Banjir Bandang berlalu, Penyintas Tapsel kini menadahkan kardus di pinggir jalan - ANTARA News Sumatera Utara
Tapanuli Selatan (ANTARA) - Kardus bekas itu diangkat setinggi dada. Di baliknya, sepasang tangan perempuan menunggu uluran tangan dari orang-orang yang melintas.
Satu kendaraan lewat. Kemudian kendaraan berikutnya. Sesekali ada yang memperlambat laju, membuka kaca dan menyelipkan sejumlah uang ke dalam kardus yang ditadahkan.
Pemandangan itu terlihat di pinggir jalan dekat jembatan Desa Garoga, Kecamatan Batangtoru, Kabupaten Tapanuli Selatan, Sumatera Utara.
Di jalur yang menghubungkan Kota Padangsidimpuan dengan Sibolga tersebut, sejumlah ibu berdiri berjam-jam mengharap pemberian dari pengguna jalan.
Mereka adalah penyintas banjir bandang yang menerjang kawasan Batangtoru pada 25 November 2025.
Banjir itu telah lama surut. Tetapi kehidupan mereka belum kembali seperti sebelum bencana.
Sebelum air bah datang, sebagian dari mereka menggantungkan hidup pada sawah dan kebun.Setiap hari mereka bekerja, menanam, merawat dan menunggu panen.
Sawah adalah tempat mencari makan, kebun adalah sumber penghasilan, sekaligus tumpuan untuk membesarkan keluarga.
Kini, banyak lahan itu berubah menjadi hamparan lumpur. Arus banjir membawa pasir, batu dan batang-batang kayu, lalu menumpahkannya ke lahan pertanian.
Sebagian sawah terkikis, sebagian lainnya tertimbun material dengan ketebalan yang membuatnya sulit kembali ditanami.
Yang tersisa adalah kebutuhan hidup yang tidak ikut hanyut.Anak-anak tetap harus makan. Kebutuhan rumah tangga tetap datang. Biaya sekolah tidak berhenti.
Sementara pekerjaan yang selama ini menjadi sandaran sudah hilang.
Kepala Desa Garoga Risman Rambe mengaku prihatin melihat keadaan warganya.
"Saya juga miris. Mau bilang apa lagi, sawah dan kebun sudah tidak bisa digarap atau belum produktif lagi. Mata pencarian mereka sudah hilang. Sementara mereka dan keluarga ingin hidup," katanya.
Sebagian warga, kata dia, mencoba bertahan dengan pekerjaan serabutan. Apa pun dikerjakan selama ada yang dapat menghasilkan uang.
Namun, pekerjaan serabutan bukanlah kepastian. Hari ini mungkin ada pekerjaan, besok belum tentu. Dalam situasi seperti itulah sebagian penyintas memilih berdiri di tepi jalan, menadahkan kardus.
Bukan karena mereka tidak mau bekerja. Tetapi karena sumber kehidupan yang selama ini mereka miliki belum kembali.
Data BPP Batangtoru menunjukkan sedikitnya 185 hektare areal persawahan terdampak banjir bandang. Kerusakan itu tersebar di sejumlah wilayah, antara lain Desa Garoga, Pulau Godang (Telo), Aek Ngadol, Sumuran, Hapesong Baru dan Wek I Batangtoru.
Koordinator BPP (Balai Penyuluh Pertanian) Batangtoru Eri Syahruddin mengatakan material lumpur yang menimbun lahan persawahan memiliki ketebalan antara 80 hingga 150 sentimeter.
"Ketebalan lumpur antara 80 sentimeter hingga 150 sentimeter sehingga menyulitkan pola tanam padi," ujarnya.
Menurutnya, sebagian petani masih berusaha mencari celah. Di lahan yang memungkinkan, mereka menanam jagung, kacang-kacangan dan tanaman lainnya.
Sebagian lainnya meninggalkan sementara sawah dan mencari pekerjaan serabutan demi menyambung hidup.
Namun bagi mereka yang berdiri di tepi jalan, perjuangan itu memiliki wajah yang lebih getir.
Setiap kardus yang terangkat adalah pengakuan bahwa hidup telah berubah.
Dari tangan yang dahulu memegang cangkul menjadi tangan yang kini menunggu pemberian. Dari menunggu musim panen menjadi menunggu kendaraan berhenti.
Mereka telah melewati malam ketika air bah datang dengan kekuatan yang menghancurkan. Mereka selamat ketika banjir membawa lumpur, kayu dan bebatuan, bahkan menelan korban jiwa.
Tetapi setelah air surut, datang perjuangan yang lain. Perjuangan untuk makan. Perjuangan untuk kembali bekerja. Dan perjuangan untuk mendapatkan kembali kehidupan yang hilang bersama sawah dan kebun mereka.
Bagi pengguna jalan yang melintas di Garoga, pemandangan itu mungkin hanya terlihat beberapa detik dari balik kaca kendaraan. Kardus terangkat, uang berpindah tangan, kendaraan kembali melaju.
Namun bagi para penyintas, beberapa detik itu adalah bagian dari perjuangan hidup yang berlangsung setiap hari. Banjir bandang 25 November 2025 telah berlalu.
Tetapi bagi mereka yang kehilangan sumber penghidupan, bencana itu belum selesai.
Sebab air memang telah surut dari jalan dan permukiman. Namun hingga kini, sebagian penyintas masih berjuang mengangkat hidupnya kembali -- dari pinggir jalan, dengan sebuah kardus di tangan.
Pewarta: Kodir Pohan
Editor : Juraidi
COPYRIGHT © ANTARA 2026
Dilarang keras mengambil konten, melakukan crawling atau pengindeksan otomatis untuk AI di situs web ini tanpa izin tertulis dari Kantor Berita ANTARA.