CORE: Ada 1 juta ton tetes tebu yang bisa dikembangkan jadi bioetanol
Jakarta (ANTARA) - Ekonom dari Center of Reform on Economics (CORE) Indonesia Eliza Mardian menyampaikan terdapat satu juta ton tetes tebu atau molase yang berpeluang untuk digunakan dalam pengembangan bioetanol.
โTotal produksi molase nasional sekitar 1,9 juta ton per tahun. Yang baru keserap itu 900 ribu ton, masih ada 1 juta ton lagi. Ini berpeluang dipakai,โ ujar Eliza ketika dihubungi ANTARA dari Jakarta, Minggu.
Akan tetapi, lanjut dia, pasokan tetes tebu kebanyakan berasal dari luar Pulau Jawa, sedangkan pengolahannya berlokasi di Pulau Jawa. Permasalahan tersebut menimbulkan biaya logistik dalam prosesnya.
Lebih lanjut, Eliza juga menyoroti kemampuan nasional dalam memproduksi fuel grade ethanol (FGE) atau etanol dengan kadar di atas 99 persen yang layak dicampur dengan bahan bakar minyak (BBM).
โRealitas produksi domestik itu cuma sekitar 26 ribu kiloliter (KL) per tahun yang berasal dari tiga perusahaan utama di Lampung, DIY, dan Solo,โ kata Eliza.
Total kapasitas terpasang seluruh pabrik etanol nasional itu mencapai 303 ribu KL dengan utilitas aktual berkisar di angka 172 ribu KL.
โSebagian besar masih dialokasikan untuk keperluan industri non-BBM seperti kosmetik, farmasi, pangan,โ kata Eliza.
Ia menilai kondisi tersebut mencerminkan keterbatasan suplai bahan baku dan infrastruktur industri yang belum siap mendukung skala mandatori campuran dalam waktu dekat.
Oleh karena itu, untuk menerapkan kebijakan bioetanol E5 hingga E20 di skala nasional, Eliza menegaskan pentingnya investasi masif dalam rantai pasok dan infrastruktur bioetanol dalam beberapa tahun ke depan.
โKeberhasilan implementasi E5, E10, bahkan E20 nanti ini sangat bergantung pada skenario kebijakan untuk meningkatkan produktivitas tebu, serta mandatori campuran ditegakkan dengan kepastian offtaker oleh Pertamina,โ kata Eliza.
Dengan demikian, ketimpangan kemampuan produksi FGE dengan kebutuhan untuk pengembangan bioetanol bisa ditutup secara bertahap tanpa harus bergantung kepada impor etanol.
Menteri Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM) Bahlil Lahadalia mengatakan pemerintah menargetkan penerapan campuran etanol 10 persen dalam bahan bakar minyak (E10) mulai 2027 sebagai tahap awal sebelum beralih ke E20.
Ia mengatakan pemerintah telah mengkaji kebijakan mandatori etanol sejak 2025. Saat ini, kajian tersebut hampir rampung dan menjadi dasar penyusunan peta jalan penerapan E20 yang ditargetkan berlangsung secara bertahap hingga 2028โ2029.
Menurut Bahlil, kebijakan pencampuran etanol ke dalam bensin bertujuan mengurangi ketergantungan Indonesia terhadap impor bahan bakar minyak, khususnya bensin.
Pewarta: Putu Indah Savitri
Editor: Virna P Setyorini
Copyright ยฉ ANTARA 2026
Dilarang keras mengambil konten, melakukan crawling atau pengindeksan otomatis untuk AI di situs web ini tanpa izin tertulis dari Kantor Berita ANTARA.