Asosiasi Kontraktor Bakal Bersurat ke Menteri PU, Efek Kenaikan Harga Material
Bagikan:
JAKARTA - Asosiasi Kontraktor Indonesia (AKI) mengungkap, rencana menyurati Menteri Pekerjaan Umum (PU) guna mendorong penerbitan diskresi penyesuaian harga proyek di tengah lonjakan harga material utama dan BBM industri yang menjadi bottleneck sektor konstruksi.
Wakil Ketua Umum Bidang Kerja Sama Antar Anggota AKI sekaligus Direktur Operasi I PT Waskita Karya (Persero) Tbk (WSKT) Ari Asmoko mengatakan, lonjakan harga bahan baku seperti aspal dan bahan bakar minyak (BBM) industri saat ini telah menekan struktur biaya operasional pengerjaan berbagai proyek infrastruktur di lapangan.
Oleh karena itu, kata Ari, pemerintah selaku pemilik proyek diharapkan dapat segera merespons tantangan tersebut.
"Kami mau kolaborasi dulu dengan teman-teman, ini harus bareng-bareng disuarakan ke Kementerian (PU). Karena kalau sendiri-sendiri itu menurut saya kurang efektif, kami dorong untuk dapat tetapkan diskresi," kata Ari saat ditemui wartawan dalam Coffee Morning bertajuk "Merumuskan Nilai Eskalasi Harga Konstruksi Versi AKI" di Jakarta, Selasa, 4 Agustus.
Guna memperkuat argumentasi usulan eskalasi harga, AKI mengaku tengah menghimpun data indeks kenaikan harga material dominan yang dirilis oleh Badan Pusat Statistik (BPS) pada pekan ini.
Data historis kenaikan harga dari BPS tersebut nantinya akan dilampirkan dalam surat resmi kepada Kementerian PU dan para pemilik (owner) proyek sebagai bukti validitas beban finansial yang ditanggung kontraktor.
"Lalu, nanti kami kirim ke Kementerian (PU) atau lainnya selaku owner proyek terkait apa yang sedang kami alami. Kemudian perlu juga koordinasi dengan BPKP agar standing-nya sama, barulah di akhir kami koordinasi dengan Kejaksaan agar smooth," ucap dia.
"Kami mengupayakan agar ada kebijakan tertentu, ya, meskipun itu tidak secara keseluruhan bisa membantu. Tapi, intinya sedikit pun, ya, nggak masalah," pungkasnya.
BACA JUGA:
Berdasarkan data AKI, selama periode 28 Februari hingga 1 Juli 2026, nilai tukar rupiah mengalami pelemahan sebesar 7,82 persen dari level terkuat Rp16.677 per dolar menjadi Rp17.964 per dolar AS. Sementara itu, harga minyak dunia meningkat hingga 37,41 persen dari 52,10 dolar AS per barel ke level 71,57 dolar AS per barel.
Akibatnya, harga solar industri dalam negeri naik signifikan hingga 41,52 persen ke level Rp23.050 per liter. Padahal, BBM merupakan komponen modal paling utama pada sektor konstruksi.
Kondisi tersebut menyebabkan hampir seluruh komponen biaya pelaksanaan proyek mengalami kenaikan secara bersamaan. Contohnya, komponen material utama seperti besi beton juga dilaporkan naik 27,78 persen, aspal naik 23,85 persen dan ready-mix turut naik 9,77 persen.
Add VOI as a Preferred Source
Follow VOI news updates across Google.
+