BSI (BRIS) Siap Luncurkan Pembiayaan Keberlanjutan, Perdana dari Bank Syariah - Korporasi Katadata.co.id
PT Bank Syariah Indonesia Tbk atau BSI (BRIS) akan meluncurkan sustainability-linked financing (SLF) senilai Rp 1,5 triliun bulan depan. Ini menjadi pembiayaan terkait keberlanjutan perdana dari lingkup bank syariah.
Wakil Direktur Utama BSI, Bob Tyasika Ananta menjelaskan, SLF itu adalah refinancing atau pembiayaan ulang untuk proyek jalan tol di Denpasar, Bali.
“Tolnya sudah ada, tapi Jasa Marga [PT Jasa Marga (Persero) Tbk/JSMR] ingin refinance, tapi refinance-nya yang green, yang berkelanjutan karena di SLF ada sedikit insentifnya,” kata Bob, saat ditemui Katadata di Bursa Efek Indonesia (BEI), pada Kamis (23/7).
SLF adalah jenis instrumen pembiayaan yang mengaitkan insentif atau penyesuaian pembiayaan dengan pencapaian target kinerja keberlanjutan atau ESG (environmental social and governance) penerimanya. BSI pun menetapkan kriteria keberlanjutan yang harus dicapai debitur untuk mendapat insentif.
“Let’s say, dengan margin 6,95%. Tapi kemudian kami pastikan bahwa selama setahun (debitur) tanam 15 ribu mangrove, selama satu tahun pakai pembangkit listrik tenaga solar, dan terbukti, saya kasih diskon 0,02%,” ujar Bob.
Menurutnya, instrumen tersebut belum berkembang luas karena insentif yang masih rendah. "Diskon" dari bank yang relatif kecil itu, kata Bob, bisa ditingkatkan bila bank juga mendapatkan dukungan pendanaan. “Kalau saya dapat green funding, saya akan make it more commercial dan memberikan insentif pada pelaku usaha untuk memperhatikan ESG," tuturnya.
Di samping itu, kesadaran pelaku usaha untuk mengadopsi prinsip-prinsip keberlanjutan dalam operasional bisnisnya juga dinilai masih rendah. Penerapan ESG sering kali dipandang sebagai biaya tambahan, alih-alih investasi untuk menciptakan nilai jangka panjang.
Padahal, Kepala Departemen Pengawasan Lembaga Efek Otoritas Jasa Keuangan (OJK), Edi Broto Suwarno menjelaskan, ESG erat pengaruhnya dengan daya saing perusahaan. Baik investor, kreditur, maupun pemangku kepentingan, semakin mempertimbangkan bagaimana perusahaan mengelola risiko lingkungan, menjalankan tanggung jawab sosial, dan menerapkan tata kelola yang baik.
“Perusahaan yang mampu mengintegrasikan ESG dalam strategi bisnisnya akan memperoleh berbagai manfaat yang jauh lebih besar,” ucap Edi.
Menyambung perihal manfaat, Edi mengatakan bahwa perusahaan yang menerapkan prinsip ESG akan memiliki kemampuan kelola risiko yang lebih baik, meningkatkan efisiensi operasional, dan memperkuat reputasi perusahaan.
“Juga memperluas akses terhadap pembiayaan, menarik investor jangka panjang, hingga meningkatkan kepercayaan seluruh pemangku kepentingan,” ujarnya.