APMI dukung reaktivasi sumur idle untuk dongkrak produksi migas
Jakarta (ANTARA) - Ketua Umum Asosiasi Perusahaan Pemboran Minyak, Gas, dan Panas Bumi Indonesia (APMI) Suprijonggo Santoso mendukung reaktivasi sumur idle atau sumur yang tidak aktif untuk mendongkrak produksi minyak dan gas bumi (migas) nasional.
“Upaya SKK Migas melakukan reaktivasi sumur idle dan lapangan idle patut didukung. Faktanya, di Indonesia ada belasan ribu sumur tua yang idle yang dapat mendongkrak produksi migas,” ujar Suprijonggo dalam keterangannya yang diterima di Jakarta, Sabtu.
SKK Migas mencatat pada akhir 2025 terdapat lebih dari 17 ribu sumur minyak dan gas di Indonesia berstatus idle atau ditutup sementara (shut-in).
Sebagian besar berada di lapangan-lapangan tua (brown field) wilayah Jawa, Sumatera, dan Kalimantan. Banyak di antaranya masih memiliki cadangan recoverable yang ekonomis jika dapat diaktifkan kembali dengan biaya yang jauh lebih rendah daripada pengeboran sumur baru.
Namun, mayoritas sumur idle berada di lokasi yang sulit dijangkau oleh rig konvensional besar.
Karenanya, APMI menggagas perangkat pemboran yang sesuai dengan karakteristik geografis, infrastruktur, dan kebutuhan nasional. Salah satunya dengan menggunakan Sinergy Lean Innovative Modular Rig (SLIM Rig).
"Dengan SLIM Rig, ribuan idle well yang selama ini 'tertidur' dapat dihidupkan kembali dengan efisien dan biaya yang terjangkau," ucapnya.
Dengan demikian, diharapkan dapat mendukung kemandirian industri pemboran nasional, serta dapat mengurangi ketergantungan impor, menekan biaya operasional, memberikan dampak ekonomi yang lebih besar bagi industri dalam negeri, terutama mampu menumbuhkan kebanggaan dan percaya diri rakyat Indonesia bahwa kita pun mampu berkiprah dalam dunia industri pemboran migas dan panas bumi.
Pada bagian lain, pelaku usaha pabrikasi Ir. Doddy Suherman mengatakan, banyak alat-alat pengeboran minyak yang digunakan di Indonesia sudah ketinggalan jaman.
"Alat-alat yang digunakan masih dari era 80-an. Sementara dunia lain sudah menggunakan alat yang lebih canggih," tuturnya.
Menurutnya, perlu dilakukan eksplorasi dengan menyesuaikan dengan kondisi geografis Indonesia, di mana banyak gunung, hutan, dan laut.
"Saya bersama tim sudah coba membuat RIG pengeboran modural sederhana," urainya.
Baca juga: SKK Migas: Sumur MNK di Rokan produksi 500 barel minyak per hari
Baca juga: Bupati: Pengelolaan sumur minyak tua dongkrak PAD dan perekonomian
Baca juga: Pertamina catat produksi sumur pengembangan LLA-6 sebesar 1.321 BOPD
Pewarta: Putu Indah Savitri
Editor: Faisal Yunianto
Copyright © ANTARA 2026
Dilarang keras mengambil konten, melakukan crawling atau pengindeksan otomatis untuk AI di situs web ini tanpa izin tertulis dari Kantor Berita ANTARA.