Keluarga: Bersahabat puluhan tahun, tes DNA ungkap dua perempuan ternyata kakak beradik - BBC News Indonesia

Keluarga: Bersahabat puluhan tahun, tes DNA ungkap dua perempuan ternyata kakak beradik - BBC News Indonesia

Meena Geltink, 43 tahun, dan Minal Tijssen, 44 tahun, yang lahir di India, diadopsi secara terpisah saat masih bayi dan dibesarkan tidak jauh satu sama lain di Belanda, bertemu setelah tes DNA mengungkap bahwa mereka adalah saudara kandung biologis.

Sumber gambar, Reuters

Keterangan gambar, Meena Geltink dan Minal Tijssen bertemu pada Agustus setelah hasil tes DNA mengungkap bahwa mereka adalah saudara kandung secara biologis.
    • Penulis, Geeta Pandey
    • Peranan, Editor Women Affairs, India
  • Telah diterbitkan 6 jam yang lalu

  • Waktu membaca: 6 menit

Dua perempuan kelahiran India yang kini berusia 40-an tahun, diadopsi saat masih bayi oleh keluarga yang berbeda. Mereka dibesarkan tidak jauh satu sama lain di Belanda.

Kini, dua perempuan itu baru mengetahui bahwa mereka adalah saudari kandung.

Meena Geltink dan Minal Tijssen, yang lahir pada awal 1980-an, diadopsi dari dua panti asuhan berbeda di Mumbai, India bagian barat, hanya beberapa bulan setelah mereka dilahirkan.

Saat pertama kali bertemu pada awal masa remaja dalam sebuah acara yang diselenggarakan oleh lembaga adopsi yang digunakan orang tua mereka, keduanya langsung dikejutkan oleh kemiripan luar biasa dalam penampilan maupun gestur mereka.

Meena, yang kini berusia 43 tahun, masih mengingat hari itu dengan jelas.

"Acara utamanya dijadwalkan pada Sabtu untuk mempertemukan keluarga-keluarga adopsi. Pada Jumat malam, semua anak adopsi dikumpulkan untuk berkumpul, saling mengenal, dan makan malam bersama."

Meena dan Minal sama-sama sedang dengan teman-teman mereka, yang kemudian memperkenalkan keduanya setelah menyadari betapa miripnya mereka.

"Mereka berkata, 'Coba lihat diri kalian di cermin.' Lalu saya berpikir, 'Ya Tuhan, hidungnya sama seperti hidung saya!' Tawa kami juga sama. Saat makan malam, saya terus memandanginya," kata Meena kepada BBC dari rumahnya di Belanda.

Dalam pertemuan keesokan harinya, kedua remaja itu saling bertukar nomor telepon dan alamat, lalu berjanji untuk tetap berhubungan.

Meski saat itu tidak ada petunjuk bahwa mereka memiliki hubungan darah, ikatan di antara mereka terjalin seketika.

Selama bertahun-tahun, mereka saling berkirim surat, bahkan sering menyapa satu sama lain dengan sebutan "saudari" karena, menurut Meena, "kami memang merasa seperti itu".

Mereka menulis tentang sekolah, teman-teman, anak laki-laki, jalan-jalan, dan menari.

Mereka juga saling bercerita tentang olahraga yang mereka tekuni serta musik yang mereka sukai, dan menemukan bahwa keduanya sama-sama penggemar Backstreet Boys.

Namun 15 tahun lalu, hubungan mereka terputus.

Meena, yang kini memiliki tiga anak, mengatakan bahwa saat itu ia baru melahirkan anak pertamanya dan sibuk mengurus keluarga.

Sementara itu, Minal pindah ke Prancis.

Perempuan kelahiran India, Meena Geltink (43) dan Minal Tijssen (44), yang diadopsi secara terpisah saat masih bayi dan dibesarkan tidak jauh satu sama lain di Belanda.

Sumber gambar, Meena Geltink

Keterangan gambar, Minal Tijssen dan Meena Geltink pertama kali bertemu saat remaja dan kemudian menjalin persahabatan.

Pada 2017, Meena menghadiri sebuah pertemuan lain yang diikuti para anak adopsi asal India.

Di sanalah ia pertama kali mendengar tentang tes DNA, dan memutuskan untuk berpartisipasi.

Namun selama hampir satu dekade, ia tidak menemukan kecocokan apa pun. Awal tahun ini, Meena bahkan menghapus aplikasi tersebut dari telepon genggamnya karena kehabisan ruang penyimpanan.

"Pada 20 Mei, saya menerima pesan di Facebook dari Minal. 'Masih ingat saya?' katanya. Saat berkunjung ke Belanda untuk menemui orang tuanya pada April, ia menjalani tes DNA. Ia juga menyertakan tangkapan layar hasil tesnya.

"Saya kemudian memasang kembali aplikasinya. Saya begitu gugup sampai salah memasukkan kata sandi 10 kali sebelum akhirnya berhasil masuk."

Hasilnya, mereka mendapatkan "kecocokan 100%".

"Saya memiliki seorang 'saudara kandung penuh', yang berarti kami memiliki ibu dan ayah kandung yang sama.

"Rasanya seperti mendapat suntikan adrenalin. Saya menangis. Minal adalah kepingan teka-teki yang hilang dan sudah lama saya cari. Kami selama ini saling memanggil saudari. Hasil tes DNA ini mengonfirmasi bahwa intuisi kami selama ini memang benar."

Kedua sahabat lama itu akhirnya bertemu kembali, kali ini sebagai saudari kandung, di sebuah taman pada suatu hari yang cerah di Agustus.

"Luar biasa. Rasanya seperti pulang ke rumah. Selama bertahun-tahun, saya dan Minal merasa ada ruang kosong besar di hati kami. Kini rasanya kami telah menjadi utuh. Segalanya terasa sebagaimana mestinya," kata Meena.

Dalam laporannya mengenai "reuni emosional" tersebut, Reuters menulis bahwa "air mata, pelukan, dan tawa mewarnai pertemuan mereka", yang kemudian diakhiri dengan swafoto pertama mereka bersama.

Minal, 44 tahun, yang tinggal di Prancis bersama pasangan dan dua putranya, mengatakan kepada Reuters bahwa ketika menerima hasil tes DNA pada April lalu, ia awalnya tidak menyadari bahwa kecocokan tersebut adalah gadis remaja yang pernah begitu dekat dengannya saat mereka pertama kali bertemu 30 tahun lalu.

Baru setelah melihat foto-foto Meena di media sosial, ia menyadari siapa orang tersebut.

"'Mina: Saudara perempuan.' Saya tidak percaya. Kami sudah berteman sebelum kami tahu bahwa kami bersaudara. Kami sebenarnya bersaudara sepanjang waktu itu, hanya saja kami tidak mengetahuinya," katanya.

Meena Geltink (43) dan Minal Tijssen (44), perempuan kelahiran India yang diadopsi secara terpisah saat masih bayi dan dibesarkan tidak jauh satu sama lain di Belanda, bertemu setelah tes DNA mengungkap bahwa mereka adalah saudara kandung biologis. Foto diambil di 's-Hertogenbosch, Belanda, pada 11 Agustus 2026.

Sumber gambar, Reuters

Keterangan gambar, Meena dan Minal melihat foto-foto mereka saat masih remaja.

Meena dan Minal diadopsi dari dua panti asuhan yang berbeda pada 1980-an, oleh dua pasangan Belanda yang juga berbeda.

Meena mengatakan ia tumbuh besar di sebuah desa kecil di Belanda dalam keluarga yang penuh kasih sayang.

"Orang tua saya adalah guru di sekolah swasta. Bahkan, mereka juga mengajar saya di sekolah. Mereka sangat penyayang dan sangat percaya kepada orang lain."

Ayahnya meninggal beberapa tahun lalu, tetapi ibunya masih tinggal di desa yang sama.

"Kami berbicara setiap hari. Dia masih menjadi tempat saya merasa aman," katanya.

Pada 2003, saat berusia 19 tahun, Meena mengunjungi panti asuhan di Mumbai bersama orang tua dan saudara laki-lakinya, yang juga diadopsi, dari Goa.

Selama dua minggu, mereka menelusuri berbagai catatan dan dokumen untuk mencari informasi tentang orang tua kandung Meena.

"Bagi saya, penting untuk mengetahui asal-usul saya, siapa ibu saya. Namun panti asuhan itu tidak bersedia mengungkapkan detail apa pun tentang mereka," katanya.

Dua perempuan kelahiran India, Meena Geltink (43) dan Minal Tijssen (44), yang diadopsi secara terpisah saat masih bayi dan dibesarkan tidak jauh satu sama lain di Belanda.

Sumber gambar, Meena Geltink

Keterangan gambar, Minal dan Meena saat mengikuti kegiatan retret akhir pekan pada masa remaja mereka pada 1990-an.

Sejak Mei, Meena dan Minal berbicara satu sama lain hampir setiap dua hari sekali. Mereka telah bertemu pasangan, anak-anak, saudara laki-laki, serta orang tua masing-masing.

"Semua orang memperhatikan bagaimana kami saling melengkapi kalimat, cara kami menggerakkan kepala, atau cara kami berjalan yang mirip," kata Meena.

Menurut Meena, fakta bahwa mereka adalah saudara kandung masih terus berproses untuk dipahami sepenuhnya. Ia menambahkan bahwa mereka kini berusaha menebus waktu yang telah hilang.

"Kadang-kadang kami mengobrol selama dua jam dan lupa waktu, lalu tiba-tiba teringat bahwa kami harus berbelanja atau menjemput anak dari sekolah."

Meena mengatakan ada satu hal yang sangat ingin ia dan saudari perempuannya lakukan, yakni kembali ke tempat di mana semuanya bermula.

"Kami ingin pergi ke India bersama suatu hari nanti, berjalan bersama di jalan-jalan Mumbai.

"Ada masa-masa ketika kami berdua merasa sangat kesepian, seperti saat saya kehilangan ayah atau mengalami patah hati. Saya menyesal kami tidak bisa berada di sisi satu sama lain pada saat-saat itu. Kami bisa berbagi kebahagiaan dan saling membantu melewati masa-masa sulit."