Harga Minyak Turun 3 Hari Beruntun, Kekhawatiran Pasokan Mereda - Energi Katadata.co.id
Harga minyak dunia turun untuk hari ketiga berturut-turut seiring meredanya kekhawatiran pasokan. Para pelaku pasar sedang menanti progres diplomasi yang akan menentukan arah perang antara Amerika Serikat dan Iran.
Harga minyak Brent turun 0,9% menjadi US$ 103,90 per barel pada pukul 09.38 waktu Singapura. Sementara itu, harga minyak West Texas Intermediate (WTI) turun 0,7% menjadi US$ 101,16 per barel.
Kekhawatiran pasokan mereda sebab Arab Saudi kini bergerak memulihkan pipa minyak East-West yang rusak menuju pesisir Laut Merah. Arab Saudi menargetkan sekitar separuh kapasitas pipa tersebut dapat kembali beroperasi dalam beberapa hari. Pada saat yang sama, sejumlah kapal tanker masih terus melintasi Selat Hormuz yang menjadi wilayah sengketa.
Presiden Donald Trump mengatakan akan ada keputusan besar yang diambilnya terkait dengan serangan Teheran. Trump rencananya akan melakukan pertemuan dengan negara-negara Teluk Persia di sela-sela Sidang Majelis Umum Perserikatan Bangsa-Bangsa (PBB) pekan depan.
Selain itu, Trump juga dijadwalkan menggelar pertemuan tingkat tinggi dengan Presiden China Xi Jinping yang berpotensi membahas perang tersebut.
Menjelang pertemuan itu, Beijing secara tertutup meminta Iran membantu menahan pergerakan kelompok militan Houthi. Hal ini dilakukan setelah Riyadh meminta bantuan kepada Cina.
Kelompok militan yang didukung Teheran tersebut dalam beberapa hari terakhir telah meningkatkan aktivitasnya di Yaman menuju titik sempit Bab el-Mandeb. Kelompok itu juga menyerang sejumlah fasilitas di Arab Saudi.
Harga minyak mentah mengakhiri pekan yang bergejolak dengan kekhawatiran pasokan menjadi perhatian utama. Harga minyak sempat menguat akibat gangguan pada jaringan pipa Arab Saudi sebelum kemudian berbalik turun.
Minyak Brent yang menjadi patokan global, masih naik lebih dari 70% sejak awal tahun akibat konflik di Timur Tengah serta perang Rusia-Ukraina. Kondisi tersebut meningkatkan kekhawatiran terhadap inflasi. Goldman Sachs Group Inc. memperkirakan harga bensin masih akan naik.
“Penurunan harga minyak baru-baru ini tampaknya efek meredanya premi risiko geopolitik ketimbang pembalikan fundamental,” kata Head of Market Insights di Phillip Nova Pte Ltd. di Singapura, Priyanka Sachdeva dikutip dari Bloomberg, Jumat (18/9).
Ia mencatat harga minyak masih berada di atas level US$ 100 per barel. Menurut dia, meskipun sentimen pasar tidak lagi seagresif sebelumnya dalam melihat kenaikan harga, kondisi tersebut masih jauh dari sentimen bearish. Pelaku pasar masih menunggu bukti pemulihan pasokan.
Analis JPMorgan Chase & Co., termasuk Natasha Kaneva, mengatakan durasi perang Iran serta dampaknya terhadap arus pasokan minyak kini semakin sulit diprediksi.
“Untuk pertama kalinya sejak konflik Iran dimulai, kami tidak memiliki pandangan dasar,” Kami benar-benar tidak tahu bagaimana memodelkan akhir dari konflik ini,” kata para analis.
Menteri Energi AS Chris Wright memperkirakan rata-rata volume dalam tujuh hari terakhir mencapai 11 juta barel per hari. Namun, Clarksons Research memperkirakan volumenya sekitar 8 juta barel per hari.
Risiko terhadap pelayaran di Selat Hormuz masih berlanjut di tengah ancaman Iran terhadap kapal-kapal yang menggunakan rute yang dianggap tidak disetujui oleh Teheran.
Sementara itu, Saudi Aramco tengah berupaya mendapatkan ribuan ton solar dari kawasan Mediterania setelah serangan terhadap fasilitas energinya.
Peningkatan pembelian tersebut telah berlangsung sebelum serangan pekan lalu terhadap East-West Pipeline, tetapi bertepatan dengan sejumlah insiden yang dilaporkan terjadi di fasilitas pengolahan bahan bakar dalam beberapa bulan terakhir.