BI Ungkap Strategi Jaga Stabilitas Sekaligus Genjot Pertumbuhan |Republika Online
REPUBLIKA.CO.ID, PARAPAT – Pejabat Gubernur Sementara (PGS) Bank Indonesia (BI) Destry Damayanti menegaskan bank sentral tidak hanya berfokus menjaga stabilitas nilai tukar rupiah dan inflasi, tetapi juga tetap memberikan perhatian terhadap pertumbuhan ekonomi. Dukungan terhadap pertumbuhan dilakukan melalui bauran kebijakan makroprudensial, sistem pembayaran, serta penguatan pembiayaan ke sektor riil.
Destry mengatakan, di tengah ketidakpastian global yang masih tinggi akibat sikap hawkish bank sentral Amerika Serikat (The Fed) dan potensi era higher for longer, BI tetap menempatkan stabilitas sebagai prioritas. Namun, kebijakan tersebut berjalan beriringan dengan upaya menjaga momentum pertumbuhan ekonomi.
"Apakah terus Bank Indonesia tidak concern dengan pertumbuhan? Salah. Kami tetap concern dengan pertumbuhan, tetapi kami menggunakan kebijakan makroprudensial dan juga kebijakan sistem pembayaran untuk mendorong pertumbuhan ekonomi," kata Destry saat memberikan sambutan secara daring dalam kegiatan Editors Briefing di Parapat, Sumatera Utara, Jumat (31/7).
Menurut Destry, BI mempertahankan BI Rate di level 5,75 persen untuk menjaga stabilitas nilai tukar rupiah dan mengantisipasi tekanan inflasi di tengah ketidakpastian global. Di sisi lain, bank sentral mengoptimalkan instrumen lain agar sektor riil tetap memperoleh dukungan pembiayaan.
Salah satu langkah yang ditempuh adalah memberikan insentif likuiditas berupa pengurangan giro wajib minimum (GWM) kepada perbankan yang menyalurkan kredit ke sektor prioritas, termasuk usaha mikro, kecil, dan menengah (UMKM).
Selain itu, BI juga menyiapkan kebijakan likuiditas makroprudensial untuk memperkuat fungsi intermediasi perbankan. Kebijakan tersebut diarahkan agar bank lebih banyak menyalurkan kredit ke sektor riil dibandingkan menempatkan dana pada surat berharga.
"Yang kami harapkan, bank harus kembali kepada fungsi awalnya sebagai lembaga intermediasi antara sektor keuangan dan sektor riil, yaitu menyalurkan kredit," kata Destry.
Destry menambahkan, setelah pengunduran diri Gubernur BI Perry Warjiyo, arah kebijakan bank sentral tetap tidak berubah. BI akan tetap memprioritaskan stabilitas nilai tukar rupiah dan inflasi, sekaligus mengoptimalkan instrumen makroprudensial, sistem pembayaran, pengembangan UMKM, ekonomi syariah, dan ekonomi hijau untuk menopang pertumbuhan ekonomi.
Menurut Destry, BI juga akan terus memperkuat sinergi dengan Kementerian Keuangan, Otoritas Jasa Keuangan (OJK), Lembaga Penjamin Simpanan (LPS), serta Komite Stabilitas Sistem Keuangan (KSSK) guna menjaga stabilitas sistem keuangan dan mendukung penyaluran kredit.
Di bidang pengendalian inflasi, BI bersama pemerintah terus memperkuat Gerakan Pengendalian Inflasi Pangan Strategis (GPIPS), yang merupakan transformasi Gerakan Nasional Pengendalian Inflasi Pangan (GNPIP). Program tersebut difokuskan pada peningkatan produktivitas, penguatan distribusi pangan, serta pengembangan kemitraan untuk menjaga stabilitas harga sekaligus mendukung ketahanan pangan nasional.