Harga Bitcoin Tembus US$ 86.000, Sinyal “Crypto Winter” Mulai Berakhir? - Keuangan Katadata.co.id
Harga Bitcoin kembali menguat dan menembus level US$ 86.000 pada Senin, melanjutkan reli yang terjadi dalam beberapa hari terakhir. Kenaikan tersebut membuat investor mulai mempertanyakan apakah periode “crypto winter” atau fase lesunya harga aset digital telah berakhir.
Berdasarkan data Coinmarketcap, Bitcoin diperdagangkan di kisaran US$85.728,99 atau naik sekitar 5,9%. Pada perdagangan sebelumnya, harga Bitcoin bahkan sempat menyentuh US$86.349,90, level tertinggi sejak akhir Januari.
Fase tersebut dimulai setelah Bitcoin mencetak rekor tertinggi sepanjang masa di atas US$ 126.000 pada Oktober 2025.
Dilansir dari CNBC, Matt Hougan, Chief Investment Officer Bitwise, menilai periode tersebut kemungkinan telah berakhir. Ia menyebut pasar kripto kini memasuki fase yang lebih positif.
“Saya memang berpikir bahwa itu sudah berakhir. Sekarang adalah musim semi kripto, bunga crocus mulai bermekaran,” ujar Hougan. Menurut dia, kondisi saat ini bahkan berpotensi menjadi pasar bullish terkuat dan terpanjang dalam sejarah industri kripto.
Bitcoin Masih di Bawah Rekor Tertinggi
Meski masih mencatat penurunan sepanjang tahun berjalan, Bitcoin telah menguat lebih dari 8% dalam sepekan terakhir dan sekitar 34% dalam tiga bulan terakhir. Namun, harga tersebut masih cukup jauh dari rekor tertingginya.
Hougan mengatakan, pelemahan harga sebelumnya tidak sepenuhnya mencerminkan perkembangan fundamental industri kripto yang justru terus membaik.
Ia menyoroti meningkatnya aktivitas transaksi di berbagai jaringan blockchain serta semakin besarnya keterlibatan perusahaan-perusahaan keuangan besar, termasuk BlackRock.
“Kita mengalami situasi yang tidak biasa. Harga mengalami penurunan secara siklus, sementara fundamental justru terus membaik secara struktural,” kata Hougan.
Ia memperkirakan harga aset kripto pada akhirnya akan mengejar perbaikan fundamental tersebut menjelang akhir tahun. “Saya rasa jika saya kembali tahun depan, kita tidak akan lagi berada di bawah rekor tertinggi sepanjang masa tersebut,” ujarnya.
Sementara itu, analis BTIG dalam catatan risetnya pada Minggu mengatakan level US$ 75.000 menjadi area penting bagi Bitcoin. Selama level tersebut bertahan, Bitcoin dinilai memiliki ruang untuk bergerak melewati US$ 82.000 dan selanjutnya menuju US$ 90.000.
Penguatan Bitcoin juga diikuti saham-saham yang berkaitan dengan industri kripto. Saham Strategy dan Coinbase tercatat menguat dalam perdagangan di Amerika Serikat pada Senin.
Investor Alihkan Dana dari Saham AI?
Reli Bitcoin terjadi di tengah perkembangan regulasi kripto di Amerika Serikat. Pekan lalu, Senat AS memblokir upaya untuk melanjutkan Clarity Act, rancangan regulasi yang dirancang untuk membentuk kerangka aturan bagi industri kripto serta membagi kewenangan pengawasan antara Securities and Exchange Commission (SEC) dan Commodity Futures Trading Commission (CFTC).
Menurut Hougan, kegagalan Clarity Act untuk maju tidak serta-merta menjadi kabar buruk bagi pasar kripto. Ia menilai kebijakan regulator AS saat ini justru semakin mendukung industri tersebut. Ia juga merujuk pada Genius Act yang telah disahkan tahun lalu sebagai salah satu perkembangan regulasi pendukung pasar kripto.
“Ini adalah SEC yang paling pro-kripto dalam sejarah Amerika Serikat; begitu juga CFTC,” kata Hougan.
Selain faktor regulasi, Hougan melihat adanya perubahan arus investasi di pasar. Menurut dia, sebagian investor mulai mengalihkan dana dari saham-saham terkait kecerdasan buatan (AI) kembali ke aset kripto.
Ledakan saham AI sebelumnya menarik sebagian besar perhatian investor, khususnya investor yang mengejar momentum harga. Namun, ketika reli saham AI mulai mereda, aliran dana tersebut disebut mulai berputar kembali ke sektor kripto.
"Sekarang setelah tren itu mulai mereda, kita melihat dana tersebut berputar kembali ke kripto,” ujar Hougan.