Distan Cirebon optimistis produksi padi bisa mencapai 370.000 ton di 2026 - ANTARA News Jawa Barat

Distan Cirebon optimistis produksi padi bisa mencapai 370.000 ton di 2026 - ANTARA News Jawa Barat

Cirebon (ANTARA) - Dinas Pertanian (Distan) Kabupaten Cirebon, Jawa Barat, optimistis produksi padi daerah ini bisa mencapai target 370.000 ton pada 2026, dengan dukungan pengairan melalui program hasil terbaik cepat (PHTC) pompanisasi.

"Produksi per hari ini ada sekitar 260.000 ton untuk padi. Target kita adalah 370.000 ton untuk tahun 2026, mudah-mudahan dapat tercapai," kata Kepala Distan Cirebon Deni Nurcahya, di Cirebon, Jumat.

Ia mengatakan salah satu dukungan terhadap produksi padi berasal dari PHTC pompanisasi, pada sejumlah wilayah yang mengalami keterbatasan pasokan air.

Deni menyebutkan PHTC pompanisasi di Blok Kayen, Desa Susukan, Cirebon telah membantu menyelamatkan 390 hektare sawah yang mengalami kekeringan dan terancam gagal panen atau puso.

Dari luasan tersebut, kata dia, sekitar 200 hektare sebelumnya berada dalam kondisi terancam puso karena pasokan air tidak mencukupi untuk memenuhi kebutuhan tanaman padi.

Untuk mengatasi kondisi tersebut, Kementerian Pertanian memberikan bantuan satu unit pompa irigasi bertekanan beserta pipa sepanjang 2,4 kilometer untuk mengalirkan air menuju areal persawahan.

"Blok Kayen ini sawahnya terdapat 390 hektare yang mengalami kekeringan dan terancam gagal panen atau puso," ujarnya.

Deni menjelaskan sumber air dari bendungan dan saluran irigasi dari arah Majalengka sebelumnya diperiksa, namun debitnya tidak mencukupi sehingga pihaknya mencari sumber air lain.

Ia menyebutkan hasil pengecekan menunjukkan saluran rentang kanan memiliki pasokan air yang lebih melimpah, sehingga dimanfaatkan sebagai sumber pengairan bagi lahan sawah di daerah tersebut.

Selain di Desa Susukan, kata dia lagi, PHTC pompanisasi diterapkan di Desa Geyongan, Kecamatan Arjawinangun, Cirebon dengan bantuan satu unit pompa dan pipa sepanjang 1,5 kilometer.

"Untuk Desa Geyongan, semua sudah teratasi dan petani juga sudah kita lihat ada combine harvester, sudah panen," kata Deni.

Menurut dia, keberadaan pompanisasi tersebut diharapkan tidak hanya menjaga tanaman dari ancaman puso saat kekeringan, namun membuka peluang peningkatan indeks pertanaman dari dua kali menjadi tiga kali dalam setahun.

"Indeks pertanaman karena untuk yang intervensi yang ini, karena memang kekeringan biasanya dua, mudah-mudahan dengan momentum ini untuk ke depan bisa tiga kali,” ujarnya.

Pewarta: Fathnur Rohman
Editor : Ricky Prayoga

COPYRIGHT © ANTARA 2026

Dilarang keras mengambil konten, melakukan crawling atau pengindeksan otomatis untuk AI di situs web ini tanpa izin tertulis dari Kantor Berita ANTARA.