Ditolak Israel, Rencana Gaza Menjamin Serangan 7 Oktober Tidak Terulang
Bagikan:
JAKARTA - Rencana perdamaian terbaru di Jalur Gaza, Palestina yang ditolak disebut utusan Dewan Perdamaian (BoP) menjamin tidak terulangnya serangan terhadap Israel.
Utusan Dewan Perdamaian Nickolay Mladenov menyebut rencana perdamaian baru di Gaza yang terdiri dari 15 poin akan menjamin tidak terulangnya serangan 7 Oktober 2023.
Ia menyatakan penerapan penuh usulan perdamaian tersebut merupakan satu-satunya jaminan bagi Israel untuk menangkal ancaman terhadap keamanan nasional.
Mladenov mengatakan, serangan Hamas pada 7 Oktober 2023 - yang memicu perang Israel di Gaza - "tidak akan pernah dibiarkan terjadi lagi, selama rencana Dewan Perdamaian diterapkan sepenuhnya".
"Opsi yang kami tawarkan hari ini adalah satu-satunya jalan ke depan yang menjamin tragedi ini tidak akan terulang kembali," jelasnya, seperti melansir The National (10/8).
Pernyataan itu disampaikannya dalam wawancara dengan saluran televisi Israel, Channel 12, yang ditayangkan pada Minggu malam, beberapa jam setelah Perdana Menteri Benjamin Netanyahu menolak usulan baru tersebut dan menegaskan pasukan Israel tidak akan mundur sampai Hamas dilucuti senjatanya.
Rencana yang diungkapkan oleh para mediator pada 30 Juli itu menjabarkan langkah-langkah pelucutan senjata Hamas yang dilakukan bersamaan dengan penarikan militer Israel dari Gaza.
Sementara, Presiden Amerika Serikat Donald Trump menyebut rencana tersebut sebagai langkah yang "bersejarah".
Mladenov mengatakan, militer Israel diperkirakan tidak akan mundur dari posisi mereka saat ini tanpa adanya "pelucutan total seluruh senjata" milik Hamas.
Ia menyatakan pasukan Israel tidak boleh menempatkan personel di luar apa yang disebut sebagai "garis kuning" dan tidak boleh menembaki orang "kecuali jika mereka merupakan ancaman nyata".
Setelah proses pelucutan senjata diverifikasi, pasukan Israel diwajibkan untuk mundur "sektor demi sektor" dari garis kuning tersebut.
"Begitu setiap sektor selesai dilucuti senjatanya dan senjata-senjata tersebut telah disertifikasi—bahwa senjata itu telah diambil alih serta disimpan oleh NCAG (Komite Nasional untuk Administrasi Gaza) dan Dewan Perdamaian, serta dibuat tidak dapat digunakan lagi—maka Israel diwajibkan untuk mundur secara bertahap, langkah demi langkah," urainya
Mladenov menambahkan, tidak ada satu pun poin dalam rencana ini yang membatasi hak Israel untuk merespons ancaman apa pun yang mereka anggap nyata.
Jika Hamas tidak memenuhi komitmennya, proses tersebut akan dihentikan.
Saat ditanya mengenai keraguan terhadap kesediaan Israel untuk memenuhi janjinya, Mladenov mengatakan rencana perdamaian ini tidak didasarkan pada rasa saling percaya.
"Saya tidak membangun semua ini berdasarkan kepercayaan - begitu pula kami semua - dan kami sangat menyadari risiko-risiko ke depannya," ujarnya.
BACA JUGA:
"Kami membangunnya berdasarkan verifikasi, dan inilah premis dasarnya - yang saya ingin kedua belah pihak benar-benar yakini - bahwa berkat proses verifikasi tersebut, kita sebenarnya memiliki peluang," jelasnya.
Diketahui, rencana Dewan Perdamaian diumumkan setelah perundingan selama berbulan-bulan antara Dewan Perdamaian, Hamas, dan para mediator dari Mesir, Qatar, serta Turki mengenai masalah pelucutan senjata, yang secara luas dipandang sebagai salah satu bagian tersulit dalam negosiasi tersebut.
Israel tidak terlibat dalam pembicaraan pelucutan senjata itu, namun Hamas mengeluarkan pernyataan yang menerima rencana tersebut.
Add VOI as a Preferred Source
Follow VOI news updates across Google.
+