Dari Lumpur Bencana ke Etalase Digital, Harapan yang Kembali Mengembang - ANTARA News Aceh

Dari Lumpur Bencana ke Etalase Digital, Harapan yang Kembali Mengembang - ANTARA News Aceh

Aceh Timur (ANTARA) - Pukul lima subuh 26 November 2025, Siti Rahmiyati terbangun bukan oleh suara alarm, melainkan kepanikan. Air yang semula hanya menggenangi halaman rumah tiba-tiba masuk dengan cepat. Dalam...

Aceh Timur (ANTARA) - Pukul lima subuh 26 November 2025, Siti Rahmiyati terbangun bukan oleh suara alarm, melainkan kepanikan. Air yang semula hanya menggenangi halaman rumah tiba-tiba masuk dengan cepat. Dalam waktu singkat, ketinggiannya sudah mencapai sepinggang orang dewasa. Tak ada waktu untuk mengangkat perabot, menyelamatkan dokumen penting, apalagi memindahkan barang-barang berharga.

“Yang saya bawa waktu itu hanya baju yang melekat di badan. Saya dan anak yang digendong suami langsung keluar menyelamatkan diri. Mobil pun tidak sempat dikeluarkan,” kata Siti Rahmiyati di Aceh Timur, Minggu (14/6).

Bencana yang melanda Aceh Timur hari itu bukan hanya merendam rumahnya. Air bahkan mencapai setinggi plafon rumahnya. Lemari, tempat tidur, sofa, peralatan dapur, hingga berbagai perabot yang dikumpulkan bertahun-tahun rusak akibat terendam. Kerugian dari perabot rumah tangga diperkirakan mencapai sekitar Rp200 juta.

Baca juga: Pemkab Aceh Timur bangun kembali sekolah rusak diterjang banjir

Namun pukulan terberat datang dari usaha yang selama ini menjadi tumpuan ekonomi keluarganya. Malika Bakery, toko roti miliknya, ikut terendam banjir. Roti-roti yang telah diproduksi tak dapat dijual. Oven, rak penyimpanan, peralatan produksi, pendingin, hingga kulkas untuk menyimpan bahan baku rusak karena terendam air terlalu lama.

Kerugian dari usaha tersebut ditaksir mencapai lebih dari Rp300 juta. Belum termasuk kendaraan pribadinya yang ikut terendam banjir karena tak sempat diselamatkan. Dalam semalam, hasil kerja keras bertahun-tahun seperti lenyap begitu saja. Siti, ibu dari satu anak itu, terpaksa mengungsi. Hampir dua bulan lamanya ia tinggal di rumah orang tuanya. Di tengah ketidakpastian, ia berkali-kali bertanya pada dirinya sendiri, dari mana harus memulai lagi.

“Saya sempat bingung harus mulai dari mana. Semua seperti habis. Tapi saya berpikir, kalau saya menyerah, keluarga saya bagaimana. Anak kami harus tetap makan. Mau tidak mau kami harus bangkit,” ujar perempuan 27 tahun itu.

Apa yang dialami Siti juga dirasakan ribuan warga Aceh Timur lainnya. Berdasarkan data Pemerintah Kabupaten Aceh Timur melalui laporan tanggap darurat pascabencana banjir 2025, banjir yang melanda Aceh Timur pada 26 November 2025 merendam 18 kecamatan. Sebanyak 73.531 kepala keluarga atau sekitar 265.723 jiwa terdampak langsung akibat bencana tersebut. Selain kerugian materiil, banjir itu menyebabkan 57 orang meninggal dunia, 845 orang mengalami luka-luka, dan 1.815 warga menderita sakit pascabencana.

Kerusakan yang ditimbulkan pun sangat besar. Data Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) Aceh Timur mencatat 5.684 unit rumah mengalami rusak berat, 4.422 unit rusak sedang, dan 6.979 unit rusak ringan. Sebanyak 11.524 kepala keluarga atau 43.467 jiwa terpaksa mengungsi.

Aktivitas ekonomi masyarakat ikut lumpuh. Berdasarkan pendataan BPBD Aceh Timur, sedikitnya 24.500 pelaku UMKM, mulai dari pedagang kelontong, usaha kuliner, hingga sektor pertanian, terganggu akibat rusaknya tempat usaha, hilangnya barang dagangan, serta terputusnya akses ekonomi.

Halaman selanjutnya: tidak ingin berhenti

Editor : Febrianto Budi Anggoro

COPYRIGHT © ANTARA 2026

Dilarang keras mengambil konten, melakukan crawling atau pengindeksan otomatis untuk AI di situs web ini tanpa izin tertulis dari Kantor Berita ANTARA.