IIliza: Festival kenduri laot momentum perkuat pelestarian adat - ANTARA News Aceh
Banda Aceh (ANTARA) - Festival Kenduri Laot (laut) dan kenduri anak nelayan Aceh menjadi momentum memperkuat pelestarian hukum adat laut sekaligus mengedukasi generasi muda tentang pentingnya menjaga ekosistem pesisir kata Wali Kota Banda Aceh, IIliza Sa'aduddin Djamal.
"Kenduri laot bukan sekadar tradisi, melainkan juga mengandung nilai keislaman, sosial, budaya, dan lingkungan yang harus terus dijaga," kata IIliza Sa'aduddin Djamal saat menghadiri festival kenduri laot (laut) dan kenduri anak nelayan Aceh, di Dermaga Kantor Panglima Laot Lhok Kuala Cangkoi, Ulee Lheue, Banda Aceh, Rabu.
Ia menjelaskan, Festival kenduri laot merupakan salah satu warisan budaya masyarakat pesisir Aceh yang tidak hanya memperkuat identitas daerah, melainkan juga mengedukasi masyarakat mengenai pentingnya menjaga kelestarian laut secara berkelanjutan berbasis hukum adat.
Tradisi yang telah diwariskan secara turun-temurun itu dilaksanakan masyarakat nelayan sebagai ungkapan rasa syukur atas rezeki hasil laut sekaligus mempererat kebersamaan masyarakat pesisir.
Kegiatan tersebut diisi dengan zikir dan doa bersama, kenduri anak yatim, memasak kuliner khas kuah beulangong, serta dilaksanakan festival seni dan budaya adat laot, lomba fotografi pesisir, serta pelesiran di perairan Ulee Lheue.
IIliza menyampaikan, tradisi ini mengajarkan nilai keislaman melalui doa dan rasa syukur, nilai sosial melalui kebersamaan, nilai budaya sebagai warisan leluhur
"Tak hanya itu, tetapi juga mengajarkan nilai lingkungan agar pemanfaatan sumber daya laut tetap disertai tanggung jawab menjaga kelestarian,” ujar Illiza.
Sementara itu, Panglima Laot Lhok Kuala Cangkoi, Ulee Lheue, Banda Aceh, Syafa'at mengatakan kenduri laot merupakan bentuk rasa syukur nelayan kepada Allah SWT atas hasil laut yang diberikan.
“Kenduri laot ini adalah satu prosesi rasa syukur kita terhadap Allah yang telah memberikan kita rezeki dan juga sedekah di laut. Itu juga makna dari kenduri laut,” katanya.
Ia menuturkan, dalam rangkaian kenduri laot ini juga dilakukan pelepasan umpan ikan di tengah perairan Kuala Cangkoi sebagai simbol sedekah di laut. Tradisi tersebut turut melibatkan anak-anak yatim yang diajak berlayar menggunakan kapal nelayan agar mengenal budaya maritim sejak usia dini.
Sebagai informasi, Panglima Laot merupakan lembaga hukum adat laut Aceh yang membawahi nelayan di Aceh. Semua permasalahan yang berhubungan dengan nelayan di laut tidak terlepas dari wewenang lembaga tersebut.
Selain memimpin pelaksanaan hukum adat laut, kata Syafa'at, Panglima Laot juga memiliki tanggung jawab menjaga kelestarian ekosistem laut dan mencegah praktik penangkapan ikan yang merusak lingkungan.
Dirinya berharap, tradisi kenduri laot ini terus dilestarikan dengan melibatkan keluarga nelayan agar nilai-nilai adat tetap diwariskan kepada generasi berikutnya.
“Inilah salah satu upaya kita mengajak para keluarga, istri nelayan, anak nelayan untuk ikut agar ke depan mereka bisa meneruskan dan melestarikan kebudayaan ini," demikian Syafa'at.
Pewarta: Salsabila
Editor : M Ifdhal
COPYRIGHT © ANTARA 2026
Dilarang keras mengambil konten, melakukan crawling atau pengindeksan otomatis untuk AI di situs web ini tanpa izin tertulis dari Kantor Berita ANTARA.