AS Diam-Diam "Interogasi" Anggota NATO, Loyalitas Sekutu Trump Diuji
Jakarta, CNBC Indonesia - Pentagon dilaporkan menguji sejauh mana loyalitas politik negara-negara sekutu NATO terhadap agenda Presiden Amerika Serikat (AS) Donald Trump. Hal itu terungkap dalam kuesioner yang dibagikan kepada sejumlah negara anggota aliansi.
Dokumen tiga halaman berjudul Questions for NATO Allies & Other Key Stakeholders tersebut memuat sejumlah pertanyaan mengenai keselarasan sekutu dengan kebijakan Washington. Salah satunya menanyakan apakah negara anggota telah "mendukung secara publik prioritas kebijakan luar negeri AS".
Kuesioner itu juga mempertanyakan apakah masing-masing negara menunjukkan keselarasan dengan pendekatan AS yang disebut "kuat, jelas, dan tenang". Ini merujuk frasa yang digunakan Menteri Pertahanan AS Pete Hegseth dalam pidatonya di Dialog Shangri-La, forum pertahanan dunia, pada Mei lalu.
Dokumen tersebut diyakini digunakan untuk memandu komunikasi antara pejabat AS dan mitra NATO dalam tinjauan Pentagon selama enam bulan terhadap keberadaan pasukan Amerika di Eropa. Bloomberg sebelumnya melaporkan sebagian isi kuesioner, sementara dokumen lengkapnya diperoleh Al Jazeera dari seorang pejabat yang menerimanya.
Salah satu pertanyaan paling sensitif berkaitan dengan akses militer AS. Pentagon menanyakan apakah negara-negara sekutu membatasi akses AS terhadap pangkalan serta penerbangan militer, dan apakah mereka bersedia "mengurangi atau menghilangkan" pembatasan tersebut.
Sejumlah negara Eropa menerapkan pembatasan setelah perang AS-Israel terhadap Iran pecah pada 28 Februari. Seorang pejabat pertahanan senior dari salah satu negara anggota NATO menilai langkah Pentagon menunjukkan adanya pencampuran antara urusan aliansi dan operasi militer AS di luar kawasan.
"Pemerintahan ini telah membingungkan topik NATO dengan operasi militer sepihak AS. Kuesioner ini juga mencerminkan kebingungan ini. NATO tidak ada hubungannya dengan Timur Tengah," kata pejabat tersebut kepada Al Jazeera dengan syarat anonim, dikutip Jumat (21/8/2026).
Kuesioner juga menyinggung konsep "NATO 3.0" pemerintahan Trump yang mendorong negara-negara Eropa mengambil porsi lebih besar dalam pertahanan mereka dengan dukungan AS yang lebih terbatas. Mantan Wakil Asisten Menteri Pertahanan AS Jim Townsend mengatakan isu loyalitas memang kerap muncul dalam hubungan Washington dengan sekutunya.
"Kami tahu bahwa pemerintahan ini sangat peduli dengan kesetiaan, baik itu rakyat mereka sendiri maupun sekutu, khususnya," ujarnya.
Semenjak Trump menjadi Presiden AS, sebenarnya ada beberapa ketegangan antara NATO dan dirinya. Khusus Iran, banyak negara Eropa melihat konflik ini tidak otomatis menjadi perang NATO dan lebih memilih "diplomasi, gencatan senjata, dan de-eskalasi" daripada kekerasan militer.
(luc/sef)
[Gambas:Video CNBC]