Defisit Transaksi Berjalan RI Melebar Jadi US$3,6 Miliar di Kuartal II
Jum'at, 21 Agustus 2026, 12:20 WIB
Warta Ekonomi, Jakarta -
Bank Indonesia (BI) mencatat defisit transaksi berjalan pada triwulan II 2026 mencapai sebesar 12,5 miliar dolar AS atau setara dengan 3,3% dari Produk Domestik Bruto (PDB). Posisi ini melebar dibandingkan dengan defisit pada triwulan sebelumnya sebesar 3,6 miliar dolar AS (1,0% dari PDB).
Kepala Departemen Komunikasi BI, Ramdan Denny Prakoso, mengatakan transaksi berjalan mencatat defisit yang lebih tinggi dipengaruhi oleh beberapa faktor yang diprakirakan temporer. Defisit neraca perdagangan migas meningkat akibat kenaikan impor minyak sejalan tingginya harga minyak dunia.
Surplus neraca perdagangan nonmigas juga tercatat lebih rendah dipengaruhi oleh peningkatan impor nonmigas untuk kebutuhan kegiatan ekonomi dalam negeri yang masih tinggi.
Selain itu, defisit neraca pendapatan primer meningkat sejalan dengan pembayaran pendapatan primer sedangkan surplus neraca pendapatan sekunder relatif stabil dibandingkan capaian pada triwulan I 2026.
"Dengan kondisi tersebut, defisit transaksi berjalan pada triwulan II 2026 tercatat sebesar 12,5 miliar dolar AS (3,3% dari PDB)," kata dia dalam pernyataannya, Jumat (21/8/2026).
Di sisi lain, BI mencatat transaksi modal dan finansial surplus didukung oleh peningkatan aliran masuk investasi langsung dan investasi portofolio sehingga dapat menopang NPI. Investasi langsung mencatat surplus yang lebih tinggi dibandingkan dengan surplus pada triwulan sebelumnya dipengaruhi oleh terjaganya persepsi positif investor terhadap prospek perekonomian dan iklim investasi domestik.
Baca Juga: Penyaluran Kredit Citibank Indonesia Nyaris Sentuh Rp30 Triliun di Semester I 2026
Baca Juga: Jaga Kredibilitas Fiskal, Pemerintah Turunkan Target Defisit APBN 2027 ke 2,40% PDB
Investasi portofolio juga mencatat surplus yang meningkat seiring kenaikan imbal hasil instrumen keuangan domestik. Sementara itu, investasi lainnya mencatat defisit yang lebih rendah.
"Dengan perkembangan tersebut, transaksi modal dan finansial mencatat surplus sebesar 12,0 miliar dolar AS pada triwulan II 2026, setelah pada triwulan I 2026 mengalami defisit sebesar 4,8 miliar dolar AS," sebut dia.
Mau Berita Terbaru Lainnya dari Warta Ekonomi? Yuk Follow Kami di Google News dengan Klik Simbol Bintang.
Penulis: Dwi Aditya Putra
Editor: Dwi Aditya Putra