Indonesia Ngebut Garap Wisata Wellness

Indonesia Ngebut Garap Wisata Wellness

Jakarta - Kementerian Pariwisata (Kemenpar) mulai menggalakkan pengembangan wisata wellness sebagai salah satu strategi baru untuk meningkatkan daya saing pariwisata Indonesia. Tak sekadar membangun destinasi, ...

Jakarta -

Kementerian Pariwisata (Kemenpar) mulai menggalakkan pengembangan wisata wellness sebagai salah satu strategi baru untuk meningkatkan daya saing pariwisata Indonesia. Tak sekadar membangun destinasi, pemerintah kini menyiapkan ekosistem bisnis yang diharapkan mampu menarik wisatawan dengan pengeluaran tinggi.

Juru Bicara Kementerian Pariwisata, Nia Niscaya, mengatakan pengembangan wellness tourism menjadi salah satu fokus utama pemerintah karena dinilai mampu mendorong lahirnya pariwisata berkualitas.

"Kementerian Pariwisata saat ini memberikan perhatian besar pada pengembangan ekosistem bisnis wellness tourism sebagai strategi meningkatkan daya saing pariwisata," ujar Nia, dikutip dari Antara pada Selasa (28/7/2026).

SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT

Menurutnya, pengembangan tersebut mencakup peningkatan kualitas destinasi, standar layanan, inovasi produk, investasi, promosi, hingga peningkatan kapasitas sumber daya manusia.

Wisatawan yang datang untuk menikmati layanan wellness juga dinilai berbeda dibanding wisatawan biasa. Mereka umumnya mencari pengalaman yang lebih mendalam sehingga cenderung menghabiskan waktu lebih lama di destinasi dan membelanjakan uang lebih banyak.

"Wellness tourism berperan penting dalam sektor pariwisata karena menjadi komponen utama pendukung sport tourism, selain event, adventure tourism, dan experience based tourism atau integrated area tourism," kata Nia.

Data Kementerian Pariwisata menunjukkan aktivitas wellness menyumbang sekitar 13,35 persen dari kunjungan wisatawan mancanegara ke Indonesia sepanjang 2024.

Apa Itu Wisata Wellness?

Menurut Global Wellness Institute (GWI), wellness tourism merupakan perjalanan yang dilakukan seseorang untuk menjaga atau meningkatkan kesehatan fisik, mental, maupun emosional. Bentuknya bukan sekadar berlibur, tetapi juga mengikuti aktivitas seperti yoga, meditasi, spa, terapi air panas, konsumsi makanan sehat, hingga menikmati alam sebagai bagian dari proses pemulihan diri.

GWI juga menegaskan bahwa wisata wellness berbeda dengan wisata medis yang berfokus pada tindakan pengobatan atau operasi. Tren tersebut terus berkembang pesat.

GWI mencatat nilai ekonomi wellness global diperkirakan mencapai USD 6,8 triliun pada 2024 dan diproyeksikan melonjak menjadi sekitar USD 9,75 triliun pada 2029. Indonesia bahkan menjadi negara dengan ekonomi wellness terbesar di Asia Tenggara dengan nilai mencapai USD 55,77 miliar.

Belajar dari Negara Lain

Sejumlah negara telah lebih dulu sukses menjadikan wellness tourism sebagai produk unggulan. Thailand dikenal lewat perpaduan spa kelas dunia, pijat tradisional Thailand, hingga berbagai pusat retret kesehatan yang menarik wisatawan internasional.

Sementara Jepang mengembangkan wisata onsen atau pemandian air panas, dipadukan dengan praktik forest bathing (shinrin-yoku) yang memanfaatkan alam sebagai sarana relaksasi dan pemulihan.

India juga terus memperkuat posisinya melalui Ayurveda, yoga, dan meditasi yang menjadi daya tarik wisatawan dari berbagai negara.

Global Wellness Institute menyebut keberhasilan negara-negara tersebut terletak pada kemampuannya mengangkat tradisi lokal menjadi pengalaman autentik yang tidak bisa ditemukan di destinasi lain.

Bali dan Jakarta Jadi Pilot Project

Untuk mengejar peluang tersebut, Kementerian Pariwisata menetapkan Bali dan Jakarta sebagai wilayah percontohan pengembangan ekosistem wisata wellness pada 2026-2027.

Bali dipilih karena telah memiliki reputasi internasional sebagai destinasi spa, yoga, dan penyembuhan holistik berbasis budaya. Sementara Jakarta diposisikan sebagai pusat urban wellness yang menggabungkan layanan kesehatan modern, gaya hidup sehat, dan pengalaman kota premium.

Pemerintah juga mengandalkan kekayaan budaya Indonesia sebagai pembeda, mulai dari jamu, spa tradisional, aromaterapi, meditasi, kuliner sehat, hingga sumber daya panas bumi yang dapat dikembangkan menjadi pengalaman wellness khas Indonesia.

Pengembangan itu merupakan kelanjutan dari program Wonderful Indonesia Wellness yang dimulai pada 2025 di Yogyakarta dan Surakarta. Pemerintah juga menggandeng berbagai ajang internasional, termasuk Jogjakarta Cultural Wellness Festival dan ASEAN-Japan Center Wellness Tourism di Bali, untuk memperluas pasar wisatawan mancanegara.

Target utamanya ialah wisatawan dari negara dengan minat tinggi terhadap wisata kesehatan dan kebugaran seperti Swiss, Austria, Belgia, Amerika Serikat, serta sejumlah pasar Asia seperti Jepang, Korea Selatan, China, India, Australia, Singapura, Malaysia, dan Thailand.

Indonesia tidak akan hanya menjual panorama alam. Negeri ini berpeluang menjadi tujuan wisata bagi mereka yang mencari pengalaman yang sulit ditemukan di negara lain.