ARF: Golkar Apresiasi Kebijakan Bahlil Impor BBM yang Optimal |Republika Online

ARF: Golkar Apresiasi Kebijakan Bahlil Impor BBM yang Optimal |Republika Online

Politisi Golkar Abdul Rahman Farisi.

REPUBLIKA.CO.ID, JAKARTA — Sekretaris Bidang Kebijakan Ekonomi DPP Partai Golkar, Abdul Rahman Farisi, mengapresiasi arahan Menteri ESDM sekaligus Ketua Umum Partai Golkar, Bahlil Lahadalia, yang menegaskan bahwa pengadaan impor minyak mentah dan BBM wajib mengacu pada asas keekonomian, kepastian pasokan, serta mencari opsi terbaik dan termurah.

Menurut Abdul Rahman, sikap tegas Menteri ESDM merupakan pengejawantahan nyata atas tata kelola keuangan negara yang akuntabel.

Di tengah volatilitas harga minyak mentah dunia dan fluktuasi nilai tukar, belanja komoditas energi harus dihitung secara presisi agar tidak membebani kas negara.

“Prinsip dasar penggunaan uang negara menuntut efisiensi optimal pada persilangan antara kualitas dan harga. Pak Ketum Golkar, Bahlil Lahadalia, menjalankan prinsip tersebut secara konsisten dalam eksekusi kebijakan belanja energi,” kata Abdul Rahman di Jakarta, Minggu (27/10).

Pria yang akrab disapa ARF ini menekankan bahwa narasi politik dalam pengadaan komoditas strategis harus senantiasa diuji lewat parameter kuantitatif yang ketat.

Abdul Rahman membeberkan bahwa urgensi kebijakan ini didasari kondisi riil neraca energi nasional.

Urgensi efisiensi pengadaan energi tidak terlepas dari tingginya ketergantungan Indonesia terhadap impor minyak dan BBM.

Berdasarkan keterangan Kementerian ESDM pada April 2026, konsumsi BBM nasional mencapai sekitar 1,6 juta barel per hari, sementara produksi minyak domestik berada di kisaran 600 ribu barel per hari.

Indonesia masih membutuhkan impor sekitar satu juta barel per hari untuk memenuhi kebutuhan energi nasional.

Sementara itu, data Badan Pusat Statistik (BPS) menunjukkan nilai impor migas Indonesia sepanjang Januari hingga Juli 2026 mencapai sekitar USD 25,77 miliar.

Besarnya kebutuhan devisa tersebut menunjukkan pentingnya efisiensi pengadaan energi, terutama di tengah fluktuasi harga minyak dunia dan nilai tukar rupiah.

sumber : Antara