BTN Sebut Dana SAL Perkuat Likuiditas Perbankan |Republika Online
Direktur Utama PT Bank Tabungan Negara (Persero) Tbk Nixon LP Napitupulu memberikan paparan kinerja Perseroan Semester I/2026 di Jakarta, Kamis (16/7/2026). BTN membukukan laba bersih konsolidasi sebesar Rp2,40 triliun, meningkat 40,8 persen secara tahunan (year-on-year/yoy) dari Rp1,70 triliun pada Semester I/2025. Pada saat yang sama, kualitas aset BTN juga semakin membaik dengan penurunan rasio Non-Performing Loan (NPL) dari 3,30 persen pada Semester I/2025 menjadi 2,99 persen pada Semester I/2026.
REPUBLIKA.CO.ID,Β JAKARTA -- PT Bank Tabungan Negara (Persero) Tbk (BTN) menyebut penempatan dana Saldo Anggaran Lebih (SAL) oleh pemerintah membantu menjaga likuiditas perbankan di tengah ketatnya kondisi pendanaan. Dukungan tersebut juga mendorong pertumbuhan kredit BTN hingga dua digit pada semester I 2026.
Direktur Utama BTN Nixon LP Napitupulu mengatakan hingga akhir Juni 2026 dana SAL yang ditempatkan di BTN mencapai sekitar Rp 38 triliun. Seluruh dana tersebut dimanfaatkan untuk mendukung penyaluran kredit sesuai arahan pemerintah.
"Terakhir posisinya Rp 38 triliun. Kita memang menggunakan semua untuk kredit bank sesuai arahan awal bahwa ini membantu pertumbuhan kredit," ujar Nixon dalam konferensi pers paparan kinerja semester I 2026 di Jakarta, Kamis (16/7/2026).
Menurut Nixon, dana tersebut disalurkan ke berbagai segmen pembiayaan, mulai dari kredit pemilikan rumah (KPR), kredit komersial, konstruksi, hingga pembiayaan kepada sejumlah badan usaha milik negara (BUMN), termasuk Bulog.
Ia mengatakan penempatan dana SAL ikut menopang pertumbuhan kredit BTN yang mencapai 11,2 persen pada semester I 2026. Angka tersebut meningkat dibandingkan dengan pertumbuhan kredit sekitar 6 persen pada periode yang sama tahun sebelumnya.
Meski demikian, Nixon mengingatkan pengaturan waktu penempatan maupun penarikan dana SAL perlu dikoordinasikan dengan baik agar tidak memicu tekanan likuiditas di industri perbankan.
Menurut dia, likuiditas sempat mengetat ketika penarikan dana SAL berlangsung bersamaan dengan kenaikan BI Rate, meningkatnya imbal hasil Sekuritas Rupiah Bank Indonesia (SRBI), serta penerbitan instrumen lain yang juga menyerap dana di pasar.
"Yang paling penting sebenarnya soal timing. Kalau semua bersamaan menarik likuiditas, bank pasti berat. Itu yang sempat memicu persaingan suku bunga deposito," katanya.
Nixon mengatakan kondisi tersebut mulai membaik setelah pemerintah kembali menempatkan dana SAL pada akhir Juni. BTN bahkan memperoleh tambahan dana sekitar Rp 13 triliun dari penempatan kembali tersebut.
Meski sebagian dana SAL dijadwalkan kembali ditarik pada September, Nixon berharap proses tersebut dilakukan secara bertahap agar tidak kembali menekan likuiditas perbankan. "Sekarang yang bagus adalah jadwalnya sudah jelas, jadi kami bisa mempersiapkan likuiditasnya," ujarnya.