Cuaca Panas Mendidih Hantam RI, Pakar UGM Ungkap Dampak Mengerikan

Cuaca Panas Mendidih Hantam RI, Pakar UGM Ungkap Dampak Mengerikan

Jakarta, CNBC Indonesia - Indonesia dilanda panas ekstrem yang lama-lama bisa menjadi ancaman serius bagi kesehatan dan keselamatan masyarakat. Meski kenaikan suhu rata-rata di Indonesia hanya sekitar 0,5 deraj...

Jakarta, CNBC Indonesia - Indonesia dilanda panas ekstrem yang lama-lama bisa menjadi ancaman serius bagi kesehatan dan keselamatan masyarakat.

Meski kenaikan suhu rata-rata di Indonesia hanya sekitar 0,5 derajat Celsius dan terbilang kecil, dampaknya terhadap tubuh manusia dinilai sangat signifikan.

Kondisi iklim tropis yang lembap, ditambah peningkatan suhu akibat perubahan iklim, disebut semakin meningkatkan risiko stres akibat panas atau heat stress yang dapat berujung pada heat stroke atau serangan panas

Menanggapi kondisi tersebut, Dosen Departemen Perilaku Kesehatan, Lingkungan, dan Kedokteran Sosial FKKMK UGM, Aditya Lia Ramadona, menjelaskan bahwa heat stroke merupakan bentuk gangguan kesehatan paling berat akibat paparan panas.

Kondisi ini terjadi ketika tubuh tidak lagi mampu mengendalikan suhu sehingga mengganggu fungsi organ maupun otak. Gejalanya meliputi suhu tubuh yang sangat tinggi, kebingungan, bicara pelo, kejang, hingga kehilangan kesadaran. Jika tidak segera ditangani, kondisi tersebut dapat berujung pada kematian.

"Secara sederhana, ini terjadi ketika tubuh gagal mengendalikan suhu. Intinya, suhu tubuh naik cepat, mekanisme pendinginan seperti berkeringat tidak lagi efektif, lalu terjadi gangguan fungsi organ dan otak," kata Aditya dikutip dari laman resmi UGM, Selasa (14/7/2026).

Menurutnya, rendahnya kesadaran masyarakat terhadap heat stroke dipengaruhi oleh beberapa faktor. Salah satunya ialah anggapan bahwa cuaca panas merupakan hal yang wajar karena masyarakat Indonesia telah lama hidup di wilayah beriklim tropis.

Padahal, peningkatan suhu yang tampak kecil sekalipun dapat berdampak besar terhadap kesehatan. Ia mengungkapkan hasil penelitiannya yang menunjukkan bahwa kenaikan suhu rata-rata mingguan sebesar 1 derajat Celsius berkorelasi dengan peningkatan 15,5 persen kunjungan ibu dan anak ke layanan kesehatan primer.

"Riset-riset heat-health menunjukkan bahwa kenaikan suhu kecil saja dapat meningkatkan beban layanan kesehatan. Studi kami di Yogyakarta menemukan kenaikan 1°C suhu rata-rata mingguan berasosiasi dengan peningkatan 15,5% kunjungan ibu-anak di layanan primer," ungkapnya.

Selain itu, komunikasi kesehatan mengenai heat stroke juga dinilai masih belum berkembang. Masyarakat lebih akrab dengan istilah dehidrasi, kelelahan, atau pingsan akibat panas dibandingkan heat stroke. Akibatnya, gejala awal kondisi tersebut sering tidak dikenali sehingga penanganan terlambat dan risiko komplikasi menjadi lebih besar.

Aditya juga menekankan bahwa paparan panas tidak hanya terjadi saat seseorang beraktivitas di luar ruangan, tetapi juga dapat dialami di dalam rumah.

Rata-rata suhu di dalam rumah mencapai 31 derajat Celsius. Bahkan, setiap kenaikan selisih suhu indoor dan outdoor sebesar 1 derajat Celsius meningkatkan risiko heat stress pada lansia hingga sekitar 32 persen.

Untuk itu, Indonesia perlu segera memiliki sistem peringatan dini dan pedoman nasional mengenai panas ekstrem. Peningkatan suhu akibat perubahan iklim telah meningkatkan risiko berbagai gangguan kesehatan yang sebenarnya dapat diprediksi dan dicegah melalui kebijakan multisektor.

Bukti ilmiah dari berbagai daerah di Indonesia semakin memperlihatkan hubungan antara kenaikan suhu dengan peningkatan kunjungan layanan kesehatan, mulai dari layanan ibu dan anak, hipertensi, diabetes mellitus tipe 2, hingga gangguan kecemasan.

Ia menyimpulkan, masyarakat Indonesia memang perlu menyesuaikan kebiasaan terhadap panas ekstrem, tetapi perubahan itu hanya akan berhasil jika didukung oleh sistem, mulai dari aturan kerja, desain kota, rumah yang lebih adaptif terhadap iklim, layanan kesehatan yang siap, hingga komunikasi risiko yang jelas.

"Panas ekstrem bukan lagi sekadar cuaca yang tidak nyaman, melainkan sudah menjadi isu kesehatan masyarakat dan ketahanan sosial," tegasnya.

(fab/fab)

Add

as a preferred
source on Google

[Gambas:Video CNBC]