Asia Terbelah: Rupiah Perkasa, Ringgi, Yen - Dolar Singapura Ambles

Asia Terbelah: Rupiah Perkasa, Ringgi, Yen - Dolar Singapura Ambles

Elvan Widyatama,  CNBC Indonesia 31 July 2026 10:10 Jakarta, CNBC Indonesia - Mata uang Asia bergerak cenderung melemah ...

Elvan Widyatama,  CNBC Indonesia

31 July 2026 10:10

Jakarta, CNBC Indonesia - Mata uang Asia bergerak cenderung melemah terhadap dolar Amerika Serikat (AS) pada perdagangan Jumat (31/7/2026). Menariknya, rupiah justru mampu menguat saat sebagian besar mata uang kawasan masuk zona merah.

Merujuk data Refinitiv per pukul 09.18 WIB, sebanyak enam mata uang Asia terpantau melemah terhadap greenback. Sementara empat nilai tukar berhasil menguat.

Rupiah masuk dalam deretan mata uang Asia yang menguat pagi ini, dengan penguatan 0,14% ke posisi Rp18.050/US$. 

Namun, penguatan terbesar pagi ini dicatatkan oleh peso Filipina yang terapresiasi 0,21% ke posisi PHP 61,337/US$. Dong Vietnam juga menguat 0,10% ke VND 26.254/US$, disusul yuan China yang naik 0,09% ke CNY 6,7487/US$.

Di sisi lain, yen Jepang menjadi mata uang dengan pelemahan terdalam di Asia. Yen melemah 0,66% ke posisi JPY 160,57/US$, berbalik dari penguatan tajam 2,37% di penutupan perdagangan sebelumnya. 

Won Korea Selatan juga tertekan cukup dalam, yakni sebesar 0,63% ke KRW 1.432/US$.

Ringgit Malaysia ikut melemah 0,25%, sementara dolar Singapura turun 0,23%. Dolar Taiwan terkoreksi 0,13%, sedangkan baht Thailand melemah tipis 0,03%. 

Pelemahan mayoritas mata uang Asia hari ini terjadi di tengah dinamika dolar AS yang berbalik menguat pada perdagangan pagi. Indeks dolar AS atau DXY terpantau naik 0,30% ke posisi 100,171.

Kenaikan DXY terjadi setelah pada perdagangan sebelumnya dolar AS ditutup melemah tajam 1,01% hingga turun ke bawah level 100, tepatnya di 99,9. Dengan demikian, pergerakan pagi ini lebih mencerminkan upaya pemulihan dolar AS setelah tertekan cukup dalam sehari sebelumnya.

Dolar AS sebelumnya melemah secara luas setelah The Federal Reserve/The Fed mempertahankan suku bunga acuannya. Keputusan itu memunculkan pertanyaan pasar mengenai seberapa kuat komitmen bank sentral AS dalam membawa inflasi kembali ke target 2%.

The Fed mempertahankan suku bunga di kisaran 3,50%-3,75%. Namun, keputusan tersebut tidak sepenuhnya bulat karena tiga dari 12 anggota Federal Open Market Committee (FOMC) memilih kenaikan suku bunga 25 basis poin pada rapat tersebut.

"Sejauh ini, keputusan ini sangat negatif bagi dolar, tetapi dalam rapat sebelumnya, reaksi pertama bisa saja keliru," ujar Juan Perez, director of trading Monex USA, dikutip dari Reuters.

Tekanan terhadap dolar AS juga datang dari penguatan yen Jepang setelah muncul spekulasi intervensi mata uang oleh otoritas Jepang. Adanya potensi intervensi Tokyo ikut mendorong yen dan menekan dolar AS setelah keputusan The Fed.

Namun, tekanan terhadap dolar AS belum sepenuhnya menghapus peluang penguatan lanjutan. Sebastien Mc Mahon, chief economist iA Financial Group, menilai pasar obligasi AS memberi sinyal bahwa The Fed dinilai tertinggal dalam mengendalikan inflasi.

"Pasar sudah melakukan sebagian pengetatan yang tidak mau dilakukan The Fed," ujar Mc Mahon, dikutip dari Reuters.

Kondisi ini membuat arah dolar AS masih belum sepenuhnya jelas. Di satu sisi, keputusan The Fed menahan suku bunga sempat menekan greenback. Namun di sisi lain, perbedaan pandangan di internal The Fed dan kekhawatiran inflasi membuat peluang pengetatan kebijakan belum benar-benar tertutup.

CNBC INDONESIA RESEARCH 

[email protected]

(evw/evw)