Asia Bergerak Campur Aduk: Won Melonjak, Rupiah Justru Tumbang

Asia Bergerak Campur Aduk: Won Melonjak, Rupiah Justru Tumbang

Elvan Widyatama,  CNBC Indonesia

22 September 2026 10:04

Jakarta, CNBC Indonesia - Mata uang asia kembali bergerak beragam dalam melawan pergerakan dolar Amerika Serikat (AS) pada perdagangan Selasa (22/9/2026). 

Melansir data Refinitiv, pada pukul 09.38 WIB, sebanyak enam dari 10 mata uang Asia berhasil menguat dari greenback. Sementara dua mata uang harus melemah dan dua sisanya bergerak stagnan. 

Won Korea Selatan menjadi mata uang dengan penguatan paling tajam di Asia pagi ini. Won melonjak 1,01% ke posisi KRW 1.360,76/US$.

Dolar Taiwan menyusul dengan penguatan 0,09%. Peso Filipina juga naik 0,07%, disusul dolar Singapura yang menguat 0,05%. Dong Vietnam dan ringgit Malaysia sama-sama menguat tipis 0,02%. Sementara yuan China dan baht Thailand bergerak stagnan terhadap dolar AS.

Di sisi lain, rupiah menjadi mata uang dengan tekanan paling dalam di Asia pagi ini. Mata uang Garuda melemah 0,34% ke posisi Rp17.885/US$.

Yen Jepang juga masih berada di zona merah dengan pelemahan 0,06%.

Pelemahan yen terjadi di tengah pasar Jepang yang libur, sehingga pergerakan cenderung lebih terbatas namun tetap dibayangi risiko intervensi dari otoritas Jepang.

Pergerakan pada mata uang Asia di pagi hari ini, masih sangat dipengaruhi oleh faktor eksternal, khususnya dinamika dolar AS di pasar global. 

Pada waktu yang sama, indeks dolar AS (DXY) terpantau melemah tipis 0,03% ke posisi 100,395. Berbalik dari penguatan 0,21% di penutupan perdagangan Senin kemarin.  

Kondisi ini menunjukkan dolar AS masih relatif kuat setelah pekan lalu mendapat dorongan dari kenaikan suku bunga The Fed dan sinyal bahwa pengetatan lanjutan masih terbuka.

Dikutip dari Reuters, yen masih menjadi salah satu fokus utama pasar. Mata uang Jepang kembali berada di bawah tekanan karena pelaku pasar menilai Bank of Japan (BOJ) masih kesulitan mengejar sikap hawkish bank sentral global lainnya.

BOJ memang sudah menaikkan suku bunga pada Jumat pekan lalu ke level tertinggi dalam 31 tahun. Namun, keputusan tersebut belum cukup kuat mengangkat yen karena terdapat dua suara berbeda yang bernada dovish dan tidak ada panduan yang benar-benar tegas soal kenaikan suku bunga berikutnya.

Kondisi tersebut berbeda dengan The Fed yang juga menaikkan suku bunga pekan lalu dan memberi sinyal bahwa kenaikan tambahan masih mungkin dilakukan. Perbedaan arah ini membuat selisih suku bunga AS dan Jepang tetap lebar.

"Jika BOJ tidak mengetatkan kebijakan lebih cepat daripada The Fed, selisih suku bunga AS-Jepang sekitar 275 basis poin akan terus mendukung transaksi carry trade berbasis yen," ujar Carlos Casanova, senior Asia economist Union Bancaire Privée, dikutip dari Reuters.

Pasar saat ini memperkirakan peluang sekitar 30% bahwa BOJ akan menaikkan suku bunga jangka pendek ke 1,5% pada Oktober. Di sisi lain, peluang The Fed menaikkan suku bunga sebesar 25 basis poin pada pertemuan berikutnya berada di kisaran 55%.

Ekspektasi tersebut membuat dolar AS masih mendapat penopang, meski pada pagi ini DXY bergerak melemah tipis. Tekanan terhadap yen juga belum sepenuhnya mereda karena selisih imbal hasil masih lebih menguntungkan dolar AS.

CNBC INDONESIA RESEARCH 

[email protected]

(evw)