US$3,41 triliun pada akhir Juni 2026. Dengan demikian, surat utang pemerintah AS yang tercatat langsung atas nama investor China hanya sekitar 18,5% dari keseluruhan cadangan devisanya.
Selain China, India dan Brasil juga terlihat memangkas kepemilikan disana secara signifikan. Kepemilikan India turun US$41 miliar atau 18%, sedangkan Brasil berkurang US$47 miliar atau 21,8%.
Berapa Kepemilikan Indonesia?
Indonesia memang tidak masuk dalam daftar 20 pemegang terbesar surat utang AS. Namun, investor yang tercatat berasal dari Indonesia masih memiliki surat utang pemerintah AS sebesar US$32,01 miliar melalui data terakhir.
Nilainya turun 14% atau sekitar US$5,21 miliar dibandingkan US$37,22 miliar pada Mei. Jika dibandingkan tahun lalu, kepemilikan investor Indonesia masih naik US$614 juta.
Dari total tersebut, sebanyak US$20,09 miliar ditempatkan pada surat utang jangka panjang. Sisanya sebesar US$11,92 miliar berada pada surat utang jangka pendek.
CNBC INDONESIA RESEARCH
[email protected]
(evw/evw)