Diakui Israel, Iran Lipat Gandakan Produksi Senjata
Senin, 24 Agustus 2026, 23:11 WIB
Warta Ekonomi, Jakarta -
Iran mengklaim produksi senjatanya meningkat dua kali lipat dalam setahun terakhir di tengah tekanan sanksi negara-negara Barat dan ancaman militer Amerika Serikat.
Peningkatan produksi tersebut disebut terjadi sejak Juni 2025, terutama setelah pengalaman Iran dalam Perang Dua Belas Hari. Pemerintah Iran menyebut pengalaman konflik memberikan pelajaran dalam penggunaan persenjataan sekaligus mendorong pengembangan teknologi pertahanan.
Juru bicara Kementerian Pertahanan Iran Brigadir Jenderal Reza Talaei-Nik mengatakan sanksi yang telah berlangsung selama puluhan tahun justru mendorong Iran memperkuat kemampuan produksi dalam negeri. Pengembangan industri pertahanan juga melibatkan perusahaan swasta dan perusahaan berbasis pengetahuan.
Menurut Talaei-Nik, pembatasan dan sanksi menjadi pendorong bagi Iran untuk mengurangi ketergantungan terhadap produk persenjataan dari luar negeri. Kondisi tersebut dinilai turut mempercepat perkembangan industri pertahanan domestik.
Pengalaman dari konflik sebelumnya juga disebut menjadi bagian dari proses pengembangan kemampuan militer Iran. Pemerintah Iran menilai penggunaan dan pengujian persenjataan dalam kondisi perang memberikan masukan langsung bagi pengembangan sistem pertahanan.
Mayor Jenderal Ahmad Vahidi, Panglima Korps Pengawal Revolusi Islam (IRGC), mengatakan Iran akan terus memperkuat kemampuan pertahanan dan ofensifnya. Pengembangan tersebut dipandang sebagai langkah menghadapi tekanan dan ancaman terhadap Iran.
Juru bicara IRGC Hossein Mohebbi juga menyatakan Iran berfokus meningkatkan presisi dan jangkauan persenjataan. Pengembangan itu diarahkan agar persenjataan Iran memiliki kemampuan yang berbeda dibandingkan sebelumnya jika konflik kembali terjadi.
Di tengah upaya tersebut, terdapat laporan mengenai peningkatan kerja sama militer Iran dan Rusia. Rusia disebut mulai mengirim bahan peledak, amunisi, dan komponen drone ke Iran melalui Laut Kaspia sejak 2026.
Baca Juga: Menlu Iran Balas Ancaman Ekonomi Trump: Kebijakan Gagal, AS Akan Kalah
Kerja sama tersebut juga disebut mencakup dukungan informasi intelijen dan teknologi drone untuk mendukung kemampuan militer Iran.
Sementara itu, laporan media Israel menyebut Iran masih mampu mempertahankan dan meningkatkan produksi rudal balistik. Jumlah rudal balistik Iran disebut mencapai sekitar 2.500 unit pada awal 2026, naik dari sekitar 1.300 unit pada Juni 2025.
Klaim tersebut menunjukkan upaya Iran mempertahankan kapasitas industri pertahanannya meski fasilitas militernya menghadapi serangan udara Israel dan Amerika Serikat. Pemerintah Iran menilai kemampuan mempertahankan produksi persenjataan menjadi bagian penting dari strategi menghadapi kemungkinan konflik lanjutan.
Mau Berita Terbaru Lainnya dari Warta Ekonomi? Yuk Follow Kami di Google News dengan Klik Simbol Bintang.
Penulis: Amry Nur Hidayat
Editor: Amry Nur Hidayat