Efek Perang, Maskapai Asia Pasifik Dihantam Lonjakan Biaya Operasi

Efek Perang, Maskapai Asia Pasifik Dihantam Lonjakan Biaya Operasi

Jakarta - Konflik yang terus berlangsung di Timur Tengah serta meningkatnya ketegangan geopolitik diperkirakan akan memicu fluktuasi harga minyak dan nilai tukar mata uang, yang berpotensi menambah beban maskap...

Jakarta -

Konflik yang terus berlangsung di Timur Tengah serta meningkatnya ketegangan geopolitik diperkirakan akan memicu fluktuasi harga minyak dan nilai tukar mata uang, yang berpotensi menambah beban maskapai penerbangan.

Asosiasi Maskapai Asia Pasifik/Association of Asia Pacific Airlines (AAPA) memperkirakan biaya bahan bakar akan kembali meningkat tahun ini akibat lonjakan harga avtur dalam beberapa bulan terakhir. Padahal, bahan bakar masih menjadi komponen biaya terbesar bagi maskapai.

"Maskapai penerbangan menghadapi lingkungan biaya operasional yang terus tinggi, diperparah oleh kenaikan tajam harga bahan bakar jet. Akibatnya, pengeluaran bahan bakar, yang merupakan pos biaya operasional terbesar bagi maskapai penerbangan, diperkirakan akan meningkat tahun ini," ujar Direktur Jenderal AAPA Wong Hong

SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT

Meski tekanan biaya diperkirakan meningkat, AAPA tetap optimistis terhadap prospek industri penerbangan Asia Pasifik.

Pertumbuhan ekonomi kawasan yang diperkirakan mencapai 4,4% pada 2026 diyakini akan terus menopang permintaan perjalanan udara dan pengiriman kargo. Maskapai juga terus memperluas jaringan penerbangan serta meningkatkan layanan kepada pelanggan, sembari mempertahankan pengendalian biaya secara ketat.

Namun demikian, AAPA mengingatkan bahwa meningkatnya biaya operasional dapat memengaruhi daya beli masyarakat dan sentimen dunia usaha dalam beberapa bulan ke depan. Karena itu, efisiensi operasional akan menjadi kunci agar maskapai tetap mampu mempertahankan profitabilitas di tengah kondisi bisnis yang semakin menantang.

Kinerja Tahun 2025

Tahun 2025, maskapai-maskapai di kawasan Asia Pasifik membukukan kinerja keuangan yang tetap kuat. Meski dihadapkan pada gangguan rantai pasok dan tekanan inflasi, tingginya permintaan penumpang serta kargo berhasil mendorong laba bersih gabungan mencapai US$12,1 miliar atau sekitar Rp196 triliun (kurs Rp16.200 per dolar AS).

Data awal yang dirilis menunjukkan pendapatan operasional gabungan maskapai di kawasan ini mencapai US$223,7 miliar, meningkat 4,3% dibandingkan tahun sebelumnya yang sebesar US$214,5 miliar.

Kenaikan tersebut terutama ditopang oleh bisnis penumpang. Pendapatan dari sektor ini naik 4,7% menjadi US$178,4 miliar, didorong meningkatnya jumlah penumpang meski tarif rata-rata mengalami penurunan. Sementara itu, pendapatan dari bisnis kargo juga tumbuh 1,4% menjadi US$23,6 miliar, meskipun tarif angkutan barang melemah.

Sepanjang 2025, permintaan perjalanan udara di kawasan Asia Pasifik meningkat signifikan. Jumlah penumpang yang diukur melalui Revenue Passenger Kilometres (RPK) naik 7,7%, didukung tingginya permintaan perjalanan jarak jauh maupun penerbangan regional.

Di sisi lain, permintaan angkutan kargo udara yang diukur melalui Freight Tonne Kilometres (FTK) juga bertambah 3,5%. Pertumbuhan ini dipicu aktivitas pengiriman barang lebih awal menjelang kenaikan tarif perdagangan di sejumlah negara.

Harga Avtur Turun, Tapi Biaya Operasional Tetap Membengkak

Meski pendapatan meningkat, maskapai tetap menghadapi tekanan biaya operasional. Total pengeluaran operasional sepanjang 2025 naik 4,3% menjadi US$209,4 miliar.

Lonjakan terbesar berasal dari biaya non-bahan bakar yang naik 7,8% menjadi US$151,1 miliar. Kenaikan ini dipicu oleh gangguan rantai pasok yang masih berlangsung serta inflasi, sehingga biaya tenaga kerja, sewa pesawat, perawatan, hingga biaya bandara ikut meningkat.

Kabar baiknya, biaya bahan bakar justru turun 3,7% menjadi US$58,3 miliar, seiring penurunan harga avtur global sebesar 9,5% menjadi rata-rata US$88,8 per barel. Porsi biaya bahan bakar terhadap total biaya operasional pun turun menjadi 27,8%, lebih rendah 2,3 poin persentase dibanding tahun sebelumnya.

(ddn/ddn)