Gunung Anak Krakatau Siaga, Apakah Wisata Anyer dan Carita Masih Aman Dikunjungi?
Bagikan:
SERANG - Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) Provinsi Banten memperkuat langkah mitigasi dan kesiapsiagaan menyusul status Level III atau Siaga Gunung Anak Krakatau (GAK).
Meski demikian, masyarakat diminta tidak panik karena aktivitas pariwisata di kawasan Anyer dan Carita tetap aman.
Kepala BPBD Provinsi Banten Lutfi Mujahidin mengatakan, fokus pemerintah saat ini tidak hanya pada pemantauan aktivitas vulkanik Gunung Anak Krakatau, tetapi juga pada penguatan strategi mitigasi terhadap potensi dampak sekunder, terutama tsunami.
"Mitigasi sudah kita lakukan sejak awal tahun, bahkan kita perkuat setelah Level III status GAK," kata Lutfi di Serang, Antara, Senin, 17 Juli.
Ia menjelaskan masyarakat dan wisatawan tidak perlu khawatir berlebihan. Jika terjadi erupsi yang berpotensi memicu tsunami, sistem peringatan dini telah dirancang untuk memberikan waktu evakuasi yang cukup bagi warga pesisir.
Menurut dia, terdapat waktu emas atau golden time sekitar 40 menit yang dapat dimanfaatkan masyarakat untuk melakukan evakuasi secara aman setelah peringatan dikeluarkan.
Untuk memastikan kesiapan tersebut, BPBD Banten terus memperkuat koordinasi lintas sektor bersama Pusat Vulkanologi dan Mitigasi Bencana Geologi (PVMBG), Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG), TNI, Polri, serta pemerintah daerah.
Selain itu, BPBD juga memberikan pelatihan evakuasi cepat kepada Badan Penyelamat Wisata Tirta (Balawista) yang bertugas di sepanjang kawasan pesisir.
"Selain itu, BPBD juga memberikan pelatihan evakuasi cepat kepada Badan Penyelamat Wisata Tirta (Balawista) yang berjaga di sepanjang garis pantai," ujarnya.
Lutfi menegaskan keputusan evakuasi akan selalu didasarkan pada informasi resmi dan hasil analisis para ahli. Erupsi Gunung Anak Krakatau tidak serta-merta mengharuskan masyarakat mengungsi apabila tidak terdapat indikasi potensi tsunami.
Sementara itu, Pengamat Gunung Api PVMBG di Pos Pengamatan Gunung Anak Krakatau, Anggi Nuryo Saputro, mengingatkan masyarakat agar tidak menyamakan kondisi gunung saat ini dengan peristiwa tsunami Selat Sunda pada 2018.
Menurut dia, secara morfologi kondisi Gunung Anak Krakatau saat ini sudah jauh berbeda dibandingkan sebelum peristiwa tsunami tersebut.
Berdasarkan kajian PVMBG, tinggi tubuh Gunung Anak Krakatau saat ini berada di kisaran 158 meter di atas permukaan laut (mdpl), lebih rendah dibandingkan sebelum tsunami Selat Sunda 2018 yang mencapai sekitar 337 mdpl.
"Kondisinya tidak sama dengan tahun 2018. Namun, masyarakat tetap harus mematuhi rekomendasi PVMBG, yakni dilarang melakukan aktivitas dalam radius tiga kilometer dari kawah aktif. Semua informasi resmi dapat diakses melalui MAGMA Indonesia," kata Anggi.
Di tengah peningkatan status Gunung Anak Krakatau, aktivitas pariwisata di pesisir Banten tetap berlangsung normal.
BACA JUGA:
Berdasarkan pantauan di lapangan, sejumlah destinasi wisata seperti Pantai Bandulu di Anyer dan Pantai Pandan di Carita masih dipadati wisatawan dari berbagai daerah, antara lain Bekasi, Bogor, dan Tangerang, yang menikmati liburan dengan aman dan nyaman.
Add VOI as a Preferred Source
Follow VOI news updates across Google.
+